Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail

Sebagian orang cenderung untuk memilih tokoh terkenal jika mereka ditanyakan tentang seseorang yang dikagumi. Memilih selebriti, negarawan, ilmuwan dan tokoh masyhur dari berbagai bidang lainnya sebagai individu yang dikagumi tentu tidak salah. Tapi kecenderungan itu bisa membuat pilihan kita keliru, terutama jika pengenalan kita tentang tokoh terkenal itu sangat terbatas. Kecenderungan itu juga bisa membuat kita mengabaikan orang-orang hebat yang patut dihargai di sekitar kita. Dalam esai ini saya memaparkan kualitas salah satu guru saya, yang membuatnya menjadi tokoh istimewa bagi saya. Sejak sekolah dasar, puluhan guru sudah mendidik saya. Tentu saya menghormati mereka semua. Tapi Pak Tigor merupakan figur istimewa bagi saya karena integritas, dedikasi, dan keluasan wawasannya.

Pak Tigor mengajarkan Sejarah ketika saya belajar di sekolah menengah pertama(SMP). Salah satu karakter Pak Tigor yang mengesankan adalah kesamaan antara ucapan dan perbuatannya. Seacara bercanda, kami sesekali memanggilnya menjadi Pak Integritas, karena nama kecilnya, “Tigor” bermakna “lurus”, masih terkait dengan makna “integritas”.   Suatu hari, sesuai dengan rencana yang sudah kami susun dua bulan sebelumnya, kelas saya mengadakan studi lapangan sejarah ke sebuah candi yag berjarak sekitar 120 kilometer dari sekolah kami. Sangat  mengherankan, Pak Tigor yang biasanya disiplin waktu pada hari itu tiba terlambat 10 menit dari waktu yang ditentukan di tempat parkir bis yang akan kami tumpangi. Dengan sungguh-sungguh, Pak Tigor meminta maaf kepada kami, walaupun menurut kami hal itu tidak perlu dilakukannya. Seperti biasa, dengan penuh semangat, dan seolah-olah tanpa beban pikiran apapun, Pak Tigor mendampingi dan membimbing kami selama melakukan studi lapangan. Keesokan harinya, barulah kami mengetahui bahwa putri bungsu Pak Tigor diopname di rumah sakit sejak subuh ketika kami akan melakukan studi lapangan. Rupanya beliau terlambat karena harus menyelesaikan urusan di rumah sakit.

Pak Tigor juga merupakan pendidik berdedikasi. Selain sangat menguasai mata pelajaran yang diampunya, beliau juga kreatif dalam metode pembelajaran. Jika kebanyakan siswa menganggap Sejarah membosankan, di tangan Pak Tigor semua topik sejarah menjadi sangat menarik. “Sejarah bukanlah sekedar rentetan waktu dan peristiwa. Sejarah adalah cermin yang kita gunakan agar kita lebih arif dan bijaksana,” ujar Pak Tigor. “Melalui sejarah Kebangkitan Nasional dan Sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia kita jadi paham, bahwa kunci keberhasilan suatu bangsa adalah pendidikan dan persatuan. Ketika dijajah Belanda selama 350 tahun, berbagai perjuangan yang dilakukan tidak ada yang berhasil karena perjuangan itu dilakukan terpisah-pisah dan bersifat kedaerahan.. Barulah setelah cukup banyak pemuda Indonesia yang terdidik bangsa ini bisa menggalang persatuan”. Selain itu, Pak Tigor tidak pernah mengizinkan kami membaca buku teks Sejarah di kelas. Kami diwajibkan membaca topik-topik baru secara mandiri di rumah. Dengan demikian, kami sudah memiliki “modal”untuk berpartisipasi optimal di kelas. “Pertemuan di kelas adalah untuk berbagi pemahaman dan ide. Membaca buku teks harus kamu lakukan sendiri di rumah,” tegas beliau. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan Pak Tigor itu, ternyata muncul dengan nama “students-centered learning” 30 tahun kemudian..

