lestarikarang.id: Inovasi Pelestarian Terumbu Karang Berbasis Crowdfunding Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir Kota Makassar

Muhammad Riszky

Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi

Universitas Negeri Makassar

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara maritim mempunyai potensi di bidang kelautan yang cukup besar dan perlu dikembangkan serta dikelola dengan baik. Dalam hal ini, Indonesia mempunyai luas wilayah perairan sebesar 3.257.483 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 km2 serta jumlah pulau 13.466 pulau. Di sepanjang garis pantai dan sekeliling pulau-pulau yang ada terdapat ekosistem terumbu karang yang mempunyai banyak peranan namun rentan terhadap perubahan. Berdasarkan citra satelit, diperkirakan luasan terumbu karang di Indonesia adalah 2.5 juta hektar (Hadi, Giyanto, Prayudha, Hafizt, & Suharsono, 2018).

Lauretta, Reytar, & Perry (2012) mengemukakan bahwa terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di bumi yang paling produktif dan paling kaya dari keanekaragaman hayati. Terumbu karang menghadapi sederet ancaman yang semakin hebat, termasuk penangkapan berlebihan, pembangunan pesisir, limpasan dari pertanian, dan pelayaran. Ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya laut mendorong masyarakat melakukan eksploitasi besar-besaran dengan metode penangkapan yang bersifat destruktif dan tidak ramah lingkungan sehingga menyebabkan penurunan jumlah tangkapan dan terjadinya kerusakan ekosistem laut terutama terumbu karang.

Secara umum, hasil riset Pusat Studi Oseanografi Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (Hadi, Giyanto, Prayudha, Hafizt, & Suharsono, 2018) mengemukakan bahwa kondisi terkini terumbu karang di Indonesia sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari total 1067 site, terumbu kategori jelek sebanyak 386 site (36.18%), terumbu kategori cukup sebanyak 366 site (34.3%), terumbu kategori baik sebanyak 245 site (22.96%) dan kategori sangat baik sebesar 70 site (6.56%). Kota Makassar yang merupakan salah satu kota yang memiliki terumbu karang tidak terlepas dari ancaman kerusakan.Hasil riset menyatakan bahwa Kota Makassar memiliki 14 site terumbu karang dengan 4 site cukup bagus dan 10 site dengan kondisi jelek.

Hasil riset yang dilakukan oleh Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanuddin (Chandra, 2016) menunjukkan adanya tren penurunan kualitas terumbu karang di tiga Pulau Kota Makassar, yaitu Pulau Barang Lompo, Barrang Caddi dan Samalona. Populasi dan kualitas terumbu karang di tiga pulau di pesisir Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menurun drastis. Beberapa faktor eksternal dicurigai sebagai penyebabnya, termasuk proyek reklamasi untuk pembangunan Centre Point of Indonesia (CPI). Kondisi terumbu karang Pulau Barrang Caddi sempat mengalami kenaikan pada tahun 2013, yaitu 67%, dari sebelumnya yang hanya 56 persen. Namun, pada tahun 2014 menurun menjadi 47 %. Pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan hingga 33%.

Gambar 1. Peta Pulau Kota Makssar. ( Loud, 2007)

DISKUSI

Keberadaan terumbu karang dan berbagai biota laut yang merupakan aset berharga keanekaragaman hayati kian hari kian berkurang akibat akibat dari beragam faktor. Fox (2004) mengemukakan bahwa penggunaan bahan peledak dalam menangkap ikan diduga sebagai penyebab utama kerusakan terumbu karang. Penutupan permukaan perairan dan karang dapat menghalangi masuknya intensitas cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis sehingga menyebabkan kematian karang. Sehingga perlunya upaya dalam rehabilitasi terumbu karang seyogyanya dilakukan agar ekosistem laut dapat tetap hidup dan berjalan seimbang.

