Mengatasi “Writers’ Block”

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Ketika akan mulai menulis (esai, makalah, artikel, skripsi, dan sebagainya), pernahkah pikiran Anda tiba-tiba dipenuhi oleh banyak hal lain yang terasa mendesak untuk dikerjakan? Meskipun Anda sudah berrencana untuk mulai menulis, namun, secara ajaib, timbul keinginan untuk makan atau minum lebih dahulu, merapikan meja kerja, atau memeriksa WhatsAp dan mengirim pesan kepada teman. Akibatnya? Rencana untuk mulai menulis tertunda! Jika Anda pernah mengalami hal seperti ini, Anda tidak sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai writers’ block, sebuah hambatan psikologis yang menghalangi seseorang mulai menulis yang bisa terjadi kepada siapapun, termasuk penulis professional. Jika seorang penulis hanya duduk membisu sambil menatap kedipan kursor di monitor laptop-nya, dia sedang diserang writer’s block. Saya sendiri mengalaminya ketika  akan mulai menulis esai ini. Ketika akan menyalakan laptop, terbersit hasrat untuk lebih dahulu mendapatkan secangkir kopi. Untunglah saya sadar keinginan ini sebenarnya didorong oleh motif untuk menunda aktivitas menulis. Kesadaran ini membantu saya tetap meraih laptop dan mulai mengetik kerangka tulisan. Seandainya saya menuruti keinginan untuk lebih dahulu minum kopi, pasti penulisan esei ini tertunda. Akibatnya, esei ini mungkin saja belum saya selesaikan. Jika Anda dijangkiti writers’ block, ingatlah pesan Louis L’Amour, novelis produktif Amerika: “Mulailah menulis, dan jangan risaukan apa yang Anda tulis. Air tidak akan mengalir sebelum keran dibuka.” Esei ini memaparkan lima strategi untuk mengatasi writers’ block.

Strategi pertama untuk mengatasi writers’ block adalah membuat jadual penulisan dan tenggat waktu penyelesaiannya. Tentukan berapa hari Anda perlukan dan pada hari apa saja Anda akan menulis untuk menyelesaikan sebuah makalah. Patuhi jadual tersebut dengan cara duduk, nyalakan laptop, dan mulailah menulis. Jangan mau digoda oleh hal lain. Tidak perlu khawatir dengan kualitas draf yang Anda tulis, karena semua kekurangan toh akan direvisi kemudian. Selain itu, ingatlah bahwa memulai menulis sebuah proyek tidak harus dilakukan secara linier–mulai dari bagian awal (judul, alinea pertama atau bagian pengantar) dan selanjutnya ke bagian tengah dan akhir. Anda bisa memulai dari bagian mana saja. Jika Anda merasa buntu untuk memulai dari alinea pertama, pilih bagian lain dari proyek tersebut yang menurut Anda lebih mudah ditulis. Jodi Picoult, novelis  terkenal dari Amerika menegaskan, “Kapanpun Anda dapat mengedit halaman (tulisan) yang jelek, tapi Anda tidak pernah bisa mengedit halaman yang kosong.” Dengan kata lain, untuk menghasilkan karya tulis, mulailah menulis. Kegiatan menulis biasanya menjadi lebih mudah dan menyenangkan setelah kalimat-kalimat atau alinea pertama terwujud.

Strategi kedua, apresiasi kemajuan yang Anda raih. Rancang tugas menulis ke dalam beberapa tahapan atau bagian yang dapat dicapai. Penulisan sebuah esai yang direncanakan terdiri dari enam alinea, misalnya, dapat dibagi ke dalam tujuh  sasaran: (1) pembuatan kerangka tulisan; (2) penulisan alinea pengantar; (3) penulisan dua alinea isi pertama; (4) penulisan dua alinea isi kedua; (5) penulisan alinea kesimpulan dan referensi, (6) revisi pertama, dan (7) revisi terakhir. Setiap menyelesaikan satu sasaran, beri diri Anda hadiah, seperti meminum secangkir kopi, beristirahat beberapa menit, atau memainkan sebuah lagu sambil memetk gitar. Ketika Anda mengapresiasi diri sendiri setelah mencapai kemajuan tertentu, Anda menyuntikkan semangat baru untuk menyelesaikan proyek menulis yang sedang Anda kerjakan.

