Kolaborasi Milenial menggapai Kehidupan yang Keberlanjutan bagi Masyarakat 4.0

Anton Agus Pratomo (19818184)

(antonaguspratomo313@gmail.com)

Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung

PENDAHULUAN

Negara yang besar adalah negara yang mampu terus berkembang di tengah kerasnya perubahan zaman. Begitupun dengan seorang manusia, manusia akan berkembang dan dikatakan hebat apabila mampu mengikuti perubahan zaman dengan segala tantangan yang ada di dalamnya dan juga dapat berkarya dan berinovasi untuk membuat perkembangan zaman semakin terasa manfaatnya bagi seluruh lapisan masyarakat di sekitarnya.

Pada awal ke-21 ini, Bumi kita semakin merubah penampilannya, perubahan-perubahan besar yang biasa kita sebut Revolusi Industri sudah memasuki generasi selanjutnya. Revolusi industri sendiri telah melewati berbagai generasi. Generasi pertama diinisiasi dengan munculnya mesin uap pada akhir abad ke-18 dan menggantikan tenaga manusia yang sebelumnya banyak digunakan pada Industri abad 18. Berikutnya penemuan motor pembakaran dalam dan pembangkit tenaga listrik yang memicu kemunculan mobil, pesawat telepon, pesawat terbang, dan berbagai mesin berbasis tenaga listrik dan minyak. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital, mesin otomasi, dan internet.

Revolusi industri generasi ke-4 sekarang ditandai dengan kemunculan super komputer, kendaraan tanpa pengemudi, robot pintar, editing genetik, dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia dapat lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang kiranya disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman dari World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Pada era Revolusi industri 4.0 ini pula, persaingan antar individu Homo Sapiens untuk dapat mengambil peran lebih dalam  pergaulan dunia semakin terlihat jelas. Setiap orang seakan memiliki hasrat lebih untuk memiliki, menguasai, dan memonoli pergaulan dunia.

PEMBAHASAN

Karakteristik revolusi industri 4.0 sangatlah cepat sehingga menuntut suatu perubahan nyata dari setiap pihak. Revolusi industri terdahulu telah memakan banyak sekali korban termasuk perusahaan-perusahaan incumbent berskala internasional. Pada tahun 90-an, Polygram tercatat sebagai perusahaan rekaman terbesar dunia. Namun terpaksa gulung tikar pada tahun 1998 dan bertekuk lutut kepada teknologi mp3. Begitupula Nokia yang harus rela melepas sebagian besar kepemilikannya dan diakuisisi oleh Microsoft pada 2014 setelah berjuang mati-matian mempertahankan kejayaannya. Ukuran besar perusahaan tidak serta merta menjadi jaminan kesuksesan di era revolusi kali ini, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi gemilang. Hal ini ditunjukkan oleh Traveloka yang mengancam pemain-pemain besar pada industri jasa pariwisata atau Grab yang mengancam pelaku usaha pada industri transportasi.. Besarnya suatu perusahaan bukan menjadi jaminan menjadi terkuat, namun perusahaan yang mampu beradaptasi dan mencari peluang tercepatlah yang akan survive di era revolusi industri 4.0 kali ini, begitu pula sama halnya yang harus dilakukan oleh setiap individu yang ingin meraih kesuksesan pada era revolusi kali ini.

Revolusi industri 4.0 sedikit berbeda dengan pendahulunya, revolusi industri kali ini tidak hanya berbicara mengenai teknologi, namun juga tentang tatanan sosial dan kemasyarakatan dunia. Jika revolusi sebelumnya kebanyakan menggunakan teknologi untuk mengurangi pekerja dan menambah efisiensi, revolusi industri 4.0 menggunakan teknologi guna memberdayakan masyarakat.

Teknologi pada era revolusi industri 4.0 merupakan teknologi yang akan mewarnai kehidupan manusia dalam jangka waktu yang lebih lama di masa mendatang dan bentuk awalnya sudah bisa kita saksikan sekarang. Cloud Technology, kemampuan pemrosesan data dalam jumlah raksasa (Big data), neuroteknologi sudah terlihat sangat menonjol akhir-akhir ini. Namun perlu ditegaskan kembali bahwa Revolusi industri 4.0 bukan sekedar soal teknologi.

