Modul 1: Hakikat Esai

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Universitas Kristen Indonesia

File PDF

PENDAHULUAN

Modul ini merupakan modul 1 dari 7 modul yang digunakan sebagai rujukan materi utama dalam Pelatihan Menulis Esai Dalam Jaringan Gratis (Free Online Essay Writing Course) yang diselenggarakan sebagai salah satu wujud pengabdian Kepada Masyarakat Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Univrsitas Kristen Indonesia Jakarta. Sebagai landasan awal bagi pelatihan-pelatihan selanjutnya, modul ini bertujuan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang esai. Pembahasan dalam modul ini mencakup hakikat, sejarah singkat, tipe, kegunaan, struktur, unsur, dan proses penulisan esai. Dengan demikian, setelah mempelajari Modul 1 ini, peserta mampu:

  1. Menjelaskan pengertian esai
  2. Menjelaskan asal mula dan perkembangan esai
  3. Menjelaskan lima jenis utama esai
  4. Menjelaskan manfaat esai
  5. Menggambarkan struktur esai
  6. Menjelaskan unsur-unsur pembentuk esai
  7. Menjelaskan tahapan-tahapan penulisan esai  

Agar konsep-konsep dalam modul ini dapat lebih mudah dipahami, berbagai penjelasan dipaparkan dengan mengacu pada berbagai esai sebagai contoh. Pemberian contoh-contoh itu diharapkan dapat membuat konsep dan penjelasan yang abstrak menjadi konkrit. Sehubungan dengan itu, sebelum modul ini dipelajari, peserta diminta membaca lima esai berikut terlebih dahulu. (Kelima esai itu dipublikasikan secara online. Untuk membacanya, silahkan klik judul esai masing-masing di bawah ini).

  1. Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin
  2. Kelas yang tak Terlupakan
  3. Pemicu Kecanduan “Chatting” di Media Sosial
  4. Menangkal Hoaks dengan Berpikir Kristis
  5. Siapa menabur interes akan menuai sukses

PEMBAHASAN

Hakikat Esai

Esai digunakan dalam hampir semua disiplin ilmu dan bidang kehidupan yang menggunakan tulisan. Akibatnya, tujuan penulisan, subjek yang dibahas, gaya penulisan, dan jumlah kata dalam esai sangat variatif. Oleh sebab itu, batasan yang diberikan pada esai sangat beragam.  

Kata “esai” (dalam Bahasa Inggris disebut essay dan dalam Bahasa Spanyol, ensayo) diadopsi dari verba Prancis essayer, yang bermakna “mencoba”. Sedangkan kata essayer diadopsi dari nomina Latin “exagium” yang bermakna “timbangan, bobot,” atau verba Latin “exigo” yang bermakna “memeriksa, mencoba, menguji” (kemurnian emas). Dalam bahasa Inggris, kata essay bermakna dasar “upaya” atau “percobaan”. Berdasarkan penelusuran etimologi ini, esai dapat didefinisikan sebagai upaya penulis untuk mengungkapkan pendapatnya secara tertulis. Karena aktivitas menulis esai adalah “upaya”, penulis tidak diwajibkan menjawab persoalan yang dibahas secara final. Penulis juga tidak berkewajiban untuk membuktikan bahwa ide yang dipaparkannya berlaku di seluruh dunia. Dengan demikian, tujuan mendasar sebuah esai bukan untuk memaparkan solusi tetapi untuk merangsang diskusi. Menurut Bacon (1985), esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.

Sebagai contoh, mungkin saja terdapat banyak orang yang tidak setuju terhadap gagasan yang disajikan dalam Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin, bahwa orang “biasa” di sekitar kita juga layak diapresiasi menjadi tokoh yang dikagumi. Penulis memang tidak harus meyakinkan para pihak yang tidak menyetujui ide tersebut. Yang penting adalah penulis berupaya mendukung gagasannya dengan cara menggambarkan kualitas salah satu gurunya, yang membuat sang guru menjadi salah satu tokoh istimewa. Penggambaran itu, sedikit atau banyak, pastilah menggugah persepsi para pembaca.

Esai sering didefinisikan sebagai tulisan non-fiksi berbentuk prosa yang panjangnya bervariasi dan membahas suatu atau beberapa topik (masalah) dari sudut pandang pribadi penulisnya. Menurut Cuddon, (2013), esai adalah tulisan berbentuk prosa yang panjangnya ratusan kata hingga ratusan halaman dan membahas satu atau berbagai topik secara formal atau informal. Meskipun sebuah esai dapat membahas beberapa topik, pembahasan dalam esai pada umumnya dibatasi pada satu topik saja. Oleh karena itu, kebanyakan esai relatif pendek. Penekanan pada penggunaan “sudut pandang” penulis dalam definisi pertama mengungkapkan bahwa opini penulis berperan sentral dalam sebuah esai. Sedangkan penekanan gaya formal dan informal dalam definisi kedua menunjukkan esai sebagai tulisan yang fleksibel.

Sebagai sebuah karya tulis, apakah yang membedakan esai dengan karya tulis lain, seperti artikel, yang juga relatif pendek? Pertanyaan ini sulit dijawab dengan hanya merujuk pada pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada tentang karakteristik esai. Pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan itu sering kali tumpang tindih dengan karakteristik karya tulis lain. Sebagai contoh, ditinjau dari segi ukuran, ada yang menyatakan ukuran esai relatif pendek hingga dapat dibaca sekali duduk. Artikel-artikel di majalah atau koran juga memiliki ciri-ciri itu. Ditinjau dari segi isi, ada yang menyatakan esai merupakan analisis, penafsiran, dan uraian tentang sastra, budaya, filsafat, ilmu; namun berbagai artikel juga menganalisis, menafsirkan, atau hanya menggambarkan sesuatu. Ditinjau dari sisi gaya dan metode penulisan, ada esai bergaya bebas dan ada juga yang bergaya bahasa baku, sebagaimana halnya artikel ilmiah.

