VIRAL! Strategi untuk menjawab Tantangan Sosial Budaya di Era Revolusi Industri 4.0

Iqwar Agam Saputra (1810503005)

agams778@gmail.com

S1 Teknik Sipil

Universitas Tidar, Magelang

Pendahuluan

Magelang adalah salah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya. Magelang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Letak Magelang dikelilingi oleh lima gunung yaitu: Sumbing, Merbabu, Merapi, Andong dan Menoreh. Corak budaya yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Magelang dipengaruhi oleh letak Kabupaten Magelang yang berdekatan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), budaya masyarakat jawa dan karakteristik masyarakat agraris daerah pegunungan.

Kabupaten Magelang memiliki banyak objek wisata, salah satu yang dikenal sebagai warisan dunia adalah Wisata Candi Borobudur. Dengan topografi pegunungan Magelang memiliki banyak wisata alam, seperti Wisata Alam Magelang Ketep Pas, Curug Silawe, Pendakian Gunung Andong, Pendakian Gunung Sumbing, Pendakian Gunung Merbabu, Grojokan Kedung Kayang, Rafting Sungai Elo dan sebagainya. Kesenian yang terdapat di Magelang diantaranya adalah Ayo Ke Magelang, Dunia Ikan, Soreng, Bangilun-Magelang, Badui-Magelang, Jathilan Campur, Sang Jataka, Buto-Buto Merapi, Sabdo Utomo, Kinara Kinari, dan lain sebagainya.

Banyaknya budaya di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia. Disamping itu karakteristik bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak tertutup, dan saat ini revolusi industri mulai memasuki Indonesia. Perubahan kebudayaan akibat perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia merupakan dampak pasti dari revolusi industri 4.0. Menurut pendapat Selo Soemardjan (tokoh pendidikan dan sosiolog) “Kebudayaan adalah semua perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan yang dapat mempengaruhi suatu sistem sosial, sikap, nilai-nilai, maupun pola yang ada diantara kelompok dalam masyarakat”.  

Dalam era revolusi industri saat ini telah terjadi banyak perubahan fundamental dari evolusi teknologi pada celah kehidupan manusia. Perkembangan dunia digital saat ini sudah mencapai segala aspek kehidupan. Dari segi budaya saat ini di berbagai Negara telah mengembangkan budaya digital (digital culture), yang dimana fleksibilitas memungkinkan membawa pengaruh pada industri media dan pengguna.

Berbagai hal saat ini sangat mudah kita dapatkan informasinya, banyak budaya yang terekam dan tersimpan di jagad maya, dari foto maupun video. Generasi millenial sebagai pengguna lebih menyukai menyimpan aktivitas mereka kedalam sosial media dan berharap kelak dapat membantu mereka mengingat kembali kejadian apa saja yang telah terjadi dan dilakukan pada kehidupannya. Tetapi cukup miris jika semua data kita simpan ke dalam bentuk digital, karena dunia digitalpun tak selamanya aman dan terlepas dari ancaman seperti, hilangnya data akibat virus maupun kesalahan manusia (human error). Oleh karena itu generasi millenial perlu melestarikan budaya bangsa. Tonggak bangsa ini berada ditangan para pemudanya, karena pemudalah yang mampu merubah kemajuan bangsa.

            Sehingga esai yang berjudul “VIRAL! Strategi untuk menjawab Tantangan Sosial Budaya Di Era Revolusi Industri 4.0” bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada generasi milenial potensi mengkolaborsikan perubahan digitalisasi dalam melestarikan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

BUDAYA INDONESIA

Budaya adalah suatu warisan dari leluhur atau nenek moyang kita yang tidak ternilai harganya. Negara Indonesia disebut Negara maritim karena dikelilingi oleh banyak pulau, budaya Indonesia sangat banyak dan beraneka ragam, budaya itulah yang seharusnya kita jaga dan kita lestarikan agar tidak punah ataupun diakui oleh Negara lain.

Indonesia Negara yang sangat kaya dan beragam budayanya, negara Indonesa juga beraneka ragam suku bangsanya. Kesenian yang terdapat di Magelang diantaranya adalah Ayo Ke Magelang, Dunia Ikan, Soreng, Bangilun-Magelang, Badui-Magelang, Jathilan Campur, Sang Jataka, Buto-Buto Merapi, Sabdo Utomo, Kinara Kinari, dan lain sebagainya.

Masuknya budaya asing ke Indonesia di sebabkan salah satunya karena adanya krisis globalisasi yang meracuni Indonesia. Pengaruh tersebut berjalan sangat cepat dan menyangkut berbagai bidang dalam kehidupan. Pengaruh tersebut akan menyebabkan dampak yang sangat luas pada sistem kebudayaan masyarakat menurut Soerjono Soekanto.