Masyarakat sebagai salah satu aspek penting dalam pelestarian terumbu karang tidak dapat dipisahkan. Pengelolaan terumbu karang tidak dapat hanya dipercayakan kepada salah satu instansi saja, tetapi harus dilaksanakan secara terpadu, termasuk masyarakat. Harjiyatni (2001) mengemukakan bahwa tanpa keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, termasuk ekosistem terumbu karang, maka pelaksanaan pengelolaan tidak akan berhasil. Masyarakat menganggap pengelolaan terumbu karang menjadi tanggung jawab instansi pemerintah saja.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu hal positif dalam penyebaran informasi bahkan sampai kepada membantu secara finansial pengelolaan pelestarian terumbu karang. Terlebih pada era industri 4.0 yang menjadi isu sentral dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Prasetyo dan Sutopo (2018), manfaat dari industri 4.0 adalah mengenai perbaikan kecepatan fleksibilitas produksi, peningkatan layanan kepada pelanggan dan peningkatan pendapatan. Salah satu yang dapat dilakukan dalam pelestarian terumbu karang dengan memanfaatkan masyarakat di tengah arus industri 4.0 adalah dengan pendekatan crowdfunding.

Crowdfunding merupakan skema pendanaan yang mengumpulkan dana dari masyarakat besar (crowd) berbasis internet. Arifin dan Wisudanto (2017) mengemukakan bahwa jumlah pendanaan yang dikenakan pada masyarakat seringkali dalam nominal yang relatif kecil. Namun karena jumlah masyarakat yang berpartisipasi cukup besar, maka dana yang dikumpulkan dapat menjadi sangat besar. Hasil survei yang dilakukan Massolution (2015) menunjukkan bahwa jumlah dana yang dihimpun crowdfunding yang secara global mencapai $ 16,2 miliar di tahun 2014. Jumlah tersebut meningkat dari $ 6,1 miliar di tahun 2013. Penelitian pada platform crowdfunding di Indonesia yang dilakukan oleh Wisudanto & Arifin (2017) menunjukkan dana yang terhimpun dari layanan keuangan tersebut mencapai Rp 0,5 Triliun.

Besaran dana masyarakat yang dapat dihimpun melalui crowdfunding menjadi potensi yang besar dalam upaya melestarikan terumbu karang. Hal tersebut tidak terlepas dari karakter masyarakat dengan perilaku gotong royongnya. Menurut Irfan (2015) bahwa gotong royong terbentuk karena adanya bantuan dari pihak lain, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan kelompok, sehingga di dalamnya terdapat sikap loyal dari setiap warga sebagai satu kesatuan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2015) menunjukkan bahwa bahwa nilai gotong royong dalam tradisi kerja bakti menjadi karakter bangsa yang diturunkan secara turun-temurun oleh para pendahulu yang didalamnya kaya akan nilai edukatif.

Lestarikarang.id merupakan suatu konsep inovasi konservasi terumbu karang dan sumberdaya perikanan berbasis crowdfunding dengan memanfaatkan budaya gotong royong masyarakat. Dalam upaya pelestariannya, masyarakat dapat melakukan donasi yang dapat digunakan masyarakat lokasi sasaran pelestarian terumbu karang untuk mengelola dan melakukan konservasi terumbu karang. Metode yang digunakan dalam pelestarian terumbu karang adalah melalui metode transpalantasi. Terlebih di era industri 4.0 yang menggunakan teknologi sebagai basis dalam beraktivitas sehingga crowdfunding ini memiliki potensi guna mengajak masyarakat berdonasi menjaga kelestarian lingkungan.

Transpalantasi terumbu karang merupakan upaya dalam melestarikan terumbu karang dengan cara mencangkok terumbu karang hidup untuk ditanam di tempat lain maupun di tempat karang yang telah rusak. Soedharma dan Arafat (2006) mengemukakan bahwa tujuannya untuk memperbaiki kualitas terumbu karang seperti meningkatnya tutupan karang hidup dan keanekaragaman hayati. Selain itu, David (2005) mengemukakan bahwa bentuk pemanfaatan transplantasi karang antara lain untuk mengembalikan fungsi ekosistem karang yang rusak.

Salah satu bentuk pelestarian terumbu karang yakni dengan menggunakan bahan limbah botol plastik sebagai media untuk menanam terumbu karang. Penggunaan media botol plastik dipilih karena jumlahnya yang melimpah. Hasil survei yang dilakukan oleh World Atlas (Fimela, 2018) menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara ke-4 pengguna botol plastik terbanyak di dunia. Tercatat penggunaan botol plastik di negara Indonesia mencapai 4,82 miliar Belum lagi melihat pengelolaan sampah yang masih minim. Berdasarkan hasil riset terbaru Sustainable Waste Indonesia (CNN Indonesia, 2018) mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun 2018 sebanyak 24% sampah di Indonesia masih tidak terkelola. 

