Menangkal Hoaks dengan Berpikir Kristis

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

“Dusta akan diterima sebagai fakta oleh orang yang telah dikondisikan untuk memahami kebenaran dengan cara yang salah”, kata DaShanne Stokes, seorang cendikiawan dan penulis Amerika Serikat, untuk mengungkapkan kerisauannya terhadap hoaks yang bertebaran begitu masif di media masa dan media sosial. Walaupun keberadaan hoaks sudah setua peradaban manusia, intensitas pembuatan dan penyebarannya meningkat drastis seiring dengan kemudahan penyebaran informasi melalui jaringan internet, khususnya melalui media sosial. Saking maraknya penyebaran hoaks dan banyaknya anggota masyarakat yang terpedaya, Oxford English Dictionaries (OED) menetapkan istilah “post-truth” (pasca kebenaran) sebagai kata tahun 2016. Terminologi pasca-kebenaran ini mengacu pada situasi yang di dalamnya pembentukan opini publik lebih didominasi oleh faktor emosi dan keyakinan pribadi, bukan oleh fakta-fakta obyektif. Penetapannya sebagai kata tahun 2016 oleh OED dimaksudkan untuk mengganbarkan betapa suburnya hoaks yang didasarkan pada sentimen emosi dan keyakinan personal pada saat ini. Kondisi ini tentu sangat berbahaya, karena anggota masyarakat yang tidak cermat dan tidak mampu menyaring informasi secara kritis akan mudah diperdaya dan ikut menyebarkan hoaks.  Tulisan ini membahas hakikat, dampak, dan cara teknik yang efektif untuk menangkal hoaks.

Hoaks atau berita bohong (dalam Bahasa Inggris disebut “hoax” atau “fake news”) merupakan rangkaian informasi yang sengaja dimanipulasi namun “dijual” sebagai kebenaran.  (Silverman, 2015). Kebanyakan hoaks sengaja dibuat dan disebarluaskan untuk untuk menyesatkan pikiran masyarakat atau membentuk opini yang sesuai dengan keinginan pembuatnya. Senada dengan itu, Wardle dan Derakhshan (2017), mengutip dari The Council of Europe, mendefinisikan hoaks sebagai informasi yang sengaja dimodifikasi dan diterbitkan dengan maksud untuk menipu dan menyesatkan orang lain sehingga mereka mempercayai kebohongan atau, sebaliknya, meragukan fakta-fakta yang dapat diverifikasi.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, jelaslah bahwa hoaks dibentuk dengan menciptakan cerita bohong, memodifikasi atau merekayasa informasi tertentu, dan membumbuinya dengan sentimen emosi dan/atau kepercayaan. Orang yang tidak cermat dan kritis menyaring informasi, karena emosi dan keyakinan pribadinya telah tersulut, akan mempercayai hoaks yang dibaca atau didengarnya. Apalagi jika hoaks tersebut diulang-ulang. Jimmy Gomez, politisi Amerika Serikat mengatakan jika berita palsu disebarkan secara berulang-ulang maka publik akan menemukan kesulitan untuk membedakannya dengan kenyataan.

Karena hoax merupakan berita bohong, efeknya sangat merugikan, bahkan membahayakan. Sebagian hoaks digunakan untuk memfitnah pribadi atau kelompok tertentu. Sebagian lagi digunakan untuk menyesatkan publik agar meyakini ide atau faham tertentu. Sebagian lagi digunakan untuk menggiring opini publik hingga mereka memilih produk, figur, atau partai politik tertentu. Kondisi ini diperparah dengan kemunculan sindikat-sindikat yang memproduksi dan menjual hoaks sebagai komoditas. Sindikat seperti ini menawarkan jasa dengan imbalan puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk mengunggah hoaks berupa isu-isu provokatif, khususnya yang menyangkut SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) melalui ribuan akun. Karena menyentuh sisi emosi dan keyakinan personal, hoaks yang terkait dengan SARA terbukti sering menimbulkan kekacauan.

Apa yang dapat dilakukan untuk menangkal hoaks? Karena hoaks merupakan kebohongan yang dibumbui dengan sentimen emosi dan keyakinan personal, cara untuk menangkalnya adalah menyaring setiap infromasi yang diterima dengan pikiran yang kritis. The Foundation of Critical Thinking mendefinisikan berpikir kristis sebagai metode berpikir yang dilakukan denga cara  menganalisis, menilai, dan merekonstruksi setiap subjek, konten, atau masalah dengan cermat. Dalam konteks mencermati hoaks, berpikir kritis dilakukan melalui satu atau kombinasi dari lima langkah berikut: (1) membedakan antara fakta dan opini dalam sebuah berita; (2) memeriksa kompetensi pembuat berita; (3) memeriksa keotentikan dan reliabilitas sumber berita; (4) menganalisis logika (misalnya dalam penarikan kesimpulan) yang digunakan dalam pernyataan/ berita; dan (5) membandingkan sebuah berita dengan berita yang sama tapi diperoleh dari sumber-sumber lain.