Sehubungan dengan itu, yang dapat digunakan sebagai pembeda utama antara esai dengan jenis tulisan lain adalah peran sentral opini (keyakinan, sikap, atau penilaian terhadap sesuatu) penulis dalam sebuah esai. Berbeda dengan sebuah artikel ilmiah yang diarahkan untuk menyampaikan fakta, sebuah esai memadukan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dan perasaan untuk mengekspresikan opini. Esai memiliki jenis, panjang, gaya, subjek dan kompleksitas yang sangat variatif. Tapi semua esai pada akhirnya tetap berfokus pada opini pribadi. Berbeda dengan sebuah laporan yang digunakan untuk memaparkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; esai menggunakan fakta-fakta dan pengalaman untuk mendukung opini penulis.

Kelima esai yang dijadikan contoh dalam modul ini membahas topik yang berbeda-beda, menggunakan tipe esai berbeda, dan kadar fakta yang disajikan juga berbeda-beda. Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin, misalnya, fokus kepada kualitas istimewa seorang guru dan pengalaman si penulis. (Kualitas sang guru dan pengalaman penulis tersebut sebenarnya masih perlu diperiksa agar dapat dinyatakan fakta atau hanyalah ide si penulis saja). Sedangkan dalam Pemicu Kecanduan “Chatting” di Media Sosial dan Siapa menabur interes akan menuai sukses, penulis menggunakan cukup banyak fakta berupa hasil-hasil penelitian tentang dopamine, fenomena penggunaan media sosial saat ini, atau fakta-fakta sejarah (Edison dan Messi). Meskipun bebeda dilihat dari berbagai perspektif, kelima esai itu sama-sama menggunakan fakta dan pengalaman sebagai pendukung untuk membuat ide yang disampaikan meyakinkan dan dapat diterima pembaca.

Selain itu, esai merupakan tulisan yang fleksibel dan adaptif. Selain dapat digunakan untuk mendiskusikan topik apa saja, esai dapat ditulis dengan gaya formal atau informal dan dalam bentuk naratif, deskriptif, ekspositori, argumentatif, persuasif atau kombinasi dari bentuk-bentuk tulisan tersebut. Kemahiran menulis esai juga merupakan basis untuk menulis menghasilkan jenis karya tulis lainnya. Seseorang yang mahir menulis esai biasanya tidak menemukan kesulitan membuat artikel populer, tulisan ilmiah, atau laporan. Oleh karena itu, kemahiran menulis esai sangat penting bagi mahasiswa maupun professional yang perlu membuat tulisan.

Sejarah Esai

Esai mulai dikenal pada tahun 1500-an ketika Montaigne, filsuf Perancis, menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot yang ditulis berdasarkan hasil observasinya tentang kehidupan. Buku yang diterbitkan pada tahun 1580 itu diberi judul Essais yang berarti attempts atau upaya. Dalam buku itu tersaji beberapa cerita, dan deskripsi yang menurut Montaigne (2003, h. 4) ditulis secara bersahaja, rendah hati, dan jujur dan didasarkan pada pendapat pribadinya. Secara keseluruhan, buku itu dimaksudkan Montaigne untuk mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan.

Pada tahun 1600-an, di Inggris, Sir Francis Bacon melakukan hal yang sama dengan Montagne. Bukunya yang berjudul Essay kemudian menjadi patokan bagi bentuk, panjang, kejelasan, dan ritme oleh esais-esais sesudahnya. Sebagian esai dalam buku itu bersifat formal, sebagian lagi informal. Perbedaan di antara keduanya adalah esai formal memiliki tujuan yang lebih serius, isinya lebih berbobot, penalarannya lebih logis dan ukurannya lebih panjang. Esai informal mempergunakan ragam bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan “saya”, sehingga pengarang seolah-olah berbicara langsung dengan pembacanya. Pada saat ini, esai formal lebih sering dipergunakan oleh para pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Penulisan esai yang dipelopori Montaigne dan Bacon hingga sekarang sangat mempengaruhi bidang pendidikan di Amerika dan Eropa. Di wilayah itu, esai merupakan salah satu unsur pokok institusi pendidikan. Para siswa sekolah menengah diwajibkan mengikuti pelatihan penulisan esai terstruktur sebagai upaya untuk mengembangkan kemahiran menulis. Di tingkat pendidikan tinggi, penulisan esai sering digunakan sebagai ujian saringan masuk, yang dikenal dengan sebutan admission essay. Di perkuliahan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, esai juga digunakan sebagai media ujian akhir yang menentukan skor akhir suatu mata kuliah.

TIPE ESAI

Dilihat dari tujuan penulisan dan isinya, esai dapat dikelompokkan ke dalam lima tipe: deskriptif, naratif, ekspositori, persuasive, dan reflektif. Esai deskriptif digunakan untuk melukiskan topik apa saja yang menarik perhatian penulis. Esai tipe ini bisa mendeskripsikan orang, sebuah ruangan, tempat rekreasi dan sebagainya dengan cara menyajikan rincian nyata untuk membawa pembaca pada visualisasi dari sebuah subjek. Rincian pendukung disajikan dalam urutan tertentu (kiri ke kanan, atas ke bawah, dekat ke jauh, arah jarum jam, dan sebagainya). Pola pergerakan ini mencerminkan urutan rincian yang dirasakan melalui penginderaan. Tulisan terlampir yang berjudul Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin merupakan esai deskriptif, karena esai tersebut menggambarkan kualitas seorang guru yang membuat si penulis mengaguminya.