Meningkatnya penggunaan plastik ini menyebabkan jumlah limbahnya juga meningkat dengan cepat. Menurut Rosidatul dan Lukma (2011) menyatakan bahwa banyaknya limbah plastik disebabkan fungsinya sebagai pengemas bahan yang paling baik untuk air dan botol minuman ringan. Secara umum keunggulan plastik Polyethylene Tereftalat adalah pada sifat-sifat yang baik pada kuat tarik, ketahanan kimia, kejernihan dan stabilitas termal. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan limbah yang mempunyai tujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Penggunaan botol plastik tidak cukup dalam upaya pelestarian terumbu karang. Salah satu aspek penting yang dilakukan adalah dengan menggunakan fosfor sebagai isi dari botol plastik. Susetyo (2008) menerangkan fosfor yang dapat menghasilkan cahaya terjadi melalui fosforesensi. Jenis pancaran yang dapat terjadi apabila suatu elektron yang berada dalam keadaan stabil mendapat tambahan tenaga dari luar akan pindah ke tingkat tenaga yang lebih tinggi, lalu kembali ke keadaan dasar dengan memancarkan foton cahaya. Penggunaan fosfor bertujuan untuk memancarkan cahaya pada malam hari guna menarik perhatian fitoplanton berkumpul sehingga membentuk rantai makanan.

Gambar2. Botol yang diisi fosfor. (Sumber: chinahao.com)

Menurut White (2009), fitoplankton mempunyai sifat fototaksis positif yaitu bergerak ke arah datangnya cahaya. Hal tersebut karena fitoplankton membutuhkan cahaya untuk berfotosintesis. Fotosintesis juga sama halnya dilakukan oleh terumbu karang. Kebutuhan utama untuk aktifnya pertumbuhan karang adalah cahaya untuk kepentingan zooxanthellae pada terumbu karang sehingga terumbu karang dapat tumbuh lebih cepat.

Adapun mekanisme dari pengelolaan lestarikarang,id sebagai upaya pelestarian terumbu karang yakni:

  1. Sosialisasi. Tahap ini meliputi penyuluhan pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang sebagai sebuah ekosistem laut serta peningkatan wawasan pengetahuan mengenai terumbu karang.
  2. Pelatihan. Pada tahap ini, pelibatan masyarakat di sekitar daerah konservasi menjadi aktor penting guna mengelola pembuatan model pelestarian terumbu karang. Sehingga peran warga memiliki dampak yang besar terhadap pelestarian lingkungan.
  3. Aplikasi. Pembuatan model pelestarian terumbu karang dengan menggunakan botol plastik dan botol memiliki berapa tahapan, yakni.
  4. Penempatan: melakukan mapping atau pemetaan guna mengetahui zona kerusakan terumbu karang.
  5. Pembuatan Coral Transplant. Hal ini bertujuan untuk membuat wadah bagi terumbu karang yang telah dicangkok untuk berkembang.
  6. Crowdfunding. Media promosi untuk melibatkan masyarakat dalam pelestarian terumbu karang. Dalam tahap ini, masyarakat yang menyumbang disebut adopter. Adopter ini dapat memilih jenis terumbu karang yang dapat mereka tanam langsung. Adopter nantinya akan mendapatkan fasilitas berupa perkembangan terumbu karang yang telah ditanam setiap 3 bulan melalui situs lestarikarang.id. Selain itu, adopter juga akan mendapatkan sertifikat atas kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.
  7. Promosi. Meliputi kegiatan untuk mempromosikan wisata laut kepada calon wisatawan. Selain itu, kerjasama dengan berbagai instansi dalam rangka pengembangan pariwisata juga dilakukan.
  8. Pemberdayaan. Masyarakat sekitar akan memiliki peran strategis dalam mengelola Kawasan terumbu karang, pengelolaan pariwisata sehingga memiliki pekerjaan tambahan selain menjadi nelayan. Hal ini meliputi pembuatan fasilitas disekitar terumbu karang seperti penginapan, tempat makan dan minum, perahu wisata, penyewaan alat menyelam dan lain sebagainya.
  9. Monitoring. Hal ini bertujuan guna mengawal jalannya program agar tetap sesuai dengan tujuan dan memberikan masukan ketika terjadi masalah. Sehingga langkah selanjutnya adalah mengembangkan potensi pariwisata kawasan konservasi terumbu karang,

