Membeningkan Gagasan dan Meluaskan Pemikiran dengan Metafora

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Pendahuluan

Apa yang anda tangkap dari, “Dunia adalah panggung sandiwara”? Pernyataan populer ini merupakan contoh metafora, yang lazim dikenal sebagai majas, atau bahasa figuratif (kiasan). Dalam “Dunia adalah panggung sandiwara”, makna konsep ‘dunia’ menjadi lebih ‘bening’ (jelas) bagi pembaca karena kepadanya ditransfer fitur “panggung sebagai tempat mementaskan sandiwara”. Saking efektifntya peran metafora membantu pembaca atau pendengar memahami sebuah konsep asing, majas ini diterima sarana linguistik yang sangat kuat. Esai ini memaparkan kekuatan metafora sebagai sarana linguistik dan sarana bepikir. Untuk memberikan landasan pembahasan sehingga paparan lebih mudah dipahami, pada bagian awal disajikan hakikat metafora. Setelah itu, dihadirkan metafora “Winter is coming” sebagai sebuah contoh kekuatan metafora. Pembahasan kemudian berfokus pada esensi metafora sebagai sarana bahasa dan sarana berpikir.

Hakikat Metafora

Secara etimologis, terminologi metafora dibentuk melalui perpaduan dua kata Yunani—“meta” (diatas) dan “pherein” (mengalihkan/memindahkan). Dengan demikian, metafora adalah pengalihan citra, makna, atau kualitas sebuah ungkapan kepada suatu ungkapan lain. Pengalihan itu dilakukan dengan cara merujuk suatu konsep kepada suatu konsep lain untuk mengisyaratkan kesamaan, analogi atau hubungan kedua konsep tersebut. Metafora “Dunia adalah panggung sandiwara” mengindikasikan bahwa meskipun ‘dunia’ dan ‘panggung’, merupakan dua konsep yang tidak berhubungan, keduanya adalah analog. Dalam metafora ini, makna “panggung” yang sudah dipahami (konkrit) dipindahkan kepada “dunia” yang masih asing (abstrak) agar konsep “dunia” lebih dipahami.

Metafora “Winter is coming”

Salah satu bukti dari kekuatan metafora adalah ‘kehebohan’ yang timbul setelah Presiden Jokowi menggunakan metafora yang menganalogikan perseturuan antar negara di dunia dengan Serial Game of Thrones dalam pidatonya di sidang paripurna Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank Group (WBG) 2018 di Bali. Game of Thrones mengungkapkan pertarungan antara kubu Houses melawan kubu Families untuk mengambil alih kendali The Iron Throne. Tatkala para kedua kubu sibuk bertarung, mereka tidak menyadari ancaman besar yang datang dari utara, yakni Evil Winter, yang berniat menghancurkan dengan es. Dalam orasi ilmiahnya pada Dies Natalis ke-65 Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa bahwa perang dagang antarnegara besar dan kecil dapat dianalogikan dengan Game of Thrones. Menurut Jokowi, perang tidak pernah membawa kesejahteraan. Pihak yang kalah porak-poranda, sedangkan pihak yang menang juga tidak bahagia karena kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran tidak bermakna sama sekali. Singkatnya, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Metafora ini begitu berkesan bagi banyak kalangan hingga Presiden Jokowi tidak hanya diberi “standing ovation” di akhir pidatonya. Beliau juga menjadi buah bibir berbagai kalangan dalam aras nasional dan internasional. Bahkan, HBO Asia, stasiun televisi Amerika yang merilis serial Game of Thrones, memajang meme Presiden Jokowi dalam laman resmi Twitter mereka, @HBOAsia, dengan dengan caption besar ‘Bersiaplah, Musim Dingin akan Datang’.

Metafora Sebagai Sarana Linguistik

Cendikiawan pertama yang menggeluti metafora secara serius adalah Aristoteles, yang hidup pada Abad ke-4 Masehi. Filsuf Yunani ini mengajukan batasan metafora yang identik dengan definisi etimologis di atas. Menurut dia, metafora merupakan bahasa figuratif yang digunakan untuk memperluas makna sebuah konsep yang masih asing dengan cara membandingkannya dengan suatu konsep lain yang sudah dipahami. Melalui perbandingan itu terjadi pemindahan makna dari konsep yang sudah dipahami kepada konsep yang masih asing. Definisi ini dirumuskan: “A adalah B dalam konteks X, Y, Z …” Dalam metafora “Dunia adalah panggung sandiwara”, “dunia” merupakan konsep yang masih asing atau abstrak (elemen A) yang diberi perluasan makna dengan cara membandingkannya dengan “panggung” yang lebih konkrit atau sudah dipahami (elemen B). melalui perbandingan itu, fitur atau karakteristik “panggung” sebagai tempat aktor dan aktris berlakon (elemen X, Y, Z …) dipindahkan kepada “dunia”.