Tipe kedua, esai naratif, dibuat dengan mengungkapkan suatu kejadian atau kisah melalui persepsi penulis, sehingga esai naratif selalu menggunakan sudut pandang orang pertama.  Esai naratif biasanya ditulis untuk melibatkan pembaca ke dalam cerita, seolah-olah pembaca hadir ketika kisah sedang berlangsung. Agar tujuan ini tercapai, penulis harus “mengisahkan”, bukan hamya “menunjukkan” rangkaian kejadian. Tulisan berjudul Kelas Pertama yang tak Terlupakan merupakan esai naratif. Esai tersebut mengisahkan pengalaman penulis sewaktu mengikuti perkuliahan pertama di kelas Pengantar Filsafat.

Esai ekspositori digunakan untuk menjelaskan suatu topik. Esai tipe ini biasanya dilengkapi dengan penjelasan tentang proses, perbandingan antara dua hal atau lebih, identifikasi hubungan sebab-akibat, contoh, klasifikasi, atau definisi. Untuk membuat esai tipe ini, penulis harus benar-benar menguasai subjek yang dibahas. Dalam esai seperti ini, fakta, data, statistik, dan contoh-contoh nyata mendominasi penulisan. Unsur emosi dan perasaan harus dicegah. Esai ini bisa dibedakan ke dalam beberapa sub-tipe, sesuai dengan teknik penyajian data yang digunakan. Esai proses menyajikan urutan tahap-tahap atau langkah-langkah yang bersifat kronologis (berdasarkan waktu); esai contoh ditulis dengan menghadirkan contoh-contoh; esai perbandingan menggunakan urutan kepentingan (dari yang terpenting sampai yang tak penting, atau sebaliknya); esai sebab-akibat bisa diarahkan untuk mengidentifikasi suatu sebab dan meramalkan akibat, atau sebaliknya, dimulai dengan akibat dan mencari sebabnya. Esai berjudul Pemicu Kecanduan “Chatting” di Media Sosial merupakan esai ekspositori. Esai itu menjelaskan peran dopamine mendorong seseorang menemukan sesuatu yang menyenangkan dan berbagai karakteristik media sosial yang begitu sesuai menambah intensitas dorongan dopamine.

Esai persuasif ditulis sebagai upaya mengubah perilaku pembaca atau memotivasi pembaca untuk ikut serta dalam suatu aksi/tindakan. Sebuah esai persuasif tidak cukup hanya memaparkan fakta, data, dan statistik saja. Unsur emosi dan perasaan sering digunakan sebagai upaya meyakinkan pembaca bahwa yang disampaikannya perlu dipertimbangkan. Rincian pendukung biasanya disajikan berdasarkan urutan kepentingannya. Berbagai esai politik, keagamaan, dan pendidikan ditulis dalam bentuk persuasif. Menangkal Hoaks dengan Berpikir Kristis dapat dikategorikan sebagai esai persuasive, karena dalam tulisan itu penulis berupaya meyakinkan pembaca menerapkan langkah-langkah yang dijelaskannya untuk menangkal hoaks.

Esai reflektif biasanya digunakan untuk mengungkapkan secara mendalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati berbagai topik penting tentang kehidupan, seperti kematian, politik, pendidikan, dan hakikat manusiawi. Esai reflektif ditulis secara formal dengan nada serius. Esai ini biasanya ditujukan kepada para cendekiawan. Siapa menabur interes akan menuai sukses merupakan contoh esai reflektif. Esai itu mengungkapkan hasil perenungan penulis tentang esensi minat (interest) untuk mencapai sukses dalam kehidupan.

STRUKTUR ESAI

Apapun jenis, tujuan, dan isi sebuah esai, dia tetap merupakan sebuah karangan yang terdiri dari sekumpulan alinea yang membahas sebuah subjek dari sudut pandang pribadi penulis. Satu esai terdiri dari tiga bagian, yakni pendahuluan, isi, dan penutup. Alinea yang digunakan untuk mengungkapkan bagian pendahuluan disebut alinea pengantar. Seluruh alinea yang menjelaskan, mengklarifikasi, mendiskusikan, membuktikan subjek disebut alinea isi. Sedangkan bagian akhir, yang biasanya menyajikan kesimpulan dan saran, disebut alinea penutup. Jika penulis menggunakan kutipan sebagai detil pendukung, sumber kutipan-kutipan itu didaftarkan dalam sebuah Daftar Pustaka yang diletakkan di bagian paling bawah esai. Secara visual, bagian-bagian sebuah esai dapat digambarkan melalui Bagan 1.

  1. Judul dan Subjek

Judul sebuah esai bisa berbentuk sebuah kata, frasa atau kalimat yang berfungsi untuk merangsang minat pembaca atau memberikan gambaran tentang subjek (pokok bahasan) dalam esai. Sebuah judul harus singkat, tepat dan padat. Oleh karena itu, kata-kata tambahan harus dihilangkan.  Lihat contoh contoh berikut.

  • Pemicu Kecanduan “Chatting” di Media Sosial
  • Pilihan Guru Abad-21: Memanfaatkan Teknologi atau Dikalahkan Teknologi
  • Scribo ergo sum (Aku menulis, maka aku ada)
  • Apakah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran merupakan kebutuhan atau hanya kut arus?

