Hakikat & Esensi Project Based Learning

[Jakarta, EED UKI] Untuk memperingati Hari  Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, Redaksi EED UKI melakukan wawancara terhadap beberapa sivitas akademika Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UKI untuk menggali pemikiran dan pandangan mereka tentang paradigma pendidikan terkini. Hasil wawancara dengan Bapak Parlindungan Pardede, salah seorang dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang dilakukan pada hari Rabu, 1 Mei 2019 ini, dirangkum dalam dialog berikut. (EED= Redaksi EED UKI; PP= Parlindungan Pardede).

EED: Selama beberapa tahun belakangan kita sering mendengar kontradiksi tentang implementasi project based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis proyek. Cukup banyak orangtua yang “complain” karena mereka jadi sibuk ikut mengerjakan proyek anak-anak mereka. Di lain pihak, guru mengatakan orang-tua tidak perlu protes. Toh, mereka sendiri yang mau ikut mengerjakan tugas putra/i mereka. Bisa Bapak jelaskan mengapa hal ini terjadi?

PP: Menurut sayafenomena itu wajar, alami, karena baik guru, siswa, dan orangtua sedang melalui transisi dari pembelajaran tradisional (teacher-centered) ke pembelajaran modern yang berpola siswa aktif (student-centered learning) dengan metode PBL.

EED: Maksud Bapak, ketegangan itu bukan sebuah masalah? Bukankah hal itu bisa membuat hubungan guru dan orang tua kurang harmonis?

PP: Tadi saya katakan ketegangan itu timbul sebagai akibat dari transisi pembelajaran tradisional ke pembelajaran student-centered learning. Setiap transisi selalu menimbulkan kecemasan dan ketegangan. Orang yang baru pindah rumah mengalaminya. Secara psikologis, dia masih memiliki ikatan dengan rumah lama, namun secara fisik dia sudah di rumah baru. Pasangan yang baru menikah juga mengalaminya. Kebiasaan ketika masih ‘jomblo’ masih ada dalam diri, tapi secara fisik, legal dan sosial keduanya sudah bersatu. Suatu saat, kecemasan, ketegangan, dan kontradiksi itu akan berakhir. Cepat atau lambatnya bergantung pada tingkat adaptibilitas setiap pihat yang terlibat. Kontradiksi antara guru dan orang tua, sementara, mungkin saja kurang harmonis. Namun, ketika mereka sudah beradaptasi, hubungan itu akan harmonis kembali, bahkan bisa lebih mesra.

EED: Kelihatannya, transisi dari pembelajaran tradisional ke pembelajaran student-centered learning itu terkesan berlarut-larut. Boleh Bapak beri pencerahan secara sederhana, apa sebenarnya hakikat dan esensi PBL itu?

PP: Salah satu cara sederhana untuk memahami PBL, saya kira, adalah membandingkannya dengan pembelajaran tradisional yang sering disebut sebagai metode “chalk and talk”. Dalam metode ini guru berperan sebagai sumber pengetahuan utama (bahkan tidak jarang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan). Dalam proses pembelajaran, yang aktif hanya guru. Dia menjelaskan topik pembelajaran (biasanya melalui teknik ceramah), dan siswa duduk, mendengar, dan mencatat. Dengan kata lain, siswa hanya disuapi dengan infromasi dan konsep (pengetahuan). Sedangkan PBL menuntut keaktifan siswa. Metode ini menggunakan proyek atau kegiatan agar siswa secara otonom  melakukan eksplorasi, analisis, penilaian, interpretasi, refleksi, sintesis atau kreasi. Semua aktivitas itu membangun pengalaman kepada siswa, dan berdasarkan pengalaman kemudian dikombinasi dengan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya untuk merekonstukti pengetahuan dan keterampilan baru. Berbeda dengan metode “chalk and talk” yang melibatkan level berpikir Lower Order Thingkins (LOTs), yakni mengingat dan memahami saja, PBL melibatkan HOTs, yakni aplikasi, analisis, evaluasi, dan kreasi, sesuai dengan Taksonomi Bloom.

