The Development of Nautical Tourism (Dev-Natur): Pemanfaatan Sebuah “Larangan” Berbasis Socialculturetoursim Guna Memberantas Kemiskinan Kabupaten Tegal di Era Industri 4.0

Bagja Riyanto (3601416018)

Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Universitas Negeri Semarang

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara kepulauan, telah diakui dunia internasional melalui konvensi hukum laut PBB ke tiga, United Nation Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS 1982), keberadaan laut menjadi penopang ekonomi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 7,87 juta jiwa atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional menggantungkan hidupnya dari laut. Mereka tersebar di 10.666 desa pesisir yang berada di 300 dari total 524 kabupaten dan kota se-Indonesia. Dilihat dari faktor kelautan Indonesia sangat berpeluang menjadi negara yang maju dan besar. Pembangunan dibidang bahari sudah dirancang agar Indonesia menjadi lebih baik dan bisa mengurangi tingkat kemiskinan apalgi di era revousi industri 4.0 yang kian hari terus berkembang. Namun faktanya, pembangunan bidang bahari hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal tersimpan potensi SDA yang sangat besar.

Hal tersebut menyebabkan kontribusi sektor bahari terhadap PDB masih rendah. Padahal masih banyak potensi yang perlu dimanfaatakan untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia salah satunya di manfaatkan dalam sektor kepariwisataan. Hasil riset Wolrd Bank, sektor pariwisata adalah penyumbang yang paling mudah untuk devisa dan pendapatan domestik bruto (PDB) suatu negara. World Bank mencatat investasi di pariwisata sebesar US$ 1 juta mampu mendorong 170% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut merupakan dampak ikutan tertinggi suatuu industri kepada negara. Karena bukan hanya dengan adanya pariwisata berdampak bukan hanya pariwisata itu sendiri melainkan usaha kecil menengah seperti kuliner, pusat oleh-oleh, cenderamata, transportasi dan lainnya. Kemudian menurut Indeks Daya Saing Pariwisata menurut World Economy Forum (WEF) menunjukan perkembangan yang sangat baik. Indonesia naik delapan point dari 50 pada tahun 2015, ke peringkat 42 pada tahun 2017.

Indonesia dinilai sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai 25,68%. Sedangkan industri pariwisata di kawasan Asia Tenggara hanya tumbuh 7% dan sementara dunia hanya berkembang sebesar 6%. Hal tersebut merupakan peluang besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satu daerah yang memiliki potensi pariwisata yang baik dengan memanfaatkan perairan adalah di daerah Kabupaten Tegal. Kabupaten Tegal mempunyai sumber daya alam perairan yang sangat besar dan berpotensi sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat setempat yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

Ironinya, Kabupaten Tegal yang memiliki potensi banyak namun menurut Badan Pusat Statistika bahwa penduduk miskin di Kabupaten Tegal masih dikatakan tinggi. pada tahun 2014-2016. Pada tahun 2016 angka kemiskinan di Kabupaten Tegal naik dari 10,09% naik menjadi 10,10%. Berikut adalah data dari Badan Pusat Statistika Kabupaten Tegal terkait Garis Kemiskinan dan Penduduk Miskin di Kabupaten Tegal pada tahun 2014 sampai dengan 2016.

Tabel 1. Garis Kemiskinan dan Penduduk Miskin di Kabupaten Tegal, 2014‒2016

Maka dari itu perlunya suatu usaha yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan. Potensi bahari di Kabupaten Tegal salah satunya adalah Pantai Larangan, di era Indsutri 4.0 akan menjadi tantangan namun disisi lain akan menjadi kesempatan khususnya di sektor kepariwsataan. Pantai yang terletak di Desa Munjuagung Kecamatan Kramat dulu pantai yang dikenal dengan pantai tempat yang dilarang, karena di pantai tersebut untuk dijadikan tempat lokalisasi/larangan. Namun, pantai tersebut sudah tidak lagi digunakan sebagai tempat lokalisasi, tapi keadaannya bisa dikatakan memprihatinkan karena pantai tersebut seakan kurang terawat dan hanya digunakan sebagai para nelayan. Padahal pantai tersebut memiliki keindahan yang luar biasa dan dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pendapatan. Dari latar belakang diatas maka dari penulis memberikan solusi inovatif yang diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Tegal dan dapat meningkarkan produktifitas dan pendapatan masyarakat yakni melalui The Development of Nautical Tourism (Dev-Natur): Pemanfaatan Pantai Bekas Lokalisasi berbasis Socialculturetoursim yang diharapakan dapat mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Tegal.

