Implementasi Roda Bela Negara Guna Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Upaya Persiapan Generasi Milenial Mengatasi Era Revolusi Industri 4.0

Utari Akhir Gusti (17031081)

utariakhir@gmail.com

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Negeri Padang

PENDAHULUAN

Saat ini, dunia tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0 atau revolusi industri dunia ke-empat dimana teknologi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Era ini telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Seperti yang diketahui pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan, bahkan menjadi pilar utama dalam kemajuan manusia. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya dalam meningkatkan pendidikan. Isu terkait pentingnya pendidikan merupakan isu global tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini diperkuat menurut Dewi, dkk (2014) bahwa keadaan suatu bangsa tentunya sangat dipengaruhi dengan bagaimana kondisi manusia yang berada dalam bangsa tersebut. Tujuan pendidikan yang dimiliki suatu bangsa merupakan tujuan dari bangsa tersebut. Oleh karena itu, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan merupakan bagian terpenting dalam pilar kemajuan suatu bangsa.

Salah satu sistem pendidikan yang populer pada saat sekarang ini adalah pendidikan  karakter yang memiliki 18 karakter utama. Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam sistem pendidikan di Indonesia, karena pada sistem pendidikan karakter mencakup dari komponen yang diharapkan oleh Indonesia untuk generasi kedepannya khusunya pada revolusi 4.0, tidak hanya diperlukan kecerdasan dalam dunia pendidikan namun juga pendalaman karakter. Buktinya, para pendiri negeri ini secara nyata telah menuangkan nilai-nilai karakter tersebut sebagaimana terlihat jelas pada seluruh sila-sila Pancasila sebagai dasar negara, sebagaimana diketahui bahwa seluruh sila-sila Pancasila merupakan landasan, filsafat dan tujuan pendidikan negara. Megawangi (2004: 35), Wolfgang, et.al. (2006), dan Rawana, et.al. (2011:129) menyatakan bahwa penanaman nilai-nilai karakter sangat penting untuk membentuk kepribadian seorang peserta didik. Oleh karena itu, dalam menciptakan proses belajar-mengajar yang baik diharapkan guru mencari strategi-strategi dan metode-metode pembelajaran agar nilai-nilai karakter tersebut terwujud melalui pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik.

Pendidikan karakter dalam dunia pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar. Hal ini diperkuat oleh Khusniati (2012) mengenai data tentang dunia pendidikan yang kembali dihebohkan oleh peristiwa tawuran antarpelajar yang kembali terjadi di ibukota. Akibat kejadian ini, seorang pelajar yang sempat dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo karena luka parah dikabarkan telah meninggal (Trisna, 26 September 2012). Bukan hanya pada kalangan remaja, di tingkat elit DPRD pun kita sudah terbiasa mendengar tentang adanya kasus korupsi yang merugikan negara hingga triliyunan rupiah. Belum lagi kasus suap dan yang lainnya. Mazzola (2003) melakukan survei tentang bullying (tindak kekerasan) di sekolah. Hasil survei sebagai berikut: (1) setiap hari sekitar 160.000 siswa mendapatkan tindakan bullying di sekolah, 1 dari 3 usia responden yang diteliti (siswa pada usia 18 tahun) pernah mendapat tindakan kekerasan, 75-80% siswa pernah mengamati tindak kekerasan, 15-35% siswa adalah korban kekerasan dari tindak kekerasan maya (cyber-bullying). Kondisi yang memprihatinkan ini, baik yang dilakukan oleh kalangan remaja maupun orang dewasa berpendidikan, tentunya membuat kita semakin yakin akan pentingnya pendidikan karakter.

Gambar 1. Desain Roda Bela Negara

Kondisi ini sangat berbeda dengan yang ingin dicapai dalam standar pendidikan nasional. Oleh karena itu, diperlukan suatu media tidak hanya mengajarkan materi pelajaran namun juga mampu menyampaikan nilai-nilai karakter terhadap peserta didik dalam upaya menjaga kebinekaan khususnya pada peserta didik, yang dapat menjadi solusi perevitalisasian pembentukan karakter dan pendidikan moral dikalangan masyarakat Indonesia. Roda Bela Negara adalah media pembelajaran interaktif berbasis tematik. yang dimainkan dengan cara memutarkan panah di pusat lingkaran seperti jarum jam. Roda Bela Negara juga di lengkapi dengan 30 bagian arsitektur gambar dan angka pada bagian atas, berbagai kartu sebagai media konstruksi, serta buku panduan permainan untuk guru. Penanaman nilai-nilai karakter dalam Roda Bela Negara juga dirancang seefektif mungkin. Sehingga, peserta didik mampu menjadi generasi yang berkarakter berdasarkan nilai-nilai pancasila yang dapat menjaga perastuan dan kesatuan di Indonesia.