Taksonomi Bloom
( Shabatura (2018)  https://tips.uark.edu/using-blooms-taxonomy/ )

EED: Wah…, PBL itu ternyata luar biasa, ya, Pak. Metode ini mengembangkan semua tingkatan berpikir dalam satu proyek. Pantas saja siswa tidak bisa lagi santai dan berleha-leha. Tapi, apakah karena tuntutan pembelajaran terlalu berat hingga orangtua ikut direpotkan.Tidak sedikit, lho, Pak, orangtua yang kesal dan mengatakan, “Guru itu bisa mengajar, nggak sih? Kok dia menyuruh anak-anak mengerjakan tugas yang tidak bisa mereka selesaikan? Kalaupun mungkin bisa dikerjakan anak-anak, kok waktunya sering ‘mepet’? Akibatnya, orangtua sering harus ‘begadang’ ikut mengerjakan proyek anak-anak mereka karena tidak tega melihat anak-anak tersebut seperti putus asa.” Di lain pihak, guru bersikap defensif, dan mengatakan, “Itu salah orang tua. Proyek itu adalah tugas siswa, bukan tugas orang tua. Kalau tidak mau direpotkan, ya, jangan mau terlibat mengerjakannya.”

PP: Beban yang terlalu berlebihan bagi siswa dalam mengerjakan sebuah proyek bisa saja terjadi. Mungkin rencana pembelajarannya tidak didisain dengan baik. PBL sebaiknya didisain dengan pendekatan interdisiplin. Artinya, sebuah proyek dirancang untuk mempelajari beragam konsep dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek itu. Jadi, sebuah proyek bisa melibatkan beberapa topik bahasan dalam sebuah mata pelajaran, atau kolaborasi dari beberapa mata pelajaran. Selain itu, sebuah proyek sebaiknya dikerjakan oleh siswa dalam kelompok, dan waktu penyelesaiannya juga harus diperhitungkan dengan cermat. Memang guru bisa saja meminta siswa menbuat proyek-peoyek kecil berdasarkan satu topik bahasan dan harus diselesaikan dalam satu atau dua hari. Misalnya, ketika mempelajari topik bangun ruang dalam matematika, siswa diminta membuat kubus, segitiga, atau balok dengan ukuran tertentu dari karton. Atau, ketika mempelajari topik pertumbuhan padi, siswa diminta menyediakan butir-butir padi, seikat bibit padi dari persemaian, satu bongkol batang padi yang sudah berbuah, gambar mesin giling padi, dan segenggam beras. Lalu, semua bahan itu digunakan sebagai alat bantu menjelaskan pertumbuhan padi, mulai dari penyemaian, penanaman, pemanenan, dan penggilingan menjadi beras. Karena didasarkan hanya pada satu topik pembahasan, dalam satu semester, misalnya, siswa akan mengerjakan 5 proyek dalam satu mata pelajaran saja. Bagaimana jika mereka mengikuti 8 mata pelajaran? Merka harus mengerjakan 40 proyek/semester, atau 2 hingga 3 proyek/minggu. Mungkin ini yang membuat orangtua merasa ‘direpotkan”.

EED: Terima kasih, Pak. Menjadi jelas sekarang letak permasalahannya. Jika kurikulum didisain dengan baik, sehingga beberapa mata pelajaran berkolaborasi dalam satu proyek, kemungkinan jumlah proyek yang harus dikerjakan siswa cukup 5 atau 6 besar per semester untuk semua pelajaran, ya, Pak.

PP: Ya,itu sangat mungkin dilakukan dan hasilnya lebih efektif.

EED: Bisa dijelaskan, Pak, mengapa proyek 5 atau 6 interdisipliner yang lebih besar lebih efektif daripada puluhan proyek kecil?