Development of Nautical Tourism (Dev-Natur)

Development of Nautical Tourism (Dev-Natur) berbasis Socialculturetoursim adalah sebuah konsep pengembangan pariwisata yang berbasiskan sosial dan budaya di era Industri 4.0, artinya dalam pengembangan proses pariwisata dengan memberdayakan masyarakat sekitar dan budaya yang diharpkan dapat meningkatan produktifitas masyarakat di daerah tertentu. Kemudian dalam konsep development of nautical tourism (Dev-Natur) menerapkan atau berbasis konservasi lingkungan. Konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia agar dapat melestarikan alam, konservasi juga disebut sebagai pelestarian atau perlindungan karena secara harfiah konservasi berasal dari bahasa inggris conservation yang berarti pelestarian atau pelindungan. Pada konsep The Development of Nautical Tourism (Dev-Natur) diantaranya terdiri dari (1) merevitalisasi lokasi pantai berbasis konservasi, (2) membangun pariwisata yang berbasis social dan culture, (3) teknik branding melalui T-Market.

1. Revitalisasi Lokasi Pantai Berbasis Konservasi Revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital hidup akan tetapi mengalami kemunduran dan degradasi. Proses revitalisasi sebuah kawasan atau bagian kota mencakup perbaikan aspek fisik dan aspek ekonomi dari bangunan maupun ruang kota. Revitalisasi fisik merupakan strategi jangka pendek yang dimaksudkan untuk mendorong terjadinya peningkatan kegiatan ekonomi jangka panjang. Revitalisasi fisik diyakini dapat meningkatkan kondisi fisik (termasuk juga ruang ruang publik) kota, namun tidak untuk jangka panjang. Untuk itu, tetap diperlukan perbaikan dan peningkatan aktivitas ekonomi (economic revitalization) yang merujuk kepada aspek social budaya serta aspek lingkungan (environmental objectives). Dalam hal ini adalah pantai larangan atau pantai yang teerletak di Munjung Agung Kabupaten Tegal, dimana pantai tersebut pantai bekas lokalisasi yang sudah dibubarkan kemudian kondisi pantai tersebut seakan kurang diperhatikan seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 1 Kondisi Pantai Larangan, Kabupaten Tegal (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Berdasarkan hasil observasi di Pantai Larangan Desa Munjung Agung Kabupaten Tegal atau pantai bekas lokalisasi bahwa kondisi pantai tersebut bisa dikatakan sangat kotor dan di pantai tersebut ramai jika hari minggu, selain hari tersebut bisa dikatakan sepi pengungjung dan minim sarana prasarana. Padahal secara letak dan geografis pantai tersebut memiliki potensi yang sangat luar biasa keindahan pantainya yang tidak kalah dengan pantai lainnya seperti saat sunset dan sunrisenya. Kemudian masyarakat di Desa Munjung Agung memiliki tradisi yang sangat unik yakni tradisi sedekah laut, dan tradisi tersebut dilakukan di pantai tersebut. Dari hasi observasi di pantai tersebut maka perlunya revitalisasi baik sarana prasaran dan kondisi lingkungan berbasis konservasi yang artinya merevitalisasi kondisi tanpa merusak lingkungan dan bahkan menambahkan keindahan lingkungan. Alasan dalam proses revitalisasi pantai berbasis konservasi adalah karena pada dasarnya konservasi memiliki banyak manfaat diantaranya adalah melindungi kekayaan ekosistem alam dan memelihara proses ekologi maupun keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan. Meskipun berbasis konservasi namun dalam proses revitalisasi juga tetap mengikuti perkembangan salah satunya yakni di era industri 4.0, berikut ilustrasi yang penulis kutip untuk proses revitalisasi di pantai larangan Kabupaten Tegal.

Gambar 2. Ilustrasi Revitalisasi Pantai Larangan

Ilustrasi diatas adalah harapan dalam proses revitalisasi pembangunan di pantai larangan Kabupaten Tegal. Namun yang membedakan dari yang lainnya adalah dimana dalam revilaisasi ini berpedoman pada pembangunan konservasi, sebab tidak sedikit pihak ataupun proyek dalam proses revitalisasi kurang memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Diharapkan dengan adanya revitalisasi pembangunan di pantai Larangan, dapat menarik wisatwan baik lokal, nasional ataupun internasional. Dengan adanya revitalisasi ini diharapkan berimplikasi pada pendapatan ekonomi masyarakat dan menambah pendapatan daerah serta bisa mengurangi kemiskinan di Kabupaten Tegal.

