Kelas yang tak Terlupakan

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Saya tidak setuju dengan pandangan bahwa Filsafat membosankan karena subjek itu membahas hal-hal yang abstrak. Bagi saya, Filsafat sangat menarik. Ketertarikan itu tumbuh ketika saya mengikuti kelas pertama Pengantar Filsafat yang begitu mengesankan.

Di kelas pertama mata kuliah itu, setelah memperkenalkan diri, sang dosen pengampu berkata, “Saya beri waktu sepuluh menit kepada saudara-saudara untuk membaca kedua cerita pendek ini”. Dia kemudian berjalan membagikan selembar kertas berisi dua cerita pendek kepada setiap mahasiswa.

Cerita pertama bertutur tentang seorang laki-laki yang berkunjung ke wilayah perlindungan gajah. Ketika mendekati sebuah lapangan yang dipenuhi puluhan gajah, laki-laki tersebut terkejut dan bingung. Dia melihat bahwa hewan-hewan raksasa itu ditambat hanya dengan tali kecil. Salah satu ujung tali diikatkan ke kaki gajah, dan ujung yang lain diikatkan pada patok kayu yang ditancapkan ke dalam tanah. Dilihat dari kekuatan fisik mereka, dengan mudah gajah-gajah itu dapat memutuskan tali pengikatnya dan pergi kemanapun. Namun, tak seekor gajahpun mencopba melepaskan diri. Penasaran, lelaki tersebut kemudian mendekati seorang pawang dan bertanya mengapa hewan-hewan besar itu terlihat pasrah tertambat di sana. Tak seekorpun berusaha melarikan diri.

“Penyebabnya sangat sederhana,” kata sang pawang. “Sejak dilahirkan, gajah-gajah ini langsung kami tambat dengan tali kecil seperti itu. Karena mereka masih sangat kecil, tali kecil itu cukup kuat untuk menahan mereka. Karena sejak awal mereka tidak mampu melepaskan diri dari tali-tali itu, setelah dewasa mereka tidak pernah lagi mencoba melepaskan diri.”

Cerita kedua berkisah tentang Wilbur dan Orville Wright, dua bersaudara tukang reparasi sepeda yang sangat tertarik pada ide-ide penerbangan. Walau tidak lulus dari SMA, mereka sangat berminat pada bidang teknik. Yang paling menarik bagi mereka adalah  desain-desain alat untuk menerbangkan manusia karya Otto Lilienthal insiniur dan matematikawan Jerman yang dibuat selama pertengahan 1890-an. Wilbur dan Orville Wright yakin alat untuk menerbangkan manusia itu dapat diwujudkan. Setelah mempelajari berbagai desain itu, pada tahun 1896 di toko sepeda mereka di Dayton, Ohio, Wilbur dan Orville mulai membuat mesin terbang dengan bahan yang kuat tetapi ringan. Secara khusus mereka  memanfaatkan rangka, kabel, rantai dan jari-jari sepeda. Pada tahun 1902, mereka menguji coba pesawat tersebut. Penerbangan pertama ini hanya bertahan 12 detik di udara dan mejelajahi sekitar 36,5 meter.  Meskipun berbagai keterbatasan menghadang mereka, dan mereka juga gagal dalam ribuan kali uji coba, Wilbur dan Orville Wright terus melakukan penyempurnaan pada pesawat buatan mereka agar dapat terbang.

Setelah 700 kali uji coba yang sukses, mereka kemudian berjuang cukup lama untuk membuat mesin pendorong  ringan yang sesuai untuk pesawat mereka. Pada 1905, mereka bisa terbang selama tiga puluh menit, itupun karena bahan bakar mesin pesawat habis.  Sejak saat itu, pesawat buatan Wilbur dan Orville digunakan menjadi landasan pengembangan pesawat udara hingga yang sekarang kita kenal.

Setelah selesai membaca ke dua cerita pendek tersebut, setiap mahasiswa diminta mengungkapkan ide atau kesan apa yang timbul dalam pikiran masing-masing setelah membaca kedua cerita tersebut. Semua ide dan pendapat mahasiswa dirangkum dan dinuliskan di papan tulis. Berikut adalah rangkuman ide yang kami, para mahasiswa, utarakan.

  1. Gajah yang hanya berotot kekar tapi tidak berpikir.
  2. Gajah gajah itu tetap tertawan karena tidak mampu berpikir.
  3. Seandainya gajah-gajah itu mau mencoba, mereka akan berhasil.
  4. Gajah-gajah itu tetap tertawan karena mereka tidak yakin mereka bisa membebaskan diri.
  5. Pantang menyerah, seperti Wright bersaudara, anda akan berhasil.
  6. Gajah-gajah itu tetap tertawan karena mereka tidak yakin mereka bisa membebaskan diri; Wright bersaudara berhasil membuat pesawat terbang karena mereka yakin pesawat itu bisa diwujudkan.
  7. Berbeda dengan gajah yang tidak percaya mereka mampu melepaskan diri, Wright bersaudara tetap mencoba mewujudkan impian yang mereka yakini bisa diwujudkan.
  8. Karena gajah tidak punya keyakikan, bagi mereka kegagalan adalah akhir perjuangan; karena Wright bersaudara memiliki keyakinan yang kuat, bagi mereka kegagalan adalah pembelajaran yang semakin mendekatkan mereka pada tujuan.

Lalu sang Dosen melingkari poin nomor 6, 7, dan 8 dan mengatakan, “Ketiga ide ini mewakili kebenaran yang dapat kita pelajari dari kedua cerita pendek itu. Izinkanlah saya meringkas dan menyimpulkan dengan ungkapan, berikut”. Menggunakan huruf-huruf kapital, beliau menuliskan: YOU ACHIEVE WHAT YOU BELIEVE.

Walaupun kelas itu berlangsung 30 tahun yang lalu, kesimpulan itu masih tetap saya ingat. Apalagi karena pengalaman hidup saya dan hidup orang lain yang saya kenal selama tiga puluh tahun itu membuktikan kebenaran dari kesimpulan tersebut. Yang paling mempengaruhi keberhasilan seseorang adalah keyakinannya. Itulah sebabnya perkuliahan itu tak akan terlupakan. [12 November 2018]

Parlindungan Pardede (parlpard2010@gmail.com)

6 Comments

  1. Name : Lamtiar Br Hutabarat
    NIM : 1812150005

    This article is very interesting. this article can increase my knowledge. in this article I teach many proverbs through an elephant in the story.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.