PP: Tadi sudah saya jelaskan PBL menggunakan proyek atau kegiatan agar siswa secara otonom melakukan eksplorasi, analisis, penilaian, interpretasi, refleksi, sintesis atau kreasi untuk memperoleh pengalaman, dan berdasarkan pengalaman itu siswa merekonstruksi pengetahuan dan keterampilan. Jadi, tujuan akhir dan utama mengerjakan proyek adalah rekonstruksi pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran diawali dengan penjelasan tentang hasil akhir proyek yang dikerjakan. Agar dapat menyelesaikan proyek itu dengan baik, siswa diinformasikan konsep-konsep dan keterampilan apa saja yang harus mereka pelajari dan kuasai, dari mana konsep-konsep dan keterampilan itu dapat diakses, dan apa tahapan mempelajari serta melatihnya. Berbekal penguasaan konsep-konsep dan keterampilan itulah kelompok siswa mengerjakan proyek mereka. Jika proyek berhasil diselesaikan dan kemudian dipresentasikan sesuai dengan kriteria yang ditentukan, berarti kelompok siswa itu sudah menguasai konsep-konsep dan keterampilan dan sekaligus interkoneksi antar konsep dan keterampilan tersebut, yang menjadi target pembelajaran. Semakin kompleks proyek yang dikerjakan, semakin banyak pula konsep dan keterampilan yang dipelajari. Efektivitas utama satu proyek interdisipliner yang lebih besar daripada beberapa proyek kecil terletak pada kompetensi siswa mengkombinasikan berbagai konsep dan keterampilan untuk meneyelesaikan sebuah masalah yang kompleks. Selain itu, penggunaan waktu juga lebih efektif. Mempelajari beberapa konsep dan keterampilan secara terpisah-pisah untuk menyelesaikan beberapa proyek pasti lebih merepotkan daripada mempelajari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan itu secara terpadu. Apalagi dalam kehidupan nyata, kita memecahkan masalah dengan melibatkan berbagai pengetahuan dan keterampilan sekaligus, bukan?

EED: Boleh Bapak berikan satu contoh supaya penjelasan tadi lebih konkrit?

PP:  OK. Mari kita gunakan contoh proyek tentang topik pertumbuhan padi yang tadi. Jika topik ini dipelajari di SMP, misalnya, akan lebih baik jika proyeknya diperluas menjadi “Produksi dan Distribusi Beras”. Untuk menyelesaikannya, dilakukan kolaborasi mata pelajaran IPA dan IPS. IPA berfokus pada konsep “Bertanam Padi” dan IPS menyoroti dari sisi konsep “Pembiayaan dan Distribusi”. Setelah mempelajari konsep yang dibutuhkan, siswa melakukan penelitian ke sawah dan mengamati petani bekerja dan mewawancarai mereka. Siswa juga mengunjungi penggilingan padi dan koperasi petani yang mendistribusikan beras serta mencari tahu biaya yang dikeluarkan dan diperoleh untuk proses produksi dan distribusi. Penelitian juga bisa diperluas hingga ke pasar. Setelah semua data (foto, transkrip wawancara, dan catatan) dianalisis, tiap kelompok siswa kemudian membuat laporan dan presentasi. Jika beberapa kelompok mengerjakan kelompok yang sama, laporan mereka dibandingkan untuk menghasilkan laporan paripurna yang lebih bagus. Anda lihat, disetiap tahapan pelngerjaan proyek itu, siswa berkomunikasi dengan berbagai pihak, mencatat, mengokfirmasi dan menganalisis temuan, menulis laporan, merancang presentasi, dan banyak kegiatan lain yang bermuara pada pembentukan pengetahuan dan keterampilan.

EED: Luar biasa, Pak! Semakin terlihat keunggulan PBL. Siswa tigak hanya sekedar mengetahui, tapi juga mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan nyata. Terima kasih karena sudah membuat fenomena ini semakin jelas. Kalau begitu, pembelajaran tidak harus dilakukan di kelas, ya, Pak. Justru terjun ke lapangan memberi hasil yang lebih nyata.