2. Tourism based socialculture

Terkait pengembangan pariwisata di suatu tempat agar pengunjung tertarik maka perlunya suatu usaha yang unik agar berbeda dengan tempat wisata lainnya. Hal itu dilakukan dimana dalam proses pengembangan pariwisata berbasis sosial dan budaya. Tourism based socialculture adalah bahwa dalam proses pengembangan pariwisata berbasis sosial dan budaya, dimana dalam proses pengembangan pariwisata dengan cara memperdayakan masyarakat sekitar, dengan tujuan selain meningkatkan perekonomian daerah yakni agar masyarakat lebih produktif dan mendukung untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Hal tersebut bisa dilakukan dalam proses pengembangan wisata yang manapun, dan salah satunya di Pantai Larangan Kabupaten Tegal. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Munjung Agung adalah nelayan, namun dalam mata pencaharian tersebut tidak selalu ada bisa dikatakan mata pencaharian tersebut tergantung dengan kondisi alam. Di Tourism based socialculture dibentuknya pasar banyu jawa. Pasar Banyu Jawa adalah pasar dimana di dalamnya terisi makanan khas daerah, tradisi kearifan lokal (sedekah laut), musik khas, tar-tarian dan dalam transaksinya menggunakan kerang, dan ada satu minggu sekali. Hal itu merupakan strategi untuk meningkatkan pendapatan dan harapanya berimplikasi pada turunnya angka kemiskinan di Kabupaten Tegal.

3. T-Market (Tourism Market)

Dalam pengembangan pariwisata yang wajib dilakukan dan penting adalah terkait strategi pemasaran atau branding. Di era revolusi industri 4.0 dimana kecanggihan teknologi terus berkembang sudah seharusnya masyarakat dimanfaatkan secara bijak salah satunya untuk mendukung perekonomian masyarakat dalam hal ini digunakan sebagai strategi branding dalam menjual tempat pariwisata di Pantai Larangan Desa Munjung Agung Kabupaten Tegal.

Maka yang perlu dilakukan adalah strategi branding dengan mengikuti perkembangan jaman, diantaranya adalah 1) dibuatnya channel YouTube khusus tempat pariwisata Pantai Larangan Desa Munjung Agung ini, dimana konten dalam channel tersebut seperti kondisi keindahan pantai dan lokasi wisata tersebut. Ini dilakukan oleh siapapun baik pemerintah, pengelola, pengunjung ataupun masyarakat lain. 2) Sosial Media, masyarakat sekarang sudah tidak asing lagi dengan sosial media baik facebook, twiter ataupun instagram. Maka dari itu dibuatnya akun tempat wisata ini, yang kemudian dibuatlah kebijakan atau aturan, dimana pengunjung diharapkan mengunggah baik gambar ataupun video dilengkapi dengan caption dan tag yang baik setelah mengunjungi wisata tersebut. Diharapkan dengan adanya tuorism market ini keberadaan pariwisata di Pantai Larangan dapat diketahui orang banyak dan bisa berkunjung yang demikian pula akan berefek atau berimplikasi pada pendapatan masyarakat di Desa Munjung Agung. 3) Serta pembuatan website yang dikhususnya terkait kepariwisataan di Pantai larangan Munjungagung Kabupaten Tegal.

4. Pihak yang Berperan dalam Dev-Natur

Pihak-pihak yang berperan serta dalam Dev-Natur dianataranya adalah:

a. Dinas Pariwisata Kabupaten Tegal

Merupakan tim ahli yang akan memberikan penyluhan/sosialisasi terkait pengembangan pariwisata, pihak dinas pula yang mengawasi dalam proses berjalannya tempat pariwisata tersebut dan mendukung secara pendanaan.

b. Lembaga Sosial dan swasta

Lembaga sosial yang dimaksud disini adalah suatu lembaga yang berfokus pada bidang kepariwisataan, seperti kelompok sadar wisata (pokdarwis), komunitas terkait pariwisata, ataupun busnismen terkait pengembangan pariwisata. Tugasnya adalah seperti mendukung, pendampingan, merencanakan pengembangan pariwsata, dan strategi. Selain itu juga pihak swasta sangat penting

c. Masyarakat dan Pemuda Desa

Melakukan pendampingan secara berkelanjutan, memberikan saan dan masukan untuk perbaikan pariwisata tersebut dan inovasi baik dibidang sosial masyarakat ataupun teknologi yang dapat mendukung pariwisata tersebut. Pemuda atau milineal adalah menjadi unsur yang paling penting dalam pengembangan dalam gagasan ini