Melihat kontestansi setiap bangsa yang begitu besar dan uniknya revolusi industri 4.0, Pemerintah Republik Indonesia jelas tidak bisa diam termangu melihat perubahan-perubahan yang terus terjadi. Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Perindustrian (Kemenperin) telah meluncurkan program “Making Indonesia 4.0” untuk dapat meningkatkan industri manufaktur yang berdaya saing global dan siap berkompetisi secara global di era revolusi industri 4.0. Program ini diluncurkan pada tanggal 4 April 2018 bertepatan dengan acara Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta dan akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, termasuk di dalamnya lembaga riset dan pendidikan.

Dalam panduan program “Membuat Indonesia 4.0”, Kementrian Perindustrian telah membuat 10 prioritas nasional termasuk mengakomodasi standar-standar keberlanjutan (suistainability). Sebagaimana telah kita ketahui bersama, Indonesia memiliki tantangan keberlanjutan dan dapat dijadikan peluang untuk menghadapi revolusi industri 4.0 pada bidang teknologi bersih, electro vehicle, biokimia, dan energi terbarukan. Bahkan dalam bidang energi terbarukan, Indonesia punya target ambisius berupa 23% dari sumber listrik  negara akan berasal dari Energi terbarukan. Target yang bisa dibilang sangat ambisius karena pada tahun 2018 angka ini baru menyentuh di 11,68 % atau 6516,3 MW dari keseluruhan sumber listrik Indonesia.

Menurut Data Perusahaan Listrik Negara (PLN) satu tahun silam, potensi Energi Terbarukan Indonesia mencapai 443 gigawatt (GW), baik itu yang berasal dari dalam bumi, di atas tanah, di laut, udara bahkan hingga energi matahari yang ada di langit. Sementara Indonesia sekarang masih bertumpu keras pada pembangkit listrik tenaga Uap (PLTU) yang menyuplai 24,483 MW atau ±48 % dari total sumber energi listrik Indonesia. Pada era industri 4.0 ini, sebenarnya Indonesia sudah ditampar keras untuk beralih ke energi terbarukan, karena krisis energi dan secara kebetulan revolusi industri 4.0 berbicara tentang keberlanjutan. Namun target ambisius pemerintah Indonesia menghadapi banyak tantangan, kurangnya ahli dan pendanaan dalam bidang energi terbarukan menjadi hambatan utama. Medan sulit di pedalaman Indonesia juga bisa menjadi hambatan tersebarnya energi terbarukan Indonesia.

Sejatinya, Indonesia tidak harus memanfaatkan semua potensi energi terbarukan yang Indonesia miliki. Cukup dengan menempatkan potensi-potensi lokal daerah Indonesia untuk  Mengonversikannya menjadi listrik di daerah tersebut. Misal di Pegunungan Dieng yang memiliki banyak sumber panas bumi, PLN bisa memanfaatkannya untuk membangkitkan listrik skala lokal di sana, atau melimpahnya produksi panen jagung di Gorontalo, PLN bisa memanfaatkan tongkolnya untuk menjadikannya sumber tenaga listrik lokal Gorontalo. Seperti halnya di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan yang sudah dibangun PLTB untuk sumber listrik Sulawei bagian selatan. Jadi cukup melihat potensi apa yang dimiliki oleh suatu daerah dan jadikan itu sebagai sumber energi listrik lokal.

Sebelumnya, sumber energi listrik terbarukan dibagi menjadi dua, yaitu yang tersedia sepanjang tahun seperti batu bara, mikroalga, dan panas bumi. Sumber-sumber ini akan terus bisa menghasilkan listrik selama bahan baku ada. Kedua yaitu yang tergantung musim atau tidak tersedia sepanjang tahun, seperti angin, aliran air, gelombang air laut, dan sinar matahari. Jenis kedua ini tidak bisa diprediksi ketersediannya secara terstruktur.