Dalam komunikasi, metafora bisa muncul dalam konteks nomina (berfungsi sebagai subjek atau objek kalimat), verba, kalimat atau wacana. Dalam “Lembah itu mulai ditumbuhi oleh pencakar langit”, verba “ditumbuhi” merupakan metafora, sedangkan unsur kalimat lainnya hanya mengungkapkan makna harfiah (literal). Verba “ditumbuhi” biasanya mengacu kepada perkembangbiakan tumbuhan, namun dalam ungkapan ini verba tersebut digunakan untuk menggambarkan pembangunan “pencakar langit”. Nomina “pencakar langit” juga merupakan metafora yang mengacu pada gedung-gedung yang dibangun begitu tinggi hingga terkesan ‘mencakar langit’. Ungkapan “Fajar kemerdekaan akan mengusir kelam derita” merupakan contoh metafora dalam wujud kalimat. Dalam ungkapan ini, makna figuratif terdapat pada seluruh kalimat, tidak terbatas hanya pada nomina atau prediket saja. Contoh metafora dalam wujud wacana adalah analogi perseturuan antar negara di dunia dengan Serial Game of Thrones yang disampaikan oleh Presiden Jokowi. Metafora itu dibahas pada bagian berikut.

Uraian di atas memperlihatkan bahwa sebuah metafora dibentuk dengan membandingkan dua konsep (benda, ide, aktivitas) yang tidak berhubungan atau tidak sejenis. Konsep yang konsep yang dibicarakan agar lebih dipahami dinamai topik atau vehicle. Konsep yang sudah dipahami disebut dengan istilah citra atau tenor. Sedangkan makna atau kualitas yang dipindahkan atau yang memperlihatkan persamaan antara topik dan citra disebut “titik kesamaan” atau ground. Dalam “Dunia adalah panggung sandiwara”, topik “dunia” yang secara esensial berbeda dengan citra “panggung” dibandingkan untuk memperoleh titik kesamaan berupa karakteristik “panggung” sebagai tempat aktor dan aktris berlakon. Dalam  “Lembah itu mulai ditumbuhi oleh pencakar langit”, verba “ditumbuhi” membandingkan topik “pembangunan gedung” dengan citra “perkembangan tumbuhan”. Metafora tidak bisa dibentuk dengan membandingkan dua konsep yang sejenis. Sebagai contoh, “Tono adalah Tomi” bukan metafora, karena yang dibandingkan sama-sama manusia. “Tono adalah singa” adalah metafora, karena yang dibandingkan adalah dua hal berbeda.

Selain itu, komponen pembangun metafora tidak selalu disebutkan secara eksplisit. Adakalanya, salah satu dari ketiga bagian itu (topik, sebagian dari citra, atau titik kemiripan) dinyatakan secara implisit. Dalam “Dunia adalah panggung sandiwara”, topik “dunia” dan citra “panggung” sama sama hadir secara eksplisit. Sedangkan dalam “Lembah itu mulai ditumbuhi oleh pencakar langit”, topik “pembangunan gedung” tidak dihadirkan secara eksplisit. Konsep ini teridentifikasi secara implisit melalui kata “pencakar langit”. Metafora implisit tentu saja lebih rumit untuk dipahami karena pembaca atau pendengar perlu memberikan upaya ekstra untuk mengidentifikasi elemen yang tidak hadir secara eksplisit itu.

Faktor lain yang bisa memperumit upaya memahami sebuah metafora adalah budaya. Karena metafora diungkapkan melalui bahasa, sedangkan bahasa adalah salah satu produk budaya, metafora tertentu bisa saja sarat dengan muatan budaya tertentu. Ungkapan “Time flies” yang sangat kental dengan budaya Eropa dan Amerika atau “Time runs” dari Rusia bisa menyulitkan audiens Indonesia yang terbiasa dengan metafora “Waktu berjalan”. Contoh lain, “They fight for a precious bite of the big apple” akan sulit dipahami jika tidak dilandaskan pada pengetahuan bahwa “big apple” mengacu pada kota New York yang pada tahun 1920-an menawarkan banyak peluang untuk mendapatkan uang berlimpah kepada kaum migran dari berbagai penjuru dunia.

Sejak Abad ke-4 ketika Arsitoteles memelopori kajian metafora hingga pertengahan Abad ke-20, penekanan terhadap fungsi metafora sebagai sarana linguistik yang digunakan untuk memperluas makna sebuah konsep yang masih asing dan untuk memperindah ungkapan-ungkapan karya sastra atau pidato cenderung tidak berubah. Akibatnya, metafora digunakan secara intensif hanya dalam karya-karya sastra. Setelah metafora tertentu begitu biasa digunakan hingga terkesan hanya sebagai idiom biasa, barulah ungkapan ungkapan itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Metafora seperti ini digolongkan sebagai metafora mati, atau ungkapan yang eksistensinya sebagai metafora hampir tidak disadari oleh penutur karena begitu terbiasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Contoh metafora mati adalah: “kaki meja”, “mulut sungai”, “kepala negara”, “puncak karir” atau “muka tembok”. Metafora mati juga banyak digunakan dalam ilmu pengetahuan, seperti: “landasan teori”, “cabang ilmu”, “bonus demografi”, “bahan mentah”, “efek rumah kaca” dan “kenaikan harga”.

