Youtession (Youth Teacer Mission): Program Pemuda Berjiwa Guru Sebagai Solusi Jangka Panjang dalam Menghidupkan Semangat PendidikanBerkelanjutan Era Industri 4.0

Muhammad Yusril Marom (18040564116)

(myusrilmarom@gmail.com)

Program Studi Sosiologi, Universitas Negeri Surabaya

PENDAHULUAN

Guru terbukti ampuh menciptakan peradaban pendidikan berkualitas.  Singapura banyak melakukan investasi peningkatan kualitas guru. Korea Selatan membanjiri guru-gurunya dengan gaji yang berlimpah. Lain lagi Finlandia, menjadi guru di sana adalah hal yang sangat prestisius, sehingga guru menjadi profesi yang berkelas. Bukan tanpa hasil, negara-negara tersebut sukses menyabet posisi papan atas negara dengan kualitas pendidikan terbaik yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2015. Lantas, bagaimana dengan pendidikan Indonesia sejauh ini?

Pendidikan Indonesia dalam perkembangannya juga tak lepas dari perbaikan tiap tahunnya. Namun nyatanya pendidikan Indonesia masih tergolong suram. Hasil survei OECD tahun 2017 menyebutkan Indonesia terkapar di peringkat ke-57 dari total 65 negara. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia adalah rendahnya kualitas guru. Ini diperjelas dengan rendahnya hasil rata-rata Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 yaitu 53,02, dengan pembagian rata-rata nilai professional adalah 54,77, sedangkan untuk rerata nilai bidang pedagogik hanya 48,94. Perolehan nilai tersebut jelas berada di bawah Standar Kompetensi Minimal (SKM), yaitu 55 (Maulipaksi, 2016). Rendahnya hasil UKG menunjukkan bahwa masih banyak guru yang cara mengajarnya kurang profesional, sehingga kesannya tidak menyenangkan. Terlepas daripada hal itu, kualitas pendidikan juga tak luput dari hegemoni revolusi industri 4.0. Mengutip perkataan Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Pendidikan era modern nampaknya tengah mengalami disrupsi kuat yang berakibat pada lengsernya peranan guru ke arah yang semakin jauh. Anak-anak muda saat ini beranggapan bahwa guru adalah pekerjaan kuno, karena sudah tidak relevan dengan derasnya kemajuan teknologi. Ini serupa dengan small research yang dilakukan penulis kepada 70 mahasiswa melalui wawancara dan pemberian kuesioner yang menujukkan kebanyakan generasi muda menganggap sebelah mata profesi guru. Berikut diagramnya:

Semua sentimen buruk tentang guru pada akhirnya berujung pada berkurangnya minat pemuda berkecimpung dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, penulis meneliti data jumlah pendaftar jurusan keguruan saat seleksi masuk perguruan tinggi di sejumlah kampus untuk mengetahui bagaimana minat anak muda menekuni dunia pendidikan. Fakta yang ditemukan adalah peminat jurusan keguruan makin menyusut.

Seperti yang terjadi di Universitas Negeri Medan pada pendaftaran SNMPTN periode 2013-2017 yang menunjukkan peminat jurusan keguruan terus mengalami penurunan. Ini ditandai dengan jumlah peminatnya tahun 2013 sebanyak 47.895 sampai tahun 2017 yang merosot drastis menjadi 24.073. Berikut grafiknya:

Tidak hanya di UNIMED, bahkan universitas yang terkenal dengan basis keguruan yang baguspun mengalami hal senasib. Akumulasi jumlah pendaftar SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri Fakultas Keguruan Universitas Negeri Semarang periode 2014-2017 mengalami penurunan. Semula pada 2014 jumlah pendaftarnya mencapai 25.017, sampai pada 2017 anjlok menjadi 19.924. Berikut grafiknya:

Fakta yang sama mengerikannya juga menimpa kampus pendidikan Universitas Negeri Malang. Jumlah pendaftar SNMPTN Fakultas Keguruan terus mengalami penurunan dari tahun 2014 sebanyak 9132 sampai 2017 menjadi hanya 4682. Berikut grafiknya:

Merosotnya jumlah peminat jurusan keguruan di tiga universitas pendidikan besar tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak generasi milenial yang kurang membuka mata terhadap profesi guru. Fenomena ini sungguh ironis mengingat untuk memperbaiki kualitas pendidikan dibutuhkan pendidik yang berkualitas. Ini senada dengan Anies Baswedan yang menyatakan bahwa kualitas guru adalah kunci terpenting memajukan pendidikan. Namun bagaimana caranya mendapatkan pendidik berkualitas apabila siswanya saja enggan menjadi guru? Rasa-rasanya harapan ini masih “jauh panggang dari api”.