Kemampuan membedakan fakta dengan opini merupakan langkah pertama untuk mencegah seseorang mempercayai hoaks. Setiap fakta dapat diterima sebagai kebenaran karena hakikatnya yang konkrit dan keabsahannya relatif mudah diuji. Sebaliknya, sebuah opini, karena bersifat abstrak, keabsahannya relatif sulit diuji apalagi jika tidak didukung oleh fakta-fakta atau argumen yang logis. Jangan pernah memenrima opini  sebagai kebenaran sebelum kebenarannya teruji. Pernyataan “Indonesia merdeka pada tahun 1945” adalah fakta. Penelusuran sejarah dapat membuktikan keabsahannya. oleh sebab itu, pernyataan ini dapat diterima sebagai kebenaran. Sedangkan “Indonesia merupakan bangsa paling ramah di dunia” adalah opini. Keabsahannya perlu diperiksa dengan cara membandingkan tingkat keramahan bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Contoh lain, beberapa bulan lalu Indonesia dihebohkan oleh berita penganiayaan seorang aktivis. Banyak pihak langsung bereaksi keras dan mengecam pelaku pengeroyokan tanpa terlebih dahulu memeriksa apakah pengeroyokan dimaksud  merupakan fakta (benar benar terjadi) atau opini. Mereka juga tidak memeriksa apakah bengkak-bengkak di wajah aktivis tersebut merupakan akibat pemukulan atau tidak. Ternyata berita itu hanyalah hoaks, karena bengkak-bengkak di wajah si aktivis adalah akibat operasi plastik. Karena melibatkan sentimen emosi (rasa kasihan dan kesetiakawanan) untuk mempengaruhi, hoaks ini berhasil memicu reaksi keras berbagai kalangan. Sehubungan dengan itu, ketika dihadapkan pada berita berupa opini yang memancing emosi Anda, ingatlah bahwa besar kemungkinan berita itu memang dirancang demikian.

Kompetensi dan kredibilitas pembuat berita juga harus dicermati, karena figur yang tidak kompeten kemungkinan besar akan membuat pernyataan yang tidak akurat. Bahkan, pernyataan tentang bidang X yang diungkapkan oleh seorang ahli di bidang Y juga perlu dipertanyakan. Demikian pula halnya dengan sumber sebuah berita/pernyataan. Jika sebuah organisasi politik mengeluarkan pernyataan tentang keimanan sebuah agama, reliabilitas pernyataan itu perlu diperiksa. Pemeriksaan kredibilitas sumber berita perlu ditingkatkan, karena saat ini banyak media abal-abal yang menyebarkan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam konteks media online, aspek kredibilitas sumber berita dapat diperiksa dengan melihat pengelola situs dan kualitas artikelnya. Tanyakan pada diri Anda, “Siapa penulis berita itu?”, “Apakah tanggal penulisan dicantumkan?”, “Apakah berita itu hasil editan atau ditulis ulang dari berita di masa lalu?”

Evaluasi terhadap logika dalam sebuah berita/pernyataan berperan penting untuk menentukan keabsahan. Pernyataan berikut, sebagai contoh, memiliki cacat dalam penarikan kesimpulan. “Lima orang tetangga terdekat saya bercerai setahun lalu. Tujuh orang teman sekelas saya di SMA juga sudah bercerai. Sepanjang tiga bulan lalu, tiga orang kerabat saya bercerai. Pernikahan sudah tidak dapat dipertahankan saat ini.” Dalam pernyataan ini, pembicara hanya menyebutkan 15 perceraian, tapi dia mengabaikan ratusan juta pernikahan yang tetap utuh. Pemeriksaan terhadap logika penulisan juga perlu diarahkan terhadap detil detil pendukung yang digunakan. Jika penulis menggunakan kutipan, apakah sumber kutipan tersebut kredibel?

Meskipun berbagai sumber berita berupaya mempertahankan objektivitas dan netralitas, disadari atau tidak, unsur subjektivitas mungkin saja masuk dalam pemberitaan. Sehubungan dengan itu, membandingkan sebuah berita dari sumber A dengan berita yang sama dari Sumber B, C, dan D perlu dilakukan untuk menguji kebenaran berita tersebut. Sebagai contoh dalam konteks media online, sebuah foto perlu dibandingkan dengan berbagai foto sejenis yang terdapat di google images. Saat ini, berbagai hoaks juga dibuat dengan cara ‘mengedit’ bagian tertentu dari sebuah foto yang sebelumnya sudah ada.