PENUTUP

Upaya pelestarian terumbu karang seyogyanya dilakukan guna menjaga ekosistem laut agar tetap lestari. Lestarikarang.id hadir sebagai metode dalam melestarikan terumbu karang dengan memanfaatkan teknologi di tengah arus industri 4.0. Selain itu melihat potensi masyarakat dengan budaya gotong royong menjadikan lestarikarang.id memiliki potensi yang besar menjaga lingkungan hidup khususnya terumbu karang. Untuk itu diperlukan upaya dari berbagai pihak yang terkait agar kerusakan terumbu karang dapat diminimalisir bahkan dihilangkan serta membangun kembali ekosistem laut dengan memnafaatkan berbagai sumberdaya yang ada.

REFERENSI

Arifin, S. A., & Wisudanto. 2017. Crowdfunding sebagai alternatif pembiayaan pembangunan infrastruktur. University Network for Indonesia Infrastructure Development. Palembang.

Chandra, W. 2016. Terumbu karang pesisir makassar rusak parah. dampak reklamasi? http://www.mongabay.co.id/2016/01/15/terumbu-karang-pesisir-makassar-rusak-parah-dampak-reklamasi/. Diakses pada 4 Mei 2019.

CNN Indonesia. 2018. Riset: 24 persen sampah di indonesia masih tak terkelola. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180425101643-282-293362/ri-set-24-persen-sampah-di-indonesia-masih-tak-terkelola diakses 5 Mei 2019.

David, A. 2005. Bioremidiari logam berat dilingkungan perairan dengan bantuan mikrobia. Jurnal Biologi Fakultas Biologi UAJY, 1(2), 23-31.

Fimela. 2018. Miris, indonesia menjadi negara ke-4 penggunaan botol plastik terbanyak. https://www.fimela.com/lifestyle-relationship/read/3779337/miris-indonesia-menjadi-negara-ke-4-penggunaan-botol-plastik-terbanyak diakses 5 Mei 2019.

Fox, H.E. 2004. Coral recruitment in blasted and unblasted sites in Indonesia: assessing rehabilitation potential. Marine Ecology Progress Series, 269, 131-139.

Hadi T. A., Giyanto, Prayudha, B., Hafizt, M., & Suharsono, A. B. 2018. Status terumbu karang indonesia 2018. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia.

Harjiyatni, F. R. 2001. Peran Serta Masyarakat Dalam Pelestarian Terumbu Karang            di Pesisir Pantai Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 7(1), 49-60.

https://www.chinahao.com/product/12224117362/ diakses 5 Mei 2019.

Irfan, M. 2015. Crowdfunding sebagai pemaknaan energi gotong royong terbarukan. Social Jurnal Work, 6(1), 30-42.

Lauretta, B., Reytar K.S., Perry, A. M. 2012. Menengok kembali terumbu karang yang terancam di segitiga terumbu karang. World Resources Institute.

Loud, P. 2007. Map prepared. http://www.peterloud.co.uk/Indonesia/sulawesi-.html diakses 4 Mei 2019.

Massulution, C. L. 2015. Crouwdfunding industry report. htpp://crowd-expert.com/crowdfunding-industry-statistics/ diakses 5 Mei 2019.

Prasetyo, H. & Sutopo, W. 2018. Industri 4.0: Telaah klasifikasi aspek dan arah perkembangan riset. Jurnal Teknik Industri, 13(1), 17-26.

Rosidatul & Lukma . 2011. Proses degradasi limbah rumah tangga terhadap bakteri tanah. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Sari, A. M. 2015. Menegakkan tradisi kerja bakti sebagai bentuk revitalisasi nilai gotong royong. Departemen Pendidikan Sastra Jepang. Universitas Airlangga.

Soedharma, D., Arafat, D. 2006. Perkembangan transplantasi karang di indonesia. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. IPB.

Susetyo, W. 2008. Spektrometri gamma dan penerapannya dalam analisis pengaktifan neutron. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

White. 2009. Histopathological alterations in gills of white shrimp, litonaeus vannamei (boone) after acute exposure to cadmium and zinc. Bull of Environmental Contamination and Toxicology, 82(1), 90-95.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.