Banyak pengakuan dari negara lain terhadap budaya Indonesia diakui atau diclaim oleh negara tetangga merupakan dampak dari masuknya budaya asing yang membuat masyarakat Indonesia terlena. Saat itulah baru Indonesia merasa kehilangan budaya yang harus dilestarikan karena merasa budaya diakui bangsa lain. Adapun Negara tetangga menjadikan budaya kita sebagai aset pariwisata langkah itu sangat menguntungkan. Disinilah peran generasi milenial dibutuhkan dengan memanfaatkan teknologi untuk melestarikan budaya sebagai aset pariwisata mengingat bisa mendatangkan dampak positif bagi Negara kita, Baik dalam bertambahnya pendapatan Negara melalui visa dari pelancong dan kita secara tidak langsung sudah melestarikan budaya kita sendiri.

Tantangan dan Peluang Industri 4.0

Perkembangan teknologi informasi dengan pesat saat ini terjadi otomotisasi yang terjadi diseluruh bidang, teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan secara nyata, digital dan secara fundamental (Tjandrawinata,2016). Revolusi Industri 4.0 sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan. Pengaruh negatif revolusi industri 4.0 yang lebih condong berdampak terhadap sosial dan budaya. Secara tidak langsung pengaruh budaya luar akan masuk secara perlahan dan tanpa kita sadari keberadaannya telah menjadi bagian dari budaya bagi generasi milenial di Indonesia. Perkembangan revolusi industri 4.0 bukan yang menjadi masalah utama, tetapi generasinya  yang menjadi permasalahan utama.

Karakteristik generasi milenial adalah generasi yang yang cepat dalam hal meniru, tanpa memilah baik buruknya sesuatu yang generasi milenial terima. Padahal pada dasarnya sesuatu yang tersebar berasal dari, oleh dan pada generasi milenial itu sendiri. Dalam hal ini sebagian dari mereka menyalahgunakan revolusi industri 4.0. Berdasarkan fakta yang terjadi di tengah masyarakat, sangat banyak pengaruh luar yang telah membudaya di negeri ini. Sederhananya saja satu orang menonton suatu konten dari luar negeri, lalu mengunggahnya kembali dan begitu seterusnya hingga video itu menjadi viral.

GENERASI MILENIAL

Teori generasi (theory of generations or sociology of generations) pertama kali dikenalkan oleh Karl Mannheim seorang sosiologis asal Hungaria dalam sebuah essai yang berjudul “The Problem of Generations” pada tahun 1923. Semenjak muculnya Teori Generasi hingga saat ini dikenal beberapa generasi dengan istilah Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y dan Generasi Z. Regenerasi yang terjadi secara alami membuat terjadinya pergantian pada teknologi, sikap dan gaya hidup dari masing-masing generasi itu sendiri.

Generasi Y adalah generasi yang mendominasi di Indonesia maupun di manacanegara saat ini. Generasi Y sering disebut dengan Millenial Generation, yaitu kelompok muda yang lahir awal 1980 hingga awal 2000 (Horovitz, 2012). Generasi Y adalah generasi yang sering menerapkan kreativitas serta berfokus pada pengembangan diri sehingga cenderung memilih pekerjaan yang menyenangkan bagi mereka dan cenderung berhura-hura (Femina, 2015).

Kecenderungan generasi milenial dalam teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh generasi milenial dalam proses melestarikan budaya Indonesia. Generasi milenial sangat cenderung dengan hal yang menyenangkan dan hura-hura dalam hal positif, juga dekat dengan teknologi. Dilihat dari segi positif sebenarnya hura-hura ini adalah hiburan, banyaknya event pentas seni budaya akan menarik antusias pemuda dan masyarakat untuk melestarikan budaya dengan mengapresiasinya. Dan dengan kemajuan teknologi secara sederhana anak milenial akan dengan senang mengunggah foto atau video dari kegiatan pentas budaya di media sosialnya.

VIRAL STRATEGI PELESTARIAN BUDAYA INDONESIA

Pemasaran Viral adalah strategi dan proses penyebaran pesan elektronik yang menjadi saluran untuk mengkomunikasikan informasi suatu produk kepada masyarakat secara meluas dan berkembang. PemasaranViral berkembang melalui jaringan internet, yang menduplikasikan dirinya menjadi semakin banyak, seperti kerja sebuah virus komputer.​ Pemasaran Viral memerlukan koneksi jaringan Internet dalam penggunaannya.

Profesor Andreas Kaplan dan Michael Haenlein menyatakan bahwa untuk suksesnya sebuah pemasaran viral harus memenuhi 3 kriteria sebagai berikut:

  1. Media dan orang yang bertindak untuk menyampaikan pesan yang sedang dikampanyekan. Orang ini harus mempunyai jaringan sosial yang cukup luas dan dipercaya dan media yang gampang diakses oleh semua orang.
  2. Pesan atau ajakan yang akan dikampanyekan yang mudah diingat dan menggugah orang untuk mengikutinya.
  3. Lingkungan yang mendukung dan waktu yang tepat untuk melancarkan program viral marketing.