DISKUSI

Penulis berinisiatif membuat gagasan Youtession (Youth Teacher Mission), yaitu program pemuda berjiwa guru sebagai solusi jangka panjang yang solutif untuk meningkatkan semangat pendidikan di kalangan pemuda millennial dalam berkontribusi menghidupkan nuansa pendidikan era industri 4.0. Karakter ‘Pemuda Berjiwa Guru’ digambarkan sebagai sosok pemuda yang cerdas dalam penguasaan ilmu dan berkompeten dalam mengajarkannya sesuai bidang keahlian masing-masing melalui proses pendidikan berkualitas. Youtession dilakukan melalui pengamalan pemuda terhadap nilai-nilai keguruan di berbagai aspek kehidupan. Pemuda dalam konsep ini juga menjadi cikal bakal pelopor pendidikan dalam memajukan pendidikan bangsa, sekaligus mendukung terwujudnya Lifelong Education.

Youtession diterapkan melalui mata pelajaran spesial siswa kelas 3 SMA berbentuk rentetan kegiatan pelatihan mengajar. Program ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada siswa mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan dunia pendidikan di Indonesia. Melalui program ini juga, kebiasaan mindset buruk siswa terhadap profesi guru akan berusaha dihilangkan. Namun perlu diperhatikan, program ini tidaklah menuntut siswa untuk menjadikan guru sebagai profesi utama kelak dimasa depan, melainkan goal dari Youtession adalah menjadikan para lulusan SMA dengan segala bidang keilmuannya setidaknya tau dan bisa mengajarkan secara efektif ilmu yang dimilikinya. Tentunya hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri karena siswa mampu mengamalkan orientasi adanya ilmu, yaitu mengajarkannya supaya menjadi bermanfaat.

Alasan pemilihan siswa kelas 3 SMA karena pada masa tersebut perkembangan kognitif mencapai puncak kematangan, sehingga sangat tepat mereka dilatih untuk memiliki karakter seorang guru. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif anak seusia SMA berada pada tahap Formal operation stage, yaitu tahap terakhir dari tahapan kognitif. Pada saat yang bersamaan pula, siswa kelas 3 SMA akan dihadapkan pada fase penentuan masa depan, di mana di dalamnya mereka harus memilih, apakah harus lanjut kuliahkah, kuliah di manakah, jurusan apakah, dan hal-hal penting lainnya yang berimbas pada impian mereka. Maka, Youtession sangat pas diterapkan untuk bisa membuka lebih luas cakrawala pandangan pemuda mengenai esensi pendidikan yang sesungguhnya. Selain itu, materi dalam Youtession akan menjadi bekal bermanfaat bagi mereka untuk melanjutkan studi pendidikan selanjutnya.

Dalam pelaksanaannya, mula-mula murid akan dibagi ke dalam kelompok belajar beranggotakan 5-7orang. Di setiap kelompoknya akan disediakan  dua guru pembimbing yang sudah berkompeten dalam mengajar. Dari kelompok-kelompok inilah proses pelatihan mengajar akan berlangsung lebih kondusif, dikarenakan jumlah murid sudah dipecah menjadi sedikit, sehingga guru lebih mudah memfokuskan pengajaran.

Kemudian, setiap kelompok akan mengadakan Intensive teaching class, yaitu kelas yang khusus difungsikan untuk mengajarkan tentang karakter guru profesional dengan kemampuan mengajar yang berkualitas. Awalnya, murid diberikan wawasan pengantar mengenai profesi guru, urgensi guru, dan materi pengantar lainnya. Kemudian di sesi berikutnya akan diberikan materi-materi khusus yang berhubungan dengan pengajaran, seperti tanggung jawab guru, skill-skill yang harus dimiliki guru, kompetensi lanjutan guru abad 21, serta hal-hal lain perihal karakter guru. Pada tahapan yang lebih tinggi, praktek memerankan menjadi guru akan lebih ditekankan. Mereka akan diberikan trik-trik jitu mengajarkan materi pembelajaran, cara menyikapi sikap peserta didik, serta diperlihatkan langsung contoh penokohan guru profesional, kemudian nanti beberapa murid akan langsung mempraktekkannya.