Dengan cara pemanfaatan lokal ini, setiap daerah sudah memiliki sumber listrik masing-masing sehingga pemerintah tidak perlu terlalu pusing memikirkan pasokan listrik secara nasional. Pemerintah Indonesia cukup memikirkan back up secara nasional dari energi terbarukan lokal. Back up yang digunakan harus memiliki ketersediaan terus menerus sepanjang tahun dan dalam musim apapun. Tapi kembali lagi, karena setiap daerah sudah punya sumber energinya masing-masing, back up ini hanya diperlukan dalam waktu-waktu tertentu dan di daerah tertentu yang sumber energi terbarukannya tidak tersedia sepanjang tahun.

Tugas milenial disini adalah mencari potensi-potensi energi terbarukan di setiap daerah dan menghimpunnya menjadi sebuah sumber data yang sewaktu-waktu pemerintah butuhkan, Pemerintah tidak perlu melakukan ekspedisi yang  memakan waktu lama dan biaya yang cukup tinggi. Pengumpulan data ini juga dapat menjadi daya tarik bagi investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri apabila ingin berinvestasi di sektor energi terbarukan di Indonesia. Investor cukup memilih di sumber apa mereka bisa berinvestasi dan hal itu cukup mengacu terhadap big data yang kita miliki. Dengan cara ini hambatan biaya pembangunan pembangkit listrik akan berkurang drastis.

Selanjutnya milenial bisa menjadi salah satu tonggak pencerdasan masyarakat 4.0. Apa itu masyarakat 4.0? Sebelumnya sudah disampaikan bahwa Revolusi industri 4.0 itu berbicara mengenai keberlanjutan. Maka sebesar apapun pemerintah Indonesia mencurahkan tenaga ke ranah energi terbarukan, tidak akan mungkin tercapai jika masayarakatnya masih abai terhadap kelestarian lingkungan dan bersikap individualisme. Masyarakat 4.0 yang dimaksud adalah masyarakat yang mampu memfokuskan perhatiannya kepada bumi dan kebaikan seluruh penghuninya. Apabila terjadi integrasi antara pemerintah dan masyarakat terjalin harmonis, maka kedigdayaan Indonesia dalam industri energi terbarukan tidak akan terbantah .

PENUTUP

Indonesia dengan segala keunggulan dan potensinya diharapkan dapat membangun industri energi terbarukan yang asalnya bersumber dari potensi lokal setiap daerah di Indonesia. Apabila hal ini dilaksanakan dengan masif dan terstruktur, bukan hal yang mustahil Indonesia dapat menjadi negara berdaulat energi, mampu memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, menggantikan bahan bakar fosil, menjadi komoditi ekspor baru dan menanggulangi masalah krisis energi yang sekarang melanda Indonesia.  

Proses ini masih Panjang dan diperlukan peran aktif dari berbagai pihak untuk menyukseskan program “Making Indonesia 4.0” yang sebagian kecilnya dapat disukseskan dengan membuat industri energi terbarukan di daerah-daerah sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Perlu peran aktif perguruan tinggi dan Lembaga riset untuk dapat mencari lumbung-lumbung energi dan potensi lokal suatu daerah serta mengoptimalkan penggunaannya sebagai sumber energi, peran pengusaha dan pelaku industri untuk dapat membantu proses pengembangan penelitian dan pastinya perlu peran pemerintah sebagai pemangku kebijakan untuk terus berpihak terhadap keberlangsungan industri energi baru terbarukan di Indonesia.

Koordinasi dari berbagai pihak diatas akan menghasilkan suatu gerakan yang besar dan berkelanjutan. Dengan bermodalkan kemampuan milenial dan potensi lokal Indonesia. Indonesia siap menghadapi dan menyukseskan era revolusi industri 4.0 dan menguasai pergaulan dunia.

DAFTAR PUSTAKA

2018. Making Indonesia 4.0. Jakarta. Kementerian Perindustrian.

Schwab, Klaus. 2016. The Fourth Industrial Revolution. Switzerland: World Economic Forum.

Tim HEESI. 2016. Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia. Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.