Pemicu Kecanduan “Chatting” di Media Sosial

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

pp

Pernahkah Anda merasa  kecanduan chatting melalui WhatsAp, Facebook, twitter, email atau SMS? Pernahkah Anda merasa tidak mampu menunda untuk membaca pesan di media sosial (medsos) ketika melihat ada pesan di kotak masuk medsos Anda? Pernahkah Anda dengan sadar menunda  pekerjaan demi chatting? Jika Anda pernah mengalami fenomena tersebut, maka Anda sedang dilanda pengaruh kuat dopamin. Esai ini membahas hakikat dopamin, bagaimana zat itu membentuk kecanduan chatting, dan solusi apa yang dapat dilakukan untuk membebaskan diri dari kecanduan tersebut.

Dopamine adalah zat kimia yang berperan sebagai neurotransmitter atau pengirim sinyal dari otak ke bagian vital tubuh lainnya melalui syaraf. Dopamine “ditemukan” pada tahun 1958 oleh Arvid Carlsson dan Nils-Ake Hillarp di National Heart Institute of Swedia. Diproduksi di berbagai bagian otak, zat ini berperan sangat penting dalam segala macam fungsi otak, termasuk berpikir, bergerak, tidur, menentukan suasana hati, serta pemuasan hasrat dan keinginan.

Salah satu fungsi dopamine adalah mendorong Anda untuk menemukan sesuatu yang membuat Anda senang. Faktor yang pembuat kesenangan sangat beragam, mulai dari pemenuhan kebutuhan primer (makan dan minum) hingga pemenuhan kebutuhan sekunder dan tertier.  Faktor tersebut juga bisa berbentuk kebutuhan  fisik atau abstrak. Contoh kebutuhan yang abstrak adalah pemenuhan rasa dicintai, dihargai atau ingin tahu dan rasa senang.

Dalam proses pencarian dan pencapaian kesenangan, dopamine dan opoid, zat kimia yang mengatur sistem penerimaan rasa sakit, rasa senang, dan perilaku adiktif di otak dengan bagian tubuh yang terkait dengan perasaan-perasaan tersebut, saling melengkapi. Menurut Berridge dan Robinson, dopamin memicu dan mendorong Anda bertindak untuk mencapai rasa senang, dan opoid membuat Anda merasa puas. Ketika rasa senang sudah dicapai, pengaruh dopamine dihentikan sejenak. Namun, karena sistem dopamin lebih kuat daripada sistem opioid, dorongan untuk mencari kesenangan akan timbul kembali dalam kadar yang lebih tinggi dari kepuasan yang telah terwujud sebelumnya. Dengan kata lain, semakin diladeni atau direspon, dopamin semakin meningkatkan gairah dan perilaku Anda untuk memperoleh sesuatu yang membuat anda senang. Jika pencarian kesenangan Anda tidak dihentikan, paling tidak, untuk sementara waktu, maka Anda sudah masuk dalam kecanduan mencari kepuasan yang tak pernah berakhir.

Kemudahan yang ditawarkan fitur-fitur medsos membuat  chatting melalui WhatsAp, Facebook, twitter, email atau SMS maupun mengakses informasi singkat di blog dapat dilakukan seketika hingga aktivitas-aktivitas itu memberikan kepuasan yang instan. Anda ingin bertukar informasi dengan seseorang? Kirim saja pesan melalui WhatsAp dan orang tersebut akan merespon dalam waktu beberapa detik. Ingin memperoleh informasi tertentu? Ketikkan saja kata terkait di google, keinginan Anda langsung dipenuhi. Kemudahan menggunakan medsos ini sangat mendukung percepatan siklus induksi dopamin. Dopamin meminta Anda membaca dan merespon pesan di WhatsAp. Begitu keinginan itu tercapai, dopamine mulai lagi mendorong Anda mencari lebih banyak kesenangan. Itulah sebabnya, semakin sering seseorang chatting di medsos, semakin sulit banginya untuk berhenti. Jangan heran bila sebagian orang terus menerus  memeriksa ponsel mereka untuk melihat apakah ada pesan baru di dalam medsosnya.

Selain kemudahan pengoperasian medsos, pendeknya pesan di dalam medsos juga turut meningkatkan intensitas dopamine. Pesan di medsos umumnya hanya terdiri dari puluhan hingga 150 kata. Singkatnya pesan-pesan tersebut tentu saja tidak mampu menyampaikan informasi yang memuaskan. Akibatnya, keinginan untuk memperoleh lebih banyak informasi meningkat. Jangan heran jika orang lebih senang membaca banyak-wacana singkat dibandingkan dengan  artikel yang panjangnya beberapa halaman.

