Scribo ergo sum (Aku menulis, maka aku ada)

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Judul esai ini mungkin mengingatkan Anda kepada Rene Descartes. Judul itu memang saya adopsi dari cogito ergo sum, ungkapan terkenal dari filsuf Prancis yang hidup pada Abad ke-17 tersebut. Melalui ungkapan yang bermakna “I think, therefore I exist” atau “I think, therefore I am” (Aku berpikir, maka aku ada) tersebut, kelihatannya Descartes igin menekankan pentingnya aktivitas berpikir, karena kesadaran, pemahaman, dan pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui aktivitas berpikir. Bagi Descartes, hanya orang yang berpikir yang bisa menyadari bahwa dia ada (eksis). Sebaliknya, orang yang tidak berpikir tidak pernah sadar bahwa dia eksis. Dengan menggantikan kata cogito menjadi scribo (menulis) pada judul esai ini, saya ingin memperlihatkan keterkaitan dan sinergitas antara menulis dan berpikir. Kedua aktivitas itu sinegetik karena menulis pada hakikatnya merupakan salah satu sarana dan sekaligus proses berpikir.

Sebagian orang memandang menulis sebagai aktivitas menyampaikan pesan, gagasan, atau perasaan melalui simbol tertulis. Meskipun tidak salah, pandangan ini sebenarnya terlalu menyederhanakan hakikat menulis. Ketika saya menuliskan gagasan tentang esensi scribo (menulis) yang setara dengan esensi cogito (berpikir) ke dalam esai ini, saya harus menggali, mengingat, mengumpulkan, mengorganisasikan, menyeleksi, menghubungkan dan mengevaluasi berbagai informasi di dalam pikiran saya, yang kemudian saya kreasikan menjadi tulisan ini. Semua aktivitas tersebut berlangsung di dalam pikiran saya, dan semuanya adalah aktivitas berpikir (bukan sebuah kebetulan semua aktivitas berpkir itu senada dengan taksonomi Bloom). Terbukti, bukan, bahwa menulis adalah proses berpikir?

Jika menulis adalah berpikir, bagaimana dengan manusia purba yang belum memiliki budaya baca-tulis? Apakah mereka tidak pernah berpikir? Seperti dinyatakan sebelumnya, menulis merupakan salah satu (bukan satu-satunya) sarana dan sekaligus proses berpikir. Jadi meskipun tidak memiliki bahasa tulis, manusia purba tentu saja berpikir. Namun, di sinilah esensi menulis kedua, yakni menulis merupakan sarana atau cara berpkir yang paling efektif.  Lynn Hunt (2010), seorang ahli sejarah menegaskan, “… writing is not the transcription of thoughts already consciously present in my mind. Writing is a magical and mysterious process that makes it possible to think differently.” Pandangan ini menegaskan  bahwa menulis bukan hanya sekedar mengungkapkan gagasan yang sebelumnya telah ada di dalam pikiran. Menulis juga merupakan proses magis dan misterius yang memungkinkan penulis mencari/menggali informasi dan mengkonstruksinya menjadi gagasan baru atau berbeda.

Dalam konteks orang purba, ketiadaan tulisan sebagai sarana dan cara berpikir membuat proses dan kemampuan berpikir mereka sangat terbatas. Ketiadaan tulisan itu, paling tidak, membuat mereka tidak memiliki rekaman dari pemikiran yang telah dilakukan sebelumnya. Akibatnya mereka selalu berpikir tentang sesuatu dari titik awal. Selain itu, mereka tidak bisa berpikir abstrak. Agar bisa berpkir, obyek yang dipikirkan harus ada di hadapan mereka. Jadi, jika mereka ingin berpikir (mempelajari) kuda, hewan itu harus ada di depan mereka secara fisik.

Lalu, apa implikasi dari paradigma bahwa menulis adalah berpikir? Pertama, kemmampuan menulis mencerminkan kemampuan menulis, dan sebaliknya. Seseorang yang terlatih berpikir sistematis, logis dan analisits, secara otomatis mampu menulis secara runtut dan mudah dipahami. Hal ini mengindikasikan bahwa orang yang menulis acak-acakan dan sulit dipahami adalah orang yang belum dapat berpikir secara sistematis dan logis. Kedua, karena berpikir dan menulis merupakan keterampilan yang saling terkait erat dan bersinergi, jika Anda mengembangkan kemampuan berpikir maka Anda juga mengembangkan kemampuan menulis, dan sebaliknya. Jadi, semakin tekun Anda berlatih agar dapat menulis dengan baik, pikiran Anda juga akan tertata semakin baik. Dan, sesuai dengan judul esai ini, semakin produktif Anda menulis, bearti semakin banyak pula Anda berpkir. Dengan demikian, tak satupun orang lain yang meragukan eksistensi Anda. Tu scribis: tu es ergo ibi (Anda menulis, maka Anda eksis!). [31 Oktober 2018]

Referensi:

Hunt, L. (2010). “How Writing Leads to Thinking (And Not the Other Way Around)” The Art of History, Perspectives.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.