Dilihat dari konstruksinya, judul dapat dikelompokkan ke dalam empat tipe. Urutan empat contoh di atas sudah disesuaikan dengan keempat tipe judul, yakni:  (1) nominal, (2) majemuk, (3) kalimat, dan (4) pertanyaan. Kebanyakan judul bertipe nominal yang digunakan untuk mengindikasikan tema esai. Judul bertipe majemuk dibuat dengan menggunakan tanda titik dua (:). Judul berbentuk kalimat biasanya lebih menekankan hasil akhir pembahasan dalam esai. Sedangkan judul berbentuk pertanyaan digunakan untuk menarik perhatian pembaca. Di antara kelima esai yang digunakan sebagai contoh, empat contoh pertama menggunakan tipe nominal karena keempat judul itu berbentuk frasa nomina. Sedangan esai kelima menggunakan tipe kalimat, yakni, Siapa menabur interes akan menuai sukses. Dalam judul ini, frasa “Siapa menabur interes” merupakan pokok kalimat, sedangkan “akan menuai” adalah verba, dan “sukses” merupakan obyek kalimat.

Di samping itu, judul harus ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada seluruh kata pada huruf pertama setiap kata utama (selain preposisi yang terletak di awal judul) tanpa tanda baca apapun dan diletakkan di bagian tengah-atas esai. Namun, jika judul tersebut berupa kalimat, hanya huruf awal kata pertama saja yang ditulis dengan huruf kapital.

Penentuan judul suatu esai biasanya sangat berhubungan dengan subjek, atau pokok pembicaraan, yang penentuannya tidak berbeda dengan penentuan topik suatu alinea. Ruang lingkup topik sebuah esai tentu saja jauh lebih luas. Jika penentuan subjek diibaratkan dengan pengambilan sebuah potret, maka sebuah alinea ekuivalen dengan sebuah gambar setengah badan (pas-foto), sedangkan sebuah esai bisa ekuivalen dengan sebuah potret yang memuat gambar seseorang atau sebuah keluarga secara utuh.

Sebagai catatan tambahan, sebagian penulis menentukan judul begitu esai akan dipublikasikan. Oleh karena itu, judul tidak selalu harus dibuat di awal penulisan, tetapi bisa juga pada tahap akhir penulisan. Pembuatan judul di akhir penulisan cukup logis, karena judul tuliisan yang paling sesuai seringkali dapat dirumuskan setelah tulisan selesai.

Beberapa Petunjuk dalam Pembuatan Judul

  1. Selesaikan dulu penulisan konten esai, setelah itu berikan judul yang mencerminkan isi. Seringkali, jauh lebih mudah menentukan judul setelah isi esai selesai ditulis. Jadi, judul ditulis pada tahap akhir.
  2. Pertimbangkan kelompok masyarakat yang menjadi target utama penulisan. Kelompok pembaca yang berbeda memiliki ketertarikan yang berbeda. Oleh karena itu, pikirkan unsur dan gaya bahasa yang menarik bagi pembaca target. Jika mereka lebih tertarik pada konten, gunakanlah judul nominal. Jika pembaca lebih menyukai nada provokatif, judul berbentuk pertanyaan mungkin lebih sesuai digunakan. Namun, jika esai yang ditulis akan diikutsertakan dalam kompetisi, ikutilah ketentuan pembuatan judul dari panitia.
  3. Jangan terlalu terbebani oleh keinginan untuk membuat judul yang sempurna hingga Anda merasa tertekan. Target yang paling utama dalam menulis esai adalah menyelesaikan esai itu agar orang lain bisa membacanya.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, esai merupakan tulisan yang membahas membahas satu atau beberapa topik. Walaupun sebuah esai bisa membahas lebih dari satu topik, semua topik tersebut harus terkait dengan subjek (pokok pembahasan yang sama). Sebagai contoh, jika yang dibahas dalam sebuah esai adalah tiga topik: efektivitas pembelajaran, persepsi mahasiswa, dan ketersediaan sarana pendukung pembelajaran, ketiga-tiganya harus merupakan bagian dari subjek yang sama, misalnya blended learning. Jadi, pembahasan dalam esai dibatasi hanya pada efektivitas pembelajaran, persepsi mahasiswa dan ketersediaan sarana pendukung dalam penerapan blended learning. Dengan kata lain, subjek yang dibahas dalam sebuah esai harus dibatasi.

Esai Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin, misalnya, membahas subjek “kualitas seorang guru yang membuatnya menjadi tokoh istimewa bagi penulis”. Dalam esai tersebut, penulis membatasi subjek ini hanya pada tiga topik, yakni: integritas, dedikasi, dan wawasan yang luas. Sedangkan Siapa menabur interes akan menuai sukses, membahas subjek “peran minat dalam upaya seseorang menggapai sukses”, yang dibatasi hanya pada topik dua jenis minat dan bagaimana minat untuk sukses dalam studi.

Pembatasan subjek sebuah esai harus mengikuti paling tidak dua tahapan, yaitu mengumpulkan informasi yang diketahui tentang topik, menentukan aspek-aspek topik yang diperkirakan menarik bagi pembaca, dan memutuskan aspek-aspek mana saja yang akan diikutsertakan dalam esai. Hasil pembatasan topik yang telah dilakukan biasanya dapat langsung digunakan sebagai judul. Tabel 1dapat dijadikan sebagai pedoman praktis untuk membatasi topik sebuah esai.Dua faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan sebuah subjek atau topik atau pokok pembicaraan dalam suatu esai adalah metode pengembangan yang akan digunakan dan tingkat keabstrakan. Penentuan metode pengembangan yang akan digunakan yang akan digunakan tentu saja sangat tergantung pada substansi subjek atau topik yang akan dibahas dan pembaca sasaran. Topik “hubungan keterampilan menulis dan keterampilan berpikir” diatas, misalnya sangat sesuai dikembangkan dengan menggunakan metode ‘definisi’ dan ‘sebab-akibat’. Sedangkan topik “Mengembangkan keterampilan menulis mahasiswa dengan memanfaatkan Edmodo” dapat dikembangkan dengan metode ‘proses’.