PP: Lokasi pengerjaan proyek tentu saja bergantung pada objek proyek yang dikerjakan. Proyek “Produksi dan Distribusi Beras” perlu ke lapangan. Tapi diskusi antar anggota kelompok bisa dilakukan di mana saja yang dirasakan sesuai. Lalu, kalau proyeknya adalah pementasan drama untuk mata pelajaran Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, saya kira cukup dilakuan di sekolah.

EED: Karena proyek yang kompleks sulit dikerjakan sendiri, itulkah sebabnya Bapak mengatakan sebuah proyek sebaiknya dikerjakan berkelompok, bukan mandiri? Mungkin saja ada siswa yang kurang berkontribusi. Nanti yang kompeten hanya anggota yang aktif saja.

PP: PBL itu kan berlandaskan konstruktivisme. Artinya siswa membangun pengetahuan dari kombinasi pengalaman lama dan pengalaman baru yang diperolehnya ketika mengerjakan proyek. Setiap individu memiliki preferensi dan kelebihan serta kekurangan pada bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu. Justru dengan bekerja dalam kelompok setiap siswa akan berbagi (memberi dan menerima) pengetahuan dan keterampilan. Si X yang unggul dalam pengetahuan A dan keterampilan B akan memperkaya pengetahuan si Y yang penguasaannya lebih rendah tentang  pengetahuan A dan keterampilan B. Sebaliknya, si Y mungkin akan memperkaya si X di bidang pengetahuan C dan keterampilan D. Hal yang sama terjadi kepada anggota lainnya. Jangan lupa, lho, koeterampilan untuk bekerja dalam tim sangat dibutuhkan di era Teknologi 4.0. selain itu, proyek berkelompok juga mengasah kepemimpinan dan komunikasi. Jika dalam kelompok ada siswa yang kurang berkontribusi, di situlah peran guru untuk memotivasi dan memberdayakan agar sesama anggota kelompok berbicara dari hati ke hati untuk membentuk sinergi.

EED: Ya…ya… benar, Pak. Ini mengingatkan saya pada “complain” sebagian orangtua. Ternyata salah satu penyebab orang tua “terganggu” karena tidak tega melihat anak mereka (khususnya yang masih di sekolah dasar) berjibaku sendiri hingga tengah malam, bahkan kadang-kadang tertekan karena proyeknya tidak kunjung selesai. Karena ketidaktegaan itu, orangtua pun ikut mengerjakan proyek tersebut, sambil ngomel-ngomel dalam hati… ha…ha…ha…

PP: Betul. Orangtua mana yang tega membiarkan anaknya yang masih kecil mengerjakan proyek hingga tengah malam? Ha…ha… Tapi, meskipun proyek dilakukan dalam kelompok, keterlibatan orangtua dalam PBL sebenarnya diperlukan, lho.

EED: Ya…ya..lah, Pak. Mereka harus memberi dukungan finansial untuk ongkos ke lapangan, membeli bahan dan peralatan proyek, menyiapkan konsumsi bagi anggota kelompok anaknya jika mereka berkerja di rumah mereka.

PP: Itu masih sebagian. Sebenarnya orangtua bisa jadi narasumber. Landasan konstruktivisme adalah pengalaman. Interaksi dengan orang tua, apalagi jika yang bersangkutan memiliki keahlian yang terkait dengan proyek yang dikerjakan, juga sumber pengalaman berharga. Oleh sebab itu, memberikan bimbingan dan konsultasi perlu dilakukan orang tua. Yang tidak baik adalah jika orang tua mengambil alih dan menyelesaikan proyek itu.

EED: Wah…setuju 100%, Pak! Justru dalam konteks seperti inilah kemitraan sekolah dan orangtua perlu diwujudkan. Terima kasih, atas waktu dan penjelasan Bapak. Semoga guru dan orangtua yang membaca hasil wawancara ini memperoleh pemahaman yang lebih baik. Kontradiksi yang ada juga bisa dihilangkan. Selamat Hari Pendidikan Nasional, Pak. PP: Terima kasih juga untuk waktu Anda hingga kita bisa berdiskusi. Selamat Hari Pendidikan Nasional, juga.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.