5. Strategi Model Implementasi Dev-Natur

Dalam rangka penerapan Sekopiship perlu disusun beberapa tahapan teknis pelaksanaan program agar dapat terimplementasi dengan baik seperti yang diharapkan. Berikut merupakan tahapan teknis pelaksanaan program:

a. Tahap Studi Pendahuluan (Reconaissance Study)

Kegiatan yang dilakukan pertama kali dalam konsep Dev-Natur adalah studi pendahuluan. Tujuan tahap ini adalah untuk mengumpulkan data terkait kondisi lapangan, ketersedian, kesiapan dan kesanggupan seluruh aspek baik masyarakat ataupun pemerintah daerah ataupun investor/busnismen terkait pengembangan pariwisata di Pantai Larangan Desa Munjung Agung Kabupaten Tegal.

b. Tahap Perencanaan (Planning)

Setelah tahap studi telah dilakukan maka selanjutnya adal tahap persiapan. Seperti terkait analisis, waktu pelaksaaan, konsep, strategi ataupun pemeliharaanya dengan masyarakat, pemerintah ataupun busnismen/investor terait pariwisata. Tujuan dari tahap perencanaan adalah ketika dalam proses pembangunan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang ditargetkan.

c. Tahap Pelaksanaan (action)

Tahap pelaksanaan adalah tahap eksekusi lapangan, dimana hal-hal yang sudah dipersiapkan maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan yang telah dibuat sesuai dengan konsep Dev-Natur Pada tahap ini juga dilakukan monitoring dalam proses impementasiannya.

d. Tahap Monitoring dan Evaluasi

Tahap ini dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melakukan monitoring dan evaluasi mulai tahap awal hingga akhir. Pelaku monitoring adalah dinas pariwisata Kabupaten Tegal, busnismen/investor, masyarakat dan pengujung. Tujuan dilakukan monitoring dan evaluasi ini adalah agar apa yang telah direncanakan dapat berjalan secara sesuai.

Permasalah ekonomi di Indonesia yang terus menerus salah satunya adalah kemiskinan. Khususnya di Kabupaten Tegal dimana pada tahun 2014 – 2016 angka kemiskinan mengalami kenaikan. Maka dari itu perlunya usaha untuk memberatas masalah tersebut yakni melalui potensi lokal yang belum dimaksimalkan yakni di sektor bahari melalui The Development of Nautical Tourism (Dev-Natur. Penulis sangat yakin dan optimis apabila gagasan tersebut diimplementasikan dengan komitmen pihak yang terkait maka akan memberantas kemiskinan di Kabupaten tegal dan menuju akselerasi ekonomi Indonesia.

Referensi

Aulia, Nuzulul Fika. 2016. Sedekah Kotor Sapi Sociopreneurship (Sekopihip): Upaya Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Melalui Pemberdayaan Peternakan Sapi dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di abupaten Blora Menuju Indonesia Mandiri 2025. Agriculture Fair.

Badan Pusat Statistika. 2016. Kabupaten Tegal dalam tahun 2016.

Binarwan, Robby. 2015. Taman Bunga Cihideung Bandung Barat Merupakan Tempat Agrowisata Berbasis Masyarakat. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, Vol. 10 No. 1 Desember 2015 ISSN 1907-9419

Gantini, Kariza Devia. 2012. Pengaruh Revitalisasi Produk Wisata Terhadap Preferensi Mengunjungi Lembah Bougenville Resort. Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, Vol.II, No.2, 2012 – 387

Hamzah, Yeni Imaniar. 2013. Potensi Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Interaktif Bagi Pariwisata Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vol 8 No 3 tahun 2013.

Maulana, Addin. 2013. Dampak Pnyelenggaraan Tour De Singkarak Bagi Masyarakat Lokal Provinsi Sumatera Barat. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, Vol. 8 No. 2 Juni 2013 ISSN 1907-9419.

Rahayu, Sugi. 2015. Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. DIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Setiawan, Indra. 2015. Potensi Destinasi Wisata di Indonesia Menuju Kemandirian Ekonomi. Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu UNISBANK. ISSBN: 978-979-3649-81-8.

Sustainable Development Goals 2030. Diakses di https://www.sdg2030indonesia.org pada tanggal 20 Maret 2019.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.