Di akhir pembelajaran, guru akan memberikan misi edukatif yang mendukung siswa mempraktekkan langsung proses pengajaran. Berikut misinya:

Supaya misi dapat berjalan lancar, guru pembimbing setiap kelompok akan menyediakan sesi Counseling Learning Method (CLM), dimana guru akan memberikan bimbingan dan konseling lanjutan bagi murid yang masih merasa kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Murid akan sangat dipersilahkan untuk datang menanyakannnya langsung ke guru bersangkutan.

Untuk menyelesaikan misi, pertama, murid harus mengetahui pelajaran apa yang akan diajarkan. Tidak ada pemaksaan dalam pemilihan mata pelajaran dikarenakan mereka bebas mengekspresikan bidang ilmu apa yang akan diajarkan, asalkan mereka tau cara mengajarkannya dengan benar. Kedua, siswa perlu berkonsultasi kepada guru pembimbing mengenai materi yang akan dijarkan. Ketiga, siswa perlu membuat laporan bahan ajar yang nantinya akan diserahkan kepada guru pembimbing dalam bentuk naskah. Dari laporan tersebut, guru pembimbing jadi mengetahui materi apa yang akan diajarkan siswa, sehingga jalannya pengajaran dapat diprediksi sesuai harapan.

Setelah laporan bahan ajar disetujui, barulah siswa mempersiapkan persiapan mengajar. Murid sangat dianjurkan untuk banyak berkonsultasi melalui CLM supaya konsep mengajarnya dapat benar-benar terarah. Prinsip awal yang ditargetkaan di sini adalah bagaimana membuat siswa memiliki sikap percaya diri serta berani dalam mengajarkan ilmu. Kemudian, guru akan lebih menekankan seberapa efektifkah kualitas pengajaran siswa, bukan seberapa lama proses pengajaran.

Saat pelaksanaan misi pertama, kelas didesain sedemikian rupa untuk mendukung kesungguhan proses praktek mengajar supaya berjalan lebih efisien. Beberapa hal dalam kelas berubah. Kursi guru tidak lagi disediakan dalam kelas membuat murid yang diuji harus berdiri sepanjang pengajaran. Ini dilakukan supaya murid tersebut dapat benar-benar fokus memperhatikan kondisi peserta didik yang diajar. Sementara itu, teman-teman satu kelompok murid yang diuji juga akan berdiri di pinggiran kelas mengawasi dan menilai kinerja praktek mengajar. Sedangkan guru pembimbing mengawasi dan menilai dari depan dan belakang kelas. Berikut skemanya:

Usai praktek mengajar akan diadakan evaluasi. Evaluasi bertujuan supaya siswa mengetahui bagaimana penilaian kinerja mengajarnya serta perbaikan yang harus dilakukan.

Untuk misi kedua dan ketiga, murid lebih leluasa menyelesaikannya dikarenakan mereka bebas memilih lembaga pendidikan luar sekolah mana maupun  peserta didik mana yang akan mendapatkan bantuan akademik. Kedua misi tersebut sifatnya berkelanjutan, dalam artian murid diharuskan mengamalkan nilai-nilai keguruan dalam praktek sehari-hari. Dalam hal ini, guru pembimbing bertugas menerima laporan dari lembaga pendidikan terkait hasil kegiatan mengajar siswa di luar sekolah serta laporan video dari siswa. Dari laporan tersebut, guru akan mengevaluasi hasil kinerja pengajaran siswa.

Bagi siswa yang banyak melakukan kegiatan pendidikan dalam kesehariannya, maka akan diberikan hadiah. Sebaliknya apabila murid jarang mengamalkan ilmunya, maka akan dikenakan hukuman. Konsep reward & punishment tersebut berfungsi untuk memotivasi siswa agar selalu berlomba-lomba dalam menghidupkan atsmosfer pendidikan di segala aspek kehidupan, juga mencegah dari tindak apatis siswa yang enggan membagikan ilmunya.

Supaya konsep Youtession dapat berjalan sesuai harapan, penulis merancang analisis SWOT guna memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada penerapan Youtession kedepannya.