Berbeda dengan metafora mati yang sudah lama digunakan sehingga kesan metaforisnya tidak begitu menonjol, kesan metaforis metafora hidup terasa sangat kental setelah perbandingan antar dua hal dalam ungkapan tersebut dipahami dengan baik. Selain untuk menjelaskan sesuatu yang kurang dikenal dengan membandingkannya kepada sesuatu yang sudah dipahami, metafora hidup sering digunakan untuk menarik minat pembaca atau pendengar. Ungkapan yang dicetak miring dalam kalimat berikut merupakan contoh metafora hidup: “Banyak partai politik saat ini hanya berfungsi sebagai perahu bagi pemimpinnya untuk memuaskan syahwat politik menjadi presiden.”

Metafora Sebagai Sarana Bepikir

Pandangan bahwa metafora hanya berfungsi sebagai media stilistik dan retoris untuk memperindah ungkapan-ungkapan karya sastra berubah setelah Lakoff dan Johnson, pada tahun 1980 mempublikasikan gagasan mereka tentang metafora kognitif yang menekankan: (1) metafora tidak hanya digunakan dalam karya sastra tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, dan (2) esensi metafora bukan sebagai ekspresi linguistik tetapi sebagai sarana berpikir. Bagi pendukung teori kongnitif, metafora linguistik hanyalah manifestasi permukaan dari fenomena yang jauh lebih penting metafora konseptual yang digunakan untuk mengkonseptualkan realita.

Secara singkat, metafora konseptual yang digunakan untuk memahami suatu ranah konseptual dengan cara mengaitkannya dengan suatu ranah konseptual lain dirumuskan (dengan hurup kapital) sebagai berikut: RANAH KONSEPTUAL A ADALAH RANAH KONSEPTUAL B. Rumusan metafora kognitif ini sangat membantu untuk membuat metafora. Sebagai contoh, dari konsep ARGUMEN dapat dibentuk metafora konseptual “ARGUMEN ADALAH PERANG”. Dalam konteks ini pemahaman tentang “perang” digunakan untuk memahami “argumen”. Dari metafora konseptual itu dapat dibentuk berbagai metafora linguistik, seperti “Dia menyerang argumentasiku”, “Dia berusaha mempertahankan argumennya”, dan “Dia selalu menang berargumentasi”.Contoh lain, dari konsep WAKTU dapat dibuat metafora konseptual WAKTU ADALAH UANG. Dari metafora konseptual ini dapat dibentuk berbagai metafora linguistik, seperti: “Mesin itu menghemat waktu yang cukup banyak baginya”, “Jangan habiskan waktumu dengan sia-sia”, “Dia sudah menginvestasikan banyak waktu bagi temannya”, “Dia kehilangan banyak waktu karena sakit”.

Sebagai sarana berpikir, metafora menawarkan tiga manfaat. Pertama, metafora membantu kita membuat konsep yang kompleks mudah dipahami. Berbagai penjelasan dan contoh di bagian sebelumnya telah menjelaskan manfaat ini. Kedua, metafora memfasilitasi pemerolehan pandangan atau ide baru. Sebagai contoh, “Semantik merupakan cabang Lingusitik” ternyata dibentuk melalui perbandingan hirarki bidang ilmu dengan pohon. Pemahaman ini tentu saja bisa digunakan untuk membentuk metafora dengan landasan yang sama, misalnya, “kantor cabang”, “kantor ranting”, dan sebagainya. Ketiga, metafora memicu atau memunculkan pemikiran atau emosi yang sebelumnya mungkin tidak teridentifikasi. Sebagai contoh, melalui perbandingan organisasi keluarga dengan negara, berbagai metafora dapat dibentuk, misalnya: “Negara adalah keluarga”, “Diskusi di meja makan merupakan sidang parlemen”, “Ayah adalah presiden” dan sebagainya.

 Penutup

Sejak kehadiran teori metafora kognitif, kajian dan praktik penggunaan metafora terus meningkat. Saat ini, metafora telah menjadi kajian berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, psikologi, linguistik, komunikasi dan sosiologi. Metafora juga tidak lagi digunakan secara eksklusif dalam karya sastra. Hampir semua bidang kehidupan, termasuk keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik menggunakannya. Metafora memang tidak hanya sarana linguistik yang bermanfaat untuk mempercantik ungkapan dan membeningkan (memperjelas) makna tetapi juga  sarana berpikir yang perkasa untuk membantu mengembangkan pemikiran. Oleh sebab itu, tiba saatnya bagi kita untuk mulai menggunakan metafora.

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.