Strategi ketiga, temukan tempat menulis yang menginspirasi. Jika saat ini Anda sering menemukan kendala untuk memulai dan melanjutkan tugas menulis, mungkin sudah saatnya Anda memindahkan meja kerja Anda ke tempat yang lebih menyenangkan dan memungkinkan ide ide Anda mengalir ke dalam tulisan. Mengganti suasana di tempat Anda menulis seringkali tidak membutuhkan biaya atau energi ekstra. Mungkin saja Anda hanya perlu meletakkan meja tulis dekat jendela sehingga Anda bisa memandang pepohonan di luar rumah. Atau, Anda bisa menyiapkan musik untuk didengar selama menulis. Namun musik yang dimainkan perlu diseleksi dengan baik. Gunakanlah musik instrumental yang menyenangkan dan cukup akrab bagi Anda agar musik tersebut membantu  meningkatkan asosiasi psikologis dan memampukan Anda mengaitkan aktivitas menulis dengan kesenangan. Mendengarkan musik dengan syair lagu, apalagi yang diselingi oleh pembicaraan, seperti siaran radio, tidak direkomendasikan. Musik seperti itu dapat mengalihkan perhatian Anda. Namun ketergantungan terhadap musik untuk menulis juga harus dicegah, apalagi jika Anda seorang siswa atau mahasiswa. Masalahnya adalah, Anda mungkin akan mengalami kesulitan menulis ketika Anda menulis dalam konteks ujian.

Terapkan manajemen waktu yang baik dan prinsip divide at impera ketika Anda dituntut menyelesaikan tulisan yang panjang seperti artikel ilmiah atau laporan penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Pecahlah tugas penulisan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola. Mencicil aktivitas yang dibagi ke dalam pengumpulan bahan, penelusuran literatur, dan penulisan alinea atau bagian tertentu dari proyek yang dikerjakan jauh lebih mudah dibandingkan dengan menangani keseluruhan proyek itu sekaligus. Anda boleh saja berambisi untuk menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat, namun mencapai beberapa sasaran sederhana tetap jauh lebih baik daripada menetapkan target besar tidak pernah tercapai.

Kelima, jangan langsug menetapkan standar sangat tinggi terhadap karya Anda, apalagi menuntut diri untuk langsung menghasilkan sebuah maha karya. karya yang kurang sempurna tidak selalu berarti jelek. Menulis merupakan sebuah kemahiran dan sekaligus proses bepikir yang tidak dapat dikembangkan melalui jalan pintas. Pengembangan kemampuan menulis membutuhkan waktu. Seorang perfeksionis tidak akan pernah dapat belajar menyelesaikan karya tulis apapun karena dia selalu menemukan berbagai kesalahan dalam kalimat, tanda baca, alinea, dan sebagainya dalam setiap tulisan. Orang seperti ini tidak akan pernah berhasil berhasil membuat beberapa alinea dengan cepat, karena dia akan selalu terdorong untuk kembali memeriksa dan memperbaiki kalimat yang baru dituliskannya sehingga dia kehabisan waktu untuk meneruskan ke kalimat atau alinea-alinea berikutnya.

Writers’ block dapat membuat orang yang dijangkitinya frustrasi. Fenomena itu dapat melanda siapapun. Oleh karena itu, jangan biarkan writers’ block menghalangi Anda membagikan ide dan inspirasi kepada sesama melalui tulisan. Jika fenomena itu terasa menghinggapi, Anda disarankan untuk menerapkan salah satu atau beberapa dari kelima strategi dia atas sehingga Anda tetap dapat mulai menulis. [2 November 2018]

Anda memiliki strategi lain untuk mengatasi “writer’s block”? Silahkan share pada bagaian komentar di bawah ini.

2 Comments

  1. Two weeks ago, I make a essay about educational readiness in facing the millennial era 4.0. I confused what I want to write. We can said I’m writers’ block.
    And than I search in google. To do writing, it turns out you have to prepare like the article above. After I made arrangements in making essays, it’s made me more passion in making the essay. Time after time, I always want to add my thoughts in it.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.