Gambar2. Disain Aplikasi

Model pembelajaran yang diterapkan pada Roda Bela Negara adalah menggunakan lingkaran bergambar disetiap kotak pada langkah permainan menggunakan jarum, dimana terdiri dari 30 kotak dengan beberapa kartu berisi petunjuk, 10 kotak/30 kartu ilmu dengan nilai 5 poin, 10 kotak/30 kartu tantangan dengan nilai 10 poin, 4 kotak/10 kartu gembira dengan nilai 5 poin, 3 kotak bonus dengan nilai 5 poin, dan 3 kotak zonk dengan nilai 0 poin serta di lengkapi dengan buku panduan untuk guru.

Aturan permainan Roda Bela Negara:

  1. Guru menjelaskan langkah permainan dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui media Roda Bela Negara dengan menggunakan buku pedoman permainan kepada peserta didik.
  2. Permainan hanya dapat dimainkan oleh 2 tim sampai 6 tim pemain. Setiap tim terdiri dari 3-5 orang anggota. Permainan ini juga bisa dimainkan perorangan.
  3. Semua peralatan permainan harus lengkap yaitu papan Roda Bela Negara, kartu petunjuk, dan buku panduan untuk guru.
  4. Semua pemain boleh memulai permainan dari kotak mana pun dan berakhir tergantung pada saat jarum berhenti pada kotak tertentu nantinya.
  5. Terdapat beberapa jumlah kotak zonk dan kotak bonus yang terletak pada kotak tertentu pada papan permainan.
  6. Untuk menentukan siapa yang mendapat giliran pertama, biasanya dilakukan suit oleh setiap pemain.
  7. Pada saat gilirannya, pemain memutar jarum dan harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang tertera di kotak papan Roda Bela Negara serta pemain juga mendapatkan nilai sesuai poin yang tertera pada kotak dimana pemain itu berhenti.
  8. Bila pemain berhenti di kotak zonk berarti pemain mendapatkan nilai 0, bila pemain berhenti di kotak bonus berarti pemain mendapatkan nilai 5.
  9. Bila pemain berhenti di kotak gembira, pemain harus mengambil satu kartu gembira. Begitu pula saat pemain berhenti di kotak ilmu, pemain harus mengambil satu kartu ilmu serta pada saat pemain berhenti di kotak tantangan, pemain juga harus mengambil satu kartu tantangan dan mengikuti petunjuk-petunjuknya.
  10. Guru mengawasi peserta didik bermain sambil memperhatikan perilaku pemain dalam melakukan permainan Roda Bela Negara serta membantu menjelaskan pengetahuan yang didapatkan dari permainan tersebut.
  11. Pemenang didapatkan apabila salah satu pemain telah mengumpulkan 100 poin dari permainan Roda Bela Negara ini.
  12. Waktu permainan selama 1 kali jam pelajaran.

Roda Bela Negara dirancang menjadi salah satu inovasi media pembelajaran yang memberikan nilai jual tinggi yang dapat berorientasi pada profit bagi pengembang media pembelajaran dengan konsep “belajar sambal bermain” yang berkualitas. Hal ini dikarenakan Roda Bela Negara mampu menanamkan nilai-nilai bela negara sejak dini serta sebagai bentuk perevitalisasian moral dan budi pekerti dikalangan siswa sekolah dasar dengan pengembangan sarana dan prasarana pembelajaran PKN berbasis permainan. Untuk tahapan selanjutnya roda bela negara akan di jadikan menjadi sebuah aplikasi yang dapat diakses dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga roda bela negara memiliki peranan penting dalam menyukseskan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0.

Perevitalisasian pembentukan karakter dan pendidikan moral dikalangan masyarakat Indonesia sejak dini menjadi tujuan utama pembelajaran dalam Roda Bela Negara ini. Selain itu, Roda Bela Negara juga dirancang untuk mendidik generasi emas di seluruh wilayah Indonesia dari pengaruh budaya asing yang masuk serta tertanamnya nilai-nilai karakter. Dengan tertanamnya nilai karakter pada peserta didik diharapkan mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Abidinsyah. 2013. Urgensi Pendidikan Karakter dalam membangun Peradaban Bangsa yang bermartabat. STIKIP PGRI Banjarmasin.

Abdul Majid, 2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Arief S. Sadiman, dkk. (1986). Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.6 Media Pendidikan. Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: CV Rajawali.

Departeman Agama RI, 2009, Pedoman Penyusunan pembelajaran Tematik PAI SD.

Desmita, 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.

Dimyanti dan Mudjiono.2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Elida Prayitno. 1989. Motivasi Dalam Belajar . Jakarta : Depdikbud.

Hamzah B. Uno & Masri Kuadrat, 2009. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Jalaluddin, 2008. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Maksudin, 2004. Pengembangan Metodologi Pendidikan Agama Islam Di SMU. Yogyakarta: LESFI.

Manullang, Belferik. 2013. Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045. FIK: Universitas Negeri Medan

Sadiman, Arief.s, dkk. 2008. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sanaky, Hujair Ah. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta : Safiria Insania Press.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.