Pentingnya mempertimbangkan tingkat keabstrakan sebuah topik didasarkan pada kenyataan bahwa semakin abstrak sebuah topik, semakin sulit hal itu dijelaskan atau didukung. Akibatnya, semakin sulit mempertahankan minat pembaca. Oleh karena itu, topik suatu esai hendaknya dibuat sekonkrit (senyata) mungkin. Bandingkan kedua kelompok topik berikut. Kelompok pertama bersifat abstrak, sehingga sulit didukung atau dijelaskan. Sebaliknya, kelompok kedua bersifat lebih konkrit sehingga lebih mudah untuk dijelaskan. Masing-masing topik disertai dengan metode pengembangan yang paling sesuai.

Topik yang abstrak:

  1. Kasih Tanpa Pamrih: Kebajikan Yang Paling Luhur (Definisi dan Sebab-Akibat)
  2. Bagaimana Menilai Mutu Sebuah Karya Seni (Proses)
  3. Hakikat Kasih Sayang dan Benci (Definisi dan Perbandingan)

Topik yang konkrit:

  1. Empat Kriteria Kasih Tanpa Pamrih (Definisi dan Klasisifikasi)
  2. Merakit Sebuah Pesawat Mainan (Proses)
  3. Keuntungan dan Kerugian Menikah dan Tidak Menikah (Definisi dan Perbandingan)

2.    Alinea Pengantar

Dalam sebuah esai, alinea pengantar berfungsi untuk mempersiapkan pembaca mengikuti pembahasan pada bagian tubuh karangan. Hal ini dilakukan dengan memaparkan latar belakang topik yang akan dibahas, atau dengan memicu rasa ingin tahu pembaca melalui pernyataan/pertanyaan yang di luar dugaan. Alinea pengantar biasanya terdiri dari lima hingga tujuh kalimat, dengan rincian: satu hingga enam kalimat pengantar dan latar belakang dan satu kalimat tesis Namun perlu diingat bahwa jumlah kalimat ini tidak absolut. Alinea pengantar sebuah esai yang membahas subjek yang kompleks mungkin saja membutuhkan hingga sepuluh atau lebih kalimat.

Sebagai bagian pembuka, alinea pengantar merupakan salah satu bagian penentu dalam suatu esai. Oleh karena itu, alinea ini perlu dirancang dan dibuat sedemikian rupa agar dapat menarik minat pembaca. Berikut ini adalah tiga pedoman yang perlu diingat dalam membuat alinea pengantar: (a) tuliskan satu hingga tiga kalimat pengantar yang bertujuan untuk menarik dan memfokuskan perhatian pembaca terhadap subjek atau ide-ide pokok yang disajikan; (b) tuliskan satu atau lebih kalimat yang menghadirkan latar belakang, membatasi subjek yang dibahas, dan/atau menyajikan makna kata-kata kunci yang akan digunakan; dan (c) tuliskan satu kalimat tesis.

Membuat sebuah alinea pengantar yang efektif bukanlah hal yang mudah. Sama dengan penulisan alinea diskusi, pembuatan alinea pengantar membutuhkan latihan-latihan agar dapat dikuasai dengan baik. Sebagai masukan, berikut ini dijelaskan enam teknik pembuatan alinea pengantar yang efektif. Setiap alinea pengantar membutuhkan teknik tersendiri, sesuai dengan subjek yang dibahas dan metode pengembangan yang digunakan.