Walaupun bidang studi yang diajarkan Pak Tigor adalah sejarah, yang terkait dengan kejadian di masa lalu, beliau juga orang yang visioner dan memiliki pengetahuan mendalam dan luas di bidang lain. Suatu hari kami berdiskusi tentang kesejahteraan rakyat Kerajaan Majapahit. Menurut beberapa teman, agar bisa seperti majapahit, Indonesia harus membuka hutan-hutan untuk dijadikan sawah dan kebun seluas mungkin. Hasil pertanian itu akan membuat rakyat Indonesia sejahtera.. Ketika semua siswa di kelas saya sudah sepakat dengan ide itu, Pak Tigor menjelaskan bahwa pembabatan hutan secara besar-besaran bisa membawa bencana banjir, longsor, dan kekeringan ketika musim kemarau. Membuat sawah dan kebun yang baru memang perlu, tapi tidak harus membabat hutan secara besar-besaran. Mengembangkan teknologi untuk menghasilkan bibit unggul justru harus dikedepankan,” Pak Tigor menjelaskan. “Dengan menanam padi bibit unggul kita bisa panen dua hingga tiga kali setahun. Itu lebih bermanfaat dibandingkan hanya memperluas sawah tapi memanen hanya satu kali setahun,” ucap Pak Tigor sambil membuat perhitungan sederhana di papan tulisuntuk membantu menjelaskan pandangannya. Setelah menambahkan beberapa contoh lain, beliau menyimpulkan, “Teknologi adalah masa depan bangsa.”

Pak Tigor tidak dikenal luas bahkan di lingkungan kota kami. Beliau bukan seorang selebriti. Sepanjang pengetahuan saya, beliau juga tidak pernah menulis buku. Orang-orang yang tidak pernah berinteraksi dengannya mungkin tidak akan pernah menduga bahwa beliau adalah pendidik berintegritas, berdedikasi, visioner dan berpengetahuan luas. Tapi, bagi semua orang yang pernah didiknya, Pak Tigor merupakan teladan yang inspiratif, yang secara konsisten memotivasi murid-muridnya menjadi bijaksana dengan menggunakan sejarah (masa lalu) sebagai cermin. Empat tahun lalu saya mendapat kabar bahwa beliau telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Secara fisik beliau telah tiada, namun inspirasi dan kata-kata bijak yang pernah ditularkannya takkan pernah hilang dari hati dan pikiran saya. (737 kata). [10 November 2018]

8 Comments

  1. I really enjoyed this article. I was reminded again of how the struggle and example of a teacher is remembered. A person becomes a teacher not to be famous as a celebrity, politician, etc., but they struggle to educate the nation’s children. I remembered how my math teacher (Mr. Gultom) made me love mathematics so much. maybe I can’t describe it, for sure, I see there are 3 figures in him, teacher, father, and motivator. At the end of each lesson, he always gives us advice.
    And I remember very much at that time, he said that he did not need to be known to people, as long as the students he taught could succeed and succeed.

    Like

  2. The article is very interesting, because it tells the figure of a teacher who is very motivating. I agree, indeed sometimes we mistakenly choose a person who is admired is an artist or another, even though the teacher who has taught us also motivates us. Those who tirelessly teach and guide us, from us who cannot become able. I was reminded of my junior high school teacher (Mrs. Panca) that she taught us patiently and made us understand science. She said “don’t be shy about being a teacher, because the teacher is a very noble job, making students smart.

    Liked by 1 person

  3. I am very interested in this article, because in this article it helps me to know how characters become good teachers. as explained in the article above, the character of a Pak Tigor as a person who has a profession as a teacher, is very impressive, because he has distinctive features from most teachers. Mr. Tigor as a disciplined person, indirectly also rooted his students for disciplinary learning. His also responsible, seen in the article in the 3rd paragraph, this is one of the special points that many people may not have. In addition to these things, the characteristics of Mr. Tigor as a figure of integrity, dedication, and broad insight, are examples, which we can emulate, of course not only as a teacher, but another profession. Besides that the interesting thing that I got from this article is that Mr. Tigor’s figure in carrying out his teaching, can make his students not feel bored, this is also a special point that Pak Tigor has. Thank you for this article, because I can improve myself, to become a better teacher.

    Liked by 1 person

  4. I am interested in this article. because this article reminded me of my physics teacher. where my teacher once told me “be friends with people who want to study not with those who want to date”. honestly I was shocked to hear his words, but I realized that his words were my motivation. I am proud to know him and I am also proud that someday I will become a teacher like him. because the teacher is an unsung hero.

    Liked by 1 person

  5. this article is very interesting, the teacher is a hero without services that is true. he wants his students to be smart and successful no matter how. I remembered one of my junior high school teachers (Mr.Astanta) he taught English lessons and he was 70 years old. I was very impressed with him because with that age he still had an extraordinary spirit. he not only taught at my school, after teaching him to teach at tutoring, on Wednesday he did not teach and he used it for children around his house and his students to tutor at his house and it was not asked to pay a penny. he also did not let him know if his students did not understand the lesson he would pass it on. he is not just a teacher, but I consider it to be a father in our school. because he is very understanding with his students, he also likes to receive or listen to confide in his students.
    And I remember very much at that time, he said “If you want to be successful, do it honestly and correctly, even though later you will pass many obstacles that don’t make you discouraged, believe me, everything is beautiful in time”.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.