Dari paparan di atas, terungkap bahwa saat ini kita dibombardir oleh banyak hoaks yang dibuat dengan mengeksploitasi sisi emosi dan keyakinan personal sehingga kemampuan untuk menyaring informasi menjadi lemah. Keberadaan hoaks tersebut begitu memprihatinkan dan mengancam individu, masyarakat dan pemerintah. Untuk menangkalnya diperlukan kemampuan berpikir kritis setiap individu untuk mencermati dan menguji setiap pemberitaan/pernyataan yang muncul. [3 November 2018]

9 Comments

  1. I agree with this article, that one of the ways we ward off hoaxes is to think critically. As we know that the disease of the Indonesian people is the spread of hoaxes, there are certain people who use hoaxes as political vehicles, dropping certain people / groups, etc. Many people who do not think long about the information/news obtained, they do not filter the news first.
    Even with the existence of the ITE Law it turns out that there are still people who try to overthrow this Indonesian unity with hoaxes, therefore I agree with this article that critical thinking is one of the ways we counteract hoaxes, namely by not “accepting whole” existing information/news.

    Liked by 3 people

  2. Name : Aviliana Veronica Du’a Bertha
    NIM : 1812150003

    I agree with this article, that if false news is spread over and over again, people will find it difficult to distinguish it from reality. Indeed, sometimes we are too easy to believe in the news without knowing it is right or wrong. Therefore, the way to distinguish facts or opinions from the news is to think critically, we must know the background of the news maker, find out whether the news source is true or not, and compare the news with the same news but obtained from other sources. We must be able to distinguish facts or opinions from the news so that we are not fooled by irresponsible parties

    Liked by 1 person

  3. I agree with this article, at this time the hoax has damaged people’s minds because hoax is fake and not true, There are so many people who are not finding out the truth and who are instantly following the information when it is not necessarily factual. The human mind is so easily washed away with a hoax report that itis difficult to realize that the news is untrue. Therefore, let’s not be easily affected by the hoax. Critical thinking is very important before we share information to other people.

    Liked by 1 person

  4. i agree with this article. The existence of hoaks is so alarming and threatens individuals, communities and the government. the way to counteract it is to filter out any information that is received with a critical mind. For the deterrence, it requires the critical thinking skills of each individual to examine and test every news / statement that appears

    Liked by 2 people

  5. I agree with your article. Actually what makes hoaxes widespread is because of the lack of criticality in society and if we look at the current reality, that there are indeed many hoaxes that are scattered in the community, and sadly there are also many people who trust the hoax. Especially supported by current technology, making hoaxes easily and in a fast time can be widespread. And yes, maybe we can’t stop the spread of this hoax, but we can reduce it if we can think critically. Because with this we can sort out the right and wrong news so that we will not easily believe the news hoax.

    Liked by 1 person

  6. I agree with the article above. False news, it’s been spread a lot. For example in Indonesia, a lot of riots occur because of false news.

    The biggest problem faced in Indonesia is the Hoax about religion and the issues that bring into the religious conflict of one another.
    This is very worrying because this false problem can divide Indonesia’s unity.

    I think as a student and at the same time as an Indonesian citizen, we must be open minded, respect each other for differences, tolerance and mutual respect. Because differences should not be the breaking factor of this nation, but rather a solid unifying factor for Indonesia.

     I can get things about overcoming false news after reading this article, so that I can be smarter to choose and review the news to be consumed and disseminated.I agree with the article above. False news, it’s been spread a lot. For example in Indonesia, a lot of riots occur because of false news.

    The biggest problem faced in Indonesia is the Hoax about religion and the issues that bring into the religious conflict of one another.
    This is very worrying because this false problem can divide Indonesia’s unity.

    I think as a student and at the same time as an Indonesian citizen, we must be open minded, respect each other for differences, tolerance and mutual respect. Because differences should not be the breaking factor of this nation, but rather a solid unifying factor for Indonesia.

     I can get things about overcoming false news after reading this article, so that I can be smarter to choose and review the news to be consumed and to be shared with the public.

    Liked by 1 person

  7. I agree with this article. If there is no caution,
    we are easily consumed by the hoax of course it will be very detrimental to the victims of slander. Hoax news often uses provocative sensational titles,for example by directly pointing fingers at certain parties. Its contents can also be taken from official media news,it’s just changed to give rise to perception as desired by the hoax maker.
    Therefore, if you encounter news with a provocative title, you should look for references in the form of similar news from official online sites, then compare the contents, whether the same or different.
    Therefore, at least we as readers can get more balanced conclusions.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Candeni Tambunan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.