  1. Awali dengan sebuah kutipan! Sebuah kutipan (yang diperoleh dari lagu, novel, drama, film, surat kabar, atau majalah) yang bisa merangkum subjek yang dibahas dalam sebuah esai dapat menjadi titik awal yang sangat menarik dan efektif bagi sebuah karangan. Agar efek yang diinginkan benar-benar tercapai, perlu diingat bahwa kutipan itu harus merupakan pernyataan ringkas dan tidak menyimpang dari ide-ide pokok yang akan dibahas. Esai Menangkal Hoaks dengan Berpikir Kristis, sebagai contoh mengawali alinea pengantarnya dengan kutipan “Dusta akan diterima sebagai fakta oleh orang yang telah dikondisikan untuk memahami kebenaran dengan cara yang salah”, dari DaShanne Stokes, seorang cendikiawan dan penulis Amerika Serikat. Meskipun pendek, kutipan ini mengngkapkan besarnya bahaya yang timbul jika hoaks tidak ditangkal. Kutipan itu dengan efektif memperkenalkan subjek yang akan dibahas.
  2. Mulai dengan sebuah pertanyaan! Salah satu cara yang paling menarik untuk mengawali sebuah esai adalah dengan mengajukan pertanyaan retoris, yakni pertanyaan yang jawabannya belum diketahui pembaca, atau pertanyaan yang jawabannya hanya ada dalam kalimat tesis. Menghadapi pertanyaan seperti ini, pembaca akan dipaksa memikirkan pertanyaan tersebut sehingga ‘bersemangat’ membaca bagian-bagian selanjutnya. Ainea pengantar Pemicu Kecanduan “Chatting” di Media Sosial  diawali oleh pertanyaan “Pernahkah Anda merasa kecanduan chatting melalui WhatsAp, Facebook, twitter, email atau SMS?” Siapa menabur interes akan menuai sukses juga diawali dengan pertanyaan.
  3. Ungkapkan latar belakang bagi subjek tulisan! Dalam tulisan tertentu, latar belakang yang disajikan secara berjenjang ke arah klimaks dalam beberapa kalimat merupakan awal yang efektif. Agar dapat menggunakan teknik ini, penulis harus memiliki pengetahuan yang luas tentang subjek yang ditulis.
  4. Buat sebuah dramatisasi atau ungkapkan sebuah cuplikan anekdot! Teknik ini merupakan salah satu cara paling menarik untuk mengawali esai karena sifatnya yang dramatis. Namun perlu dicatat bahwa cerita singkat atau anekdot yang disajikan harus selaras dengan subjek tulisan.
  5. Gunakan sebuah sudut pandang yang lain dari yang lain! Mengungkapkan suatu hal yang ditinjau dari sebuah sudut pandang yang tidak lazim biasanya akan membuat pembaca heran. Hal itu akan membuatnya memaksa diri untuk menyelesaikan membaca esai atau karangan yang dihadapinya. Sebagai contoh, Kelas Pertama yang tak Terlupakan diawali dengan ketidaksetujuan penulis dengan pandangan umum tentang Filsafat: “Saya tidak setuju dengan pendapat sebagian orang bahwa Filsafat merupakan subjek yang tidak menarik, karena bidang ini membahas hal-hal yang abstrak. “
  6. Buat teknik kombinasi! Kelima teknik di atas dapat juga dikombinasikan agar dapat menjadi pengantar yang efektif bagi karangan. Sebagai contoh, ebuah kutipan dapat disisipkan ke dalam sebuah anekdot; sebuah pertanyaan retoris dapat mengawali sebuah sudut pengungkapan pandang yang tidak lazim. Penggunaan teknik kombinasi ini dapat digunakan dengan tetap mengingat bahwa sebuah alinea pengantar harus sederhana, singkat, dan efektif, sehingga benar-benar mengarahkan perhatian pembaca terhadap subjek yang akan dibahas.

3.    Kalimat Tesis

Setiap esai harus mengandung sebuah tesis, atau kalimat yang merumuskan tema dasar esai tersebut. Tesis biasanya berbentuk sebuah kalimat yang berfungsi untuk mengungkapkan gagasan sentral (topik yang akan dibahas) beserta tujuan yang akan dicapai melalui gagasan sentral tersebut. Jadi, sebuah tesis harus mengandung dua hal, yakni: topik dan tujuan penulisan. Kedua kandungan inilah yang membentuk gagasan sentral. Sehubungan dengan itu, tesis dapat didefinisikan sebagai tema berbentuk sebuah kalimat yang menyatakan topik dan tujuan yang akan dicapai dan bertindak sebagai gagasan sentral dalam suatu esai. Kalimat tesis juga dapat dirumuskan langsung dalam bentuk pernyataan tujuan penulisan. Yang penting adalah kalimat itu tetap menyatakan topik yang akan dibahas beserta urutan pembahasannya.

Berikut adalah dua contoh kalimat tesis yang dirumuskan dari topik masing-masing.

Dalam Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin, kalimat tesis adalah kalimat terakhir pada alinea pengantar, yang berbunyi: “Pak Tigor merupakan figur istimewa bagi saya karena integritas, dedikasi, dan keluasan wawasannya.’ Masing-masing kualitas tersebut kemudian dibahas secara berurutan dalam aline diskusi. Alinea diskusi 1 membahas “integritas”. Alinea diskusi 2 membahas “dedikasi”, dan alinea diskusi 3 membahas “keluasan wawasan”. Kalimat tesis Siapa menabur interes akan menuai sukses juga diletakkan pada bagian akhir alinea pengantar, yakni “Makalah ini membahas pengertian dan dua jenis minat, dan bagaimana menggunakannya untuk sukses dalam studi.”

4. Alinea Diskusi (Body  Paragraph)

Jika kalimat tesis yang menjadi landasan penulisan sudah dirumuskan, aktivitas selanjutnya adalah merinci topik-topik yang dikandung kalimat tesis tersebut dan mengorganisasikannya ke dalam sebuah kerangka karangan yang sistematis. Dalam tahap penulisan, setiap topik akan dikembangkan atau dijelaskan dalam alinea masing-masing yang disebut alinea isi atau aline diskusi (body paragraph). Dalam sebuah esai, ukuran ideal seluruh alinea diskusi adalah sekitar 70 per sen dari panjang esai.

Sebagai bagian esai yang berfungsi mendiskusikan kalimat tesis, setiap alinea isi menyajikan bukti (fakta, contoh, kutipan, argumen, atau parafrase) sebagai detil pendukung. Agar menarik untuk dibaca, bukti-bukti yang mendukung topik sebuah alinea isi harus diusahakan bervariasi, seperti perpaduan antara fakta dan contoh, atau kombinasi kutipan dan anekdot. Agar dapat menjelaskan topik dengan baik, jumlah kalimat penjelas yang menyusun sebuah alinea isi sebaiknya berjumlah enam hingga sepuluh kalimat. Dengan demikian, ditambah dengan kalimat transisi (jika ada) dan kalimat topik sebuah alinea diskusi dibentuk oleh sekitar delapan hingga dua belas kalimat.

Selain kalimat topik dan bukti bukti (detil pendukung) alinea isi juga dapat (meskipun tidak wajib) diberikan kalimat analisis dan pengait (linkage). Kalimat analisis dibuat dengan cara membandingkan, menghubungkan, atau mengkontaskan bukti yang satu dengan yang lain sehingga bukti-bukti itu terlihat jelas mendukung kalimat topik. Pengait dapat berupa kata, frasa atau kalimat yang digunakan untuk menunjukkan kaitan kalimat topik dengan hal lain di dalam esai, khususnya kepada tesis atau kalimat topik di alinea berikut. Jika dilakukan dengan baik, kaitan seperti ini akan meningkatkan kesatuan (unity) esai.

