Galakkan Debat untuk Raih “Seabrek” Manfaat

Sudah beberapa semester belakangan ini mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI semakin sering melakukan kegiatan debat dalam bahasa Inggris. Salah satu puncak aktivitas debat dilakukan pada hari Kamis 11 Agustus 2016. Di sebuah ruang kelas yang lumayan luas dua tim sedang melakukan perdebatan dihadapan tiga juri dan puluhan penonton. Di beberapa ruang kelas lainnya beberapa tim terlihat sedang menyusun strategi sambil menunggu tim mereka tampil di arena debat.

Bapak Hendrikus Male, M.Hum., salah satu dosen yang biasa memangku mata kuliah Integrated English Skills, yang hadir di ruangan lokasi perdebatan, menjelaskan, “Debat adalah salah satu aktivitas yang digunakan dalam pembelajaran English Skills, khususnya Speaking! Karena sudah terbiasa digunakan di kelas, setelah mahasiswa di Semester III, sebagian besar dari mereka menjadikan debat sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Agar lebih terarah, kegiatan debat kemudian diorganisir oleh Pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris menjadi sebuah lomba tahunan. Yang sekarang berlangsung merupakan tahapan final antar kelompok-kelompok debat yang dibentuk para mahasiswa.”

debat-1

Perdebatan yang sedang berlangsung terlihat seru. Kedua tim mengajukan berbagai argumen, fakta, bahkan hasil-hasil penelitian untuk memperkuat pernyataan masing-masing dan sekaligus mematahkan pernyataan tim lawan. Bapak Hendrikus Male, yang akrab dipanggil dengan nama “Pak Hendri” menambahkan bahwa yang digunakan di prodi ini adalah sistem debat Asian Parliamentary (AP). Dalam sistem ini terdapat dua tim yang berhadapan. Masing-masing tim terdiri dati tiga anggota. Tim pertama berperan sebagai pihak pemerintah (pro), yang bertugas mendefinisikan, mendukung dan mempertahankan mosi. Pihak yang lain berperan sebagai pihak oposisi (kontra).  Penilaian biasanya didasarkan pada 3 kriteria, yakni substansi (matterdebat dan bukti-bukti serta argument yang diberikan, sikap (manner, sebagaimana terlihat melalui gaya penyampaian pidato, keahlian persuasi, dan tindakan peserta) dan respon, yang mencakup espon yang dinamik dari debat dan kesesuaian dari prinsip-prinsip debat.

Agnes, mahasiswa Semester 8, yang pada saat itu diminta menjadi salah satu juri, pada saat istirahat mengatakan, “Pada awalnya saya tidak menyukai aktivitas debat. Dulu saya menganggap berdebat berarti berlomba keras kepala dan mencari-cari kesalahan pihak lain. Setelah belajar dan mempraktikkan debat yang benar, saya mengalami sendiri betapa effektifnya debat sebagai aktivitas pembelajaran. Ketika berdebat, kita dituntut untuk menganalisis masalah yang diperdebatkan, mengupayakan argumen yang mendukung posisi kita (sebagai pihak pro atau kontra), lengkap dengan bukti-bukti pendukung, dan mesti mengkomunikasikannya secara persuasif untuk meyakinkan dewan juri maupun audiens.

debat-2

Arnol, mahasiswa semester 4, mengatakan, “Kegiatan debat membuat Gue lebih pede. Dulu Gue paling takut disuruh ngomong di depan umum. Tapi setelah ikutan kegiatan debat dua semester, Gue kagak pernah lagi grogi mengungkapkan pendapat di depan banyak orang.”

Berbagai manfaat  aktivitas debat itu dikonfirmasi oleh Bapak Parlindungan Pardede, salah seorang dosen senior di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI, ketika dimintai tanggapannya tentang aktivitas debat.

“Saya sangat mendukung penyelenggaraan lomba debat seperti itu. Secara sadar atau tidak, debat membantu pengembangan berbagai keterampilan dan sikap dalam diri mahasiswa. Keterampilan berkomunikasi lisan maupun tulisan, kemahiran berpikir kritis, keterampilan mengorganisasikan ide dan mengungungkapkannya secara sistematis, dan meningkatkan kepercayaan diri berbicara di depan umum adalah sebagian dari manfaat aktivitas debat. Di suatu debat, mumngkin saja kita berada di pihak pro. Di perdebatan lain, bisa saja kita menjadi pihak kontra. Praktik memainkan peran berbeda-beda ini melatih kita memahami sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal ini akan membantu pengembangan kreativitas. Yang tak kalah pentingnya, aktivitas debat meningkatkan kemampuan berkolaborasi atau teamwork,” Dosen yang biasa disapa Pak Parlin ini menjelaskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.