Pemasaran Viral menyebarkan informasi dengan cara memanfaatkan data base pengguna Internet yang telah terdaftar dan digunakan secara massal. Contoh yang dapat diambil adalah situs web surat elektronik gratis seperti Yahoo!, Hotmail, dan Google Mail, yang selain memberikan pelayanan email gratis, juga memberikan berbagai penawaran produk bersamaan dengan layanan email tersebut. Contoh lainnya adalah penyebaran informasi / pemasaran viral melalui penyebaran e-book gratis, selain itu ada media sosial yang dapat diakses oleh seluruh pengguna dari belahan dunia.

Pemasaran viral adalah suatu bentuk strategi pemasaran modern yang menjanjikan ketenaran produk yang dipasarkan, dengan melihat tingginya animo masyarakat yang selalu terhubung koneksi internet untuk mengakses fitur-fitur gratis (yang sebenarnya telah diselipkan berbagai macam link yang menjadi terapan dari pemasaran viral). Ide kreatif sangat diperlukan dalam jenis pemasaran ini karena masyarakat pengguna internet cukup kritis dalam memilah informasi mana yang murni sebagai informasi dan mana yang merupakan strategi bisnis.

Viral dapat dimanfaatkan untuk menarik minat dari penonton dalam pentas budaya, festival budaya. Salah satu komunitas seni yang ada di Magelang adalah Komunitas Lima Gunung. Komunitas Lima Gunung beranggotakan para pegiat seni dari kalangan petani dan masyarakat dusun-dusun kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Selama ini mereka tanpa pamrih menggelar hajatan tahunan bernama Festival Lima Gunung secara mandiri.

Festival Lima Gunung dapat menarik seniman dari berbagai daerah Indonesia bahkan dari mancanegara seperti Australia. Sebelum Festival diadakan proses pemasaran viral dengan pembuatan video pesona Indonesia yang diunggah ke media sosial. Dari Media sosial masyarakat banyak mengetahui dan tertarik untuk berkunjung ke acara Festival Lima Gunung. Ini salah satu bukti viral dapat menarik wisatawan mancanegara berkunjung dan mengapresiasi budaya yang ada di Indonesia.

KESIMPULAN

Indonesia membutuhkan sebuah strategi melestarikan budaya. Maka dari itu, penulis mengharapkan dapat terciptanya pelestarian budaya dengan VIRAL!  yang berfokus untuk mengenalkan acara melestarikan budaya di Indonesia. Saya merasa yakin bahwa VIRAL! ini dapat diterapkan dengan baik di Indonesia karena melihat sejatinya Indonesia telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang dikenal dengan era “Revolusi Digital” dimana sudah banyak kemajuan dibidang teknologi seperti semakin kuatnya jaringan internet yang membuat kita akan selalu tersambung kejaringan, terciptanya 1001 sensor baru atau yang biasa disebut big data yang dapat merekam segalanya selama 24 jam sehari.

Alasan lain dari pentingnya penerapan strategi viral ini mengacu pada data Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) Tahun 2017 yang menyebutkan bahwa total pengguna internet di Indonesia berjumlah 143.260.000 orang. Remaja pengguna internet di Indonesia dengan rentang usia 13-18 tahun sejumlah 23.895.768 orang (16,68%) dan rentang usia 19-34 tahun sejumlah 70.942.352 (49,52%). Aktivitas tertinggi pengguna internet ialah aktif chatting sebanyak 128.002.810 (89,35%), pengguna media sosial sebanyak 124.822.438 orang (87,13%). Angka ini tentu dapat menjadi potensi yang mumpuni untuk mewujudkan terciptanya sebuah jaringan dalam proses viral di era revolusi industri 4.0. Hal ini lah yang dapat dijadikan sebagai langkah milenial untuk mengunggah hal yang positif tentang budaya Indonesia demi kelestarian budaya Indonesia.

REFERENSI

The Six Simple Principles of Viral Marketing, Wilson Internet Services, 1 Februari 2005. Diakses pada 21 Mei 2019.

Kaplan Andreas M., Haenlein Michael (2011) Two hearts in three-quarter time: How to waltz the social media/viral marketing dance, Business Horizons, 54(3), 253-263.

Pemasaran viral (Viral Marketing), Marketing Xtra Magazine, 21 Mei 2008. Diakses pada 21 Mei 2019.

Teori Generasi, Natali Yustisia PERBANAS INSTITUTE, 13 Oktober 2016. Diakses pada 21 Mei 2019.

https://www.nusabali.com/berita/28807/dampak-kebudayaan-indonesia-dalam-revolusi-industri-40&hl=id-ID Diakses pada 21 Mei 2019.

http://kongres.kebudayaan.id/kabupaten-magelang/&hl=id-ID Diakses pada 21 Mei 2019.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.