Tabel 3 dan 4 menyajikan dua contoh alinea isi yang dikutip dari dua esai berbeda. Perhatikan bahwa contoh kedua (Tabel 4) tidak mengandung unsur “kaitan”. Hal ini tidak mengurangi kualitas contoh kedua karena “kaitan” bukan merupakan unsur wajib. Mungkin saja penulis merasa unsur unity esai masih tetap terjaga tanpa menggunakan “pengait” dalam alinea ini.

5. Alinea Kesimpulan

Alinea kesimpulan berfungsi untuk mengakhiri esai dengan cara menghadirkan rangkuman ringkas (bila diperlukan), membuat prediksi sehubungan dengan hal-hal yang telah didiskusikan, dan/atau mengungkapkan sebuah pernyataan kulminatif untuk diingat (kalau mungkin). Karena perannya sebagai penutup sangat penting dalam membentuk efektivitas sebuah esai, alinea kesimpulan juga perlu dirancang dan dibuat sedemikian rupa agar ketika tiba di bagian ini pembaca merasa bahwa ide pokok yang dihadirkan pada kalimat tesis sudah dibahas dengan tuntas. Terdapat tiga pedoman yang perlu diingat dalam membuat alinea kesimpulan: (a) Satu atau dua kalimat meringkas materi yang sudah bibahas. (b) Sebuah kalimat yang menghadirkan kesimpulan yang ditarik dari informasi yang tersaji dalam alinea isi. (c) Sebuah kalimat yang menghadirkan solusi dan/ atau rekomendasi bagi persoalan yang terungkap dalam pembahasan.

Namun perlu dicatat bahwa ketiga elemen ini merupakan unsur ideal. Sebagian esai mungkin hanya dimaksudkan untuk mendiskripsikan sesuatu atau memaparkan kisah tertentu. Dalam esai seperti ini, kesimpulan mungkin saja disajikan secara implisit atau harus ditafsirkan oleh pembaca. Selain itu, esai seperti ini seringkali tidak perlu memberikan rekomendasi/solusi. Sebagian esai lain malah menghadirkan penegasan atas kesimpulan. Contoh pertama (Tabel 5) dikutip dari Kekuatan Metafora untuk Membeningkan Gagasan dan Meluaskan Pemikiran. Sebagai esai persuasif, tulisan ini mengikutsertakan komponen ringkasan, kesimpulan dan rekomendasi. Contoh kedua (Tabel 6) dikutip dari esai deskriptif Guru yang Mengubah Sejarah Menjadi Cermin. Alinea kesimpulannya tidak menghadirkan rekomendasi/solusi, tetapi penegasan.

Proses Menulis

Menulis merupakan sebuah proses yang kompleks yang melibatkan berbagai keterampilan dan dilaksanakan dalam berbagai tahapan. Tahapan dalam proses mencakup lima langkah (lihat Gambar 1): persiapan/perencanaan (prewriting), penulisan awal (drafting), revisi (revising), mengedit (editing), dan publikasi (publishing). Kelima tahapan ini tidak bersifat linier tapi tumpang tindih. Penulis yang sedang fokus pada tahapan mengedit, misalnya, bisa saja “melompat” kembali ke tahap penulisan awal jika dia menyadari ide pada bagian tertentu ternyata perlu ditulis ulang agar koheren dengan bagian lain tulisan tersebut secara keseluruhan. Walaupun kelima tahapan itu tidak linier, setiap penulis pemula perlu melatih diri untuk menguasai setiap tahapan. Penguasaan atas setiap tahapan itu merupakan syarat utama untuk menghasilkan tulisan yang baik.

Tahap persiapan/perencanaan (prewriting) mencakup semua aktivitas yang terkait dengan penentuan tujuan, topik, pembaca target, dan penelitian/pengumpulan data, serta pembuatan kerangka tulisan. Penelitian/pengumpulan data dapat dilakukan melalui eksperimen, survei, curah gagasan–misalnya, dengan teknik 5 W’s + 1 H (Who?, What?, Where?, When?Why?How?) dan peta pikiran (mind-mapping)—atau  membaca literatur yang relevan. Tahapan ini melibatkan aktivitas berpikir analitis dan kritis agar tujuan penulisan yang telah ditentukan selaras jenis informasi yang dihimpun. Tahapan ini juga membutuhkan pemikiran kreatif agar kerangka tulisan yang dirancang dapat mengkombinasikan ide atau informasi yang terkumpul menjadi sebuah paket yang menarik bagi pembaca sasaran. Menulis sebuah topik untuk kalangan remaja memerlukan gaya penulisan yang berbeda dengan menulis untuk kalangan akademisi.

Tahap penulisan awal (drafting) merupakan aktivitas menuangkan informasi yang telah dikumpulkan menjadi alinea-alinea penyusun tulisan sesuai dengan kerangka yang dibuat pada tahapan sebelumnya. Naskah awal ini merupakan wujud awal dari tulisan yang memperlihatkan apakah tujuan penulisan sudah hampir tercapai atau masih jauh dari yang diharapkan. Baca naskah awal trsebut berulang-ulang dan buat catatan untuk menandai bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Sangat bagus jika Anda dapat meminta bantuan teman untuk membaca dan memberi masukan (feedback) sehingga Anda dapat melakukan perbaikan berdasarkan sudut pandang orang lain.