Berridge dan Robinson juga menuturkan bahwa otak memperoleh lebih banyak sensasi ketika seseorang sedang mengantisipasi kesenangan daripada ketika mendapatkannya. Eksperimen menunjukkan bahwa jika neuron dopamine tikus dihilangkan, hewan tersebut tetap dapat berjalan, mengunyah, dan menelan, tetapi dia akan mati kelaparan meskipun ada makanan di sebelahnya. Penyebabnya? Tikus itu telah kehilangan antisipasi dan keinginan untuk mendapatkan makanan. Meskipun dorongan pencarian (dopamine) dan pencapaian kesenangan (opoid) saling terkait, penelitian juga menunjukkan bahwa sistem dopamin tidak memiliki batas. Sistem dopamin cenderung mendorong individu untuk terus mencari lebih banyak lagi. Hal ini terlihat dalam tindakan seseorang yang terdorong mencari informasi tertentu di google dan sudah menemukannya, tapi puluhan menit kemudian baru dia sadar bahwa dia masih tetap dalam jaringan mencari informasi lebih lanjut.

Faktor lain yang meransang dopamine adalah ketidakpastian. Ketika sesuatu yang tidak dapat diprediksi terjadi, sistem dopamine akan terrangsang. Ketika notifikasi WhatsAp, Facebook, twitter, email atau SMS Anda terdengar, Anda tidak tahu dengan pasti siapa pengirimnya dan kapan pesan tersebut masuk ke akun Anda. Ketidakpastian ini menstimulasi dopamine hingga meningkatkan rasa penasaran Anda.

Dopamin tidak mungkin dihilangkan dari tubuh Anda. Namun, Anda bisa menghindar atau membebaskan diri dari kecanduan menggunakan medsos dengan melakukan dua cara. Pertama, alihkan perhatian dan minat Anda kepada hal lain yang lebih bermanfaat, seperti menyelesaikan tugas atau menulis esai. Dopamin sangat sensitif terhadap ransangan dari sesuatu yang kita senangi (inginkan) atau kita benci (takuti). Jika Anda menyukai musik, dopamin Anda kemungkinan besar akan menyala ketika suara musik terdengar walaupun sayup-sayup. Jika Anda tidak suka makan sayur, dopamin akan bereaksi lebih keras ketika Anda disuruh memakan risol yang Anda duga diisi dengan sayur mayur. Dopamine membuat Anda tidak mungkin mengabaikan sesuatu yang berharga atau menakutkan bagi Anda. Kedua, matikan notifikasi suara maupun visual yang memberitahukan masuknya pesan ke dalam medsos Anda. Lakukan pekerjaan dan selesaikan tugas Anda lebih dahulu. Membaca dan merespon catting dapat dilakukan di waktu luang.[6 November 2018]

8 Comments

  1. Very useful article. This article adds to my insight about the stimulants that exist in the human body, dopamine. I remembered someone who told me that people who are addicted to something (in this article discussed social media) that means worshiping idols, in other words trying to make God close, that means, trying to find pleasure outside of God.
    Through this article, I am reminded that social media should be used as needed, thus, dopamine that is inside us will not form addiction.

    Liked by 1 person

  2. Name : Aviliana Veronica Du’a Bertha
    NIM : 1812150003

    This article adds to my insight. I found out that addiction to social media is from dopamine and what are the factors of dopamine. It turns out that these substances play a very important role in all kinds of brain functions, including thinking, moving, sleeping, determining moods, and satisfying desires and desires. Addiction to social media is also not good, but it cannot be eliminated, especially now that technology is increasingly sophisticated, therefore we must reduce social media usage.

    Liked by 1 person

  3. Name : Enny Milenia Pasgor
    NIM : 1812150020

    This article very interesting, to know what make someone addiction to use social media every time. Dopamine is chemical in our brain thats works to find what make someone happy and this time social media make someone addiction like chatting in whattsap, facebook, twitter, etc. Because social media can make someone happy and dopamine in our brain make increase. Dopamine can’t dissapear but we can decrease dopamine with not always using social media because is not good for our body.

    Liked by 1 person

  4. Thank you sir, for the information that you shared through the article above. After reading this article, I just found out that there are substances in our body that can make us addicted to something, namely dopamine. And indeed I myself admit that I also sometimes experience this, I spend a lot of my time just to chatting and playing games. And indeed this is bad to get used to, because it makes me forget to do the assignments and sometimes also makes me feel lazy to finish homework, as a result my time is wasted and I am also scolded by parents. And true as what you said above Sir, to avoid this we better spend time on things that are more useful like doing our hobbies. Because I’m sure the dopamine substance will also react when we do or train our hobbies. Because it is something we like, just like me to overcome this I choose to practice my hobby, namely dance. With this, besides practicing my dance skills, I also became healthier.

    Liked by 1 person

  5. this article greatly adds insight into social media. it turns out that I have dopain in my body and cause me to become addicted to social media. because of my opium, I often delay the time I study, clean the house, and so on. it’s because of the influence of dopamine found on social media.

    Liked by 1 person

    1. Name : Natasya Ervina
      Nim : 1812150004

      This article very interisting , Because how dopamine affects our brains so that it is addicted to chatting, dopamine is also for fulfilling a sense of being loved, valued or curious and happy. Social media does make someone happy and forget about their work so that dopamine will increase. We must reduce our addiction with social media slowly so that there are not many chemicals that enter our brain.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.