Tahap revisi (revising) mengacu pada aktivitas mengubah dan memperbaiki naskah awal sesuai dengan catatan-catatan yang dibuat pada tahapan sebelumntya atau masukan dari orang lain. Dalam tahapan revisi, Anda menambah, mengurangi, atau mengungkapkan poin tertentu dengan cara berbeda. Tujuan revisi adalah memastikan ide Anda jelas, mudah dipahami, dan lengkap.

Tahap mengedit (editing) dilaksanakan untuk memeriksa dan memperbaiki tata-bahasa, ejaan, penggunaan tanda baca, diksi, dan gaya bahasa. Aktivitas ini sering dinamai sebagai kegiatan proofreading (membaca untuk memeriksa kesalahan-kesalahan). Pengeditan dilakukan dengan membaca setiap baris tulisan secara seksama dan memperbaiki kekurangan yang ada.

Tahap terakhir, publikasi (publishing), mengacu pada memproduksi dan membagikan tulisan kepada pembaca target. Sebelum publikasi, sangat perlu dilakukan pemeriksaan akhir terhadap tampilan dan format naskah. Bahkan, penentuan judul seringkali dilakukan pada tahapan ini, karena judul tuliisan yang paling sesuai seringkali dapat dirumuskan setelah tulisan selesai.

RINGKASAN

Karena digunakan dalam hampir semua disiplin ilmu dan bidang kehidupan yang menggunakan tulisan, esai memiliki beragam definisi. Meskipun demikian, secara umum esai didefinisikan sebagai tulisan non-fiksi berbentuk prosa yang panjangnya bervariasi antara ratusan kata hingga ratusan halaman dan membahas suatu atau beberapa topik (masalah) dari sudut pandang pribadi penulisnya. Ciri khas utama antara esai dengan jenis tulisan lain adalah peran sentral opini (keyakinan, sikap, atau penilaian) penulis dalam sebuah esai. Dalam sebuah esai fakta dipadukan dengan imajinasi, pengetahuan dan perasaan untuk mengekspresikan opini. Ciri khas kedua adalah esai merupakan tulisan yang fleksibel dan adaptif. Selain dapat digunakan untuk mendiskusikan topik apa saja, esai dapat ditulis dengan gaya formal atau informal dan dalam bentuk naratif, deskriptif, ekspositori, argumentatif, persuasif atau kombinasi dari bentuk-bentuk tulisan tersebut.

Esai dipelopori oleh Montaigne, filsuf Perancis pada tahun 1500-an yang menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot yang ditulis berdasarkan hasil observasinya tentang kehidupan. Penulisan esai kemudian direvitalisasi oleh Sir Francis Bacon pada tahun 1600-an. Konsep esai yang dipelopori kedua filsuf tersebut kemudian digunakan secara intensif di bidang pendidikan menengah dan tinggi.

Berdasarkan tujuan penulisan dan isinya, esai dapat dikelompokkan ke dalam lima tipe: deskriptif, naratif, ekspositori, persuasive, dan reflektif. Walaupun memiliki beragam tipe, struktur esai pada hakikatnya terdiri dari tiga bagian, yakni pendahuluan, isi, dan penutup. Alinea yang digunakan untuk mengungkapkan bagian pendahuluan disebut alinea pengantar. Seluruh alinea yang menjelaskan, mengklarifikasi, mendiskusikan, membuktikan subjek disebut alinea isi. Sedangkan bagian akhir, yang biasanya menyajikan kesimpulan dan saran, disebut alinea penutup.

Proses yang ditempuh untuk menulis esai sama dengan proses yang digunakan untuk membuat tulisan lain. Proses itu terdiri dari lima langkah: persiapan/perencanaan (prewriting), penulisan awal (drafting), revisi (revising), mengedit (editing), dan publikasi (publishing). Kelima tahapan ini tidak bersifat linier tapi tumpang tindih, karena penulis bisa “melompat” dari satu tahap ke tahap lainnya sesuai dengan kebutuhan untuk menghasilkan tulisan yang menyatu dan koheren.

KUIS

Setelah Anda selesai mempelajari modul ini, kerjakanlah Kuiz 1 yang tersedia di Edmodo. Jika Anda memperoleh skor 80 atau lebih, Anda dapat mengerjakan aktivitas TINDAK LANJUT yang juga dilaksanakan di Edmodo. Akan tetapi, jika skor yang Anda peroleh kurang dari 80, Anda perlu mempelajari ulang Modul 1 dan mengerjakan Kuiz 1-2. Setelah skor yang Anda peroleh minimal 80 narulah Anda melanjutkan pelatihan dengan mengerjakan aktivitas TINDAK LANJUT. Karena penguasaan isi modul merupakan pra-syarat bagi aktivitas selanjtnya, keseriusan Anda mempelajari dan menguasai isi modul sangat diperlukan.

TINDAK LANJUT

Jika Anda berhasil mengerjakan Kuis 1 dengan skor 80 atau lebih, Anda telah siap melakukan aktivitas ini, yang berfokus pada penentuan topik yang baik untuk ditulis dalam sebuah esai berdasarkan subyek yang disediakan.

REFERENSI

Bacon, Francis. 1985. The essays. New York: Penguin Books.

Cuddon, J.A. (2013). A dictionary of literary terms and literary theory (5th Ed.). Chichester: Wiley-Blackwell

De Montaigne, M. (2003). The complete essays. (Terjemahan M.A. Screech.) London: Penguin Book.

Starkey, L. (2004). How to write great essays. New York: Learning Express, LLC. Writing in 15 Minutes a Day. 2008. New York: Leaarning Express, LLC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.