Strength

  1. Lebih terstruktur dan terencana karena dipantau langsung oleh segenap guru di sekolah, serta terintegrasi dengan lembaga pendidikan lain di luar sekolah yang juga turut terlibat dalam program ini
  2. Proses pembelajaran lebih berkualitas dikarenakan murid dibagi menjadi satuan yang lebih kecil (kelompok) supaya pembelajaran guru dapat terfokuskan dan kondusif
  3. Adanya partisipasi lembaga pendidikan di luar sekolah yang berperan dalam konsep Youtession, sehingga transformasi ilmu dapat berlangsung dengan optimal
  4. Peranan guru di sekolah menjadi lebih maksimal karena semua guru dapat diberdayakan untuk membimbing murid
  5. Youtession merupakan gagasan positif pendidikan berkelanjutan yang menunjang terwujudnya konsep pendidikan seumur hidup, sehingga memiliki nilai yang potensial untuk direalisasikan

Weakness

  1. Membutuhkan pola kerjasama atau integrasi yang kuat antara pihak sekolah dan lembaga pendidikan di luar sekolah
  2. Menguras perhatian penuh terhadap kinerja siswa dalam memaksimalkan peranan mengajar

Opportunity

  1. Meningkatkan kemampun sofskill siswa, utamanya dalam hal mengajar
  2. Meningkatkan kesadaran betapa pentingnya guru dibutuhkan untuk memajukan peradaban bangsa
  3. Meningkatkan kualitas pengajaran siswa dalam mengajarkan ilmunya
  4. Terwujudnya pemuda berjiwa guru yang akan menjadi cikal bakal dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia
  5. Berpeluang menyukseskan anugerah bonus demografi untuk mempersiapkan kelebihan SDM menjadi generasi milenial yang berjiwa guru dalam memajukan pendidikan Indonesia

Treath

  1. Pengaruh globalisasi di era industri 4.0 mendatangkan arus perubahan besar-besaran yang dapat mengancam eksistensi guru hakiki
  2. Kedatangan tekonologi super canggih memungkinkan dalam menafikan peranan guru serta melemahkan keinginan menjadi guru sejati
  3. Adanya profesi lain yang dirasa lebih menggiurkan karena dianggap lebih menguntungkan

Pada akhirnya, Youtession sangat tepat diterapkan di era super modern saat ini. Selain berfungsi untuk menepis pengaruh buruk globalisasi terhadap pendidikan, Youtession diperlukan sebagai solusi jangka panjang dalam menghidupkan semangat pendidikan melalui optimalisasi peranan pemuda dalam pengamalan karakter guru di seluruh aspek kehidupan secara berkelanjutan. Berikut skema keberlanjutan Youtession:       

KONKLUSI

Konsep pemuda berjiwa guru melalui Youtession dirancang sebagai upaya solutif menghidupkan semangat pendidikan pemuda millenial yang melemah dikarenakan pengaruh globalisai. Adanya konsep ini diharapkan supaya pemuda mampu mengajarkan ilmunya sebagai wujud sinergi dalam memajukan pendidikan melalui pengadaan kegiatan pendidikan di segala aspek kehidupan.

Pengadaan Youtession sangat perlu digalakkan di ranah yang lebih luas. Selain itu, implementasinya juga membutuhkan dukungan banyak pihak. Guru harus senantiasa siap membimbing siswa. Siswa harus siap dibimbing. Dari pihak orang tua juga harus mendukung inisiatif siswa untuk aktif dalam dunia pendidikan. Juga dukungan dari lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dukungan tersebut sangat dibutuhkan demi keberlanjutan Youtession.

REFERENSI

Asmuni. 2012. REKONSTRUKSI PENDIDIKAN INDONESIA: Berguru pada Ki

Hajar Dewantara. Jombang: STKIP PGRI Jombang.

Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, Informasi, dan Kerjasama

(BAKPIK) Universitas Negeri Malang. 2018. Statistik Perkembangan Universitas Negeri Malang (UM). Malang: Universitas Negeri Malang

Data Peminat UNNES. https://data.unnes.ac.id/index.php/akademik/peminat.

Data Pendaftar SNMPTN UNIMED. www.spmb.unimed.ac.id.

Desliana, Maulipaksi. 7 Provinsi Raih Nilai Terbaik Uji Kompetensi Guru 2015.

Kemdikbud, 04 Januari 2016.

Dewi, Saktia Golda Sakina. Nasib Guru di Indonesia.

https://www.its.ac.id/news/2015/05/02/nasib-guru-di-indonesia/.

Rahmansyah. 2017. Pendidikan Indonesia Masuk Peringkat ke 57 Dunia Versi

OECD. https://www.kabarrantau.com/pendidikan-indonesia-masuk-peringkat-ke-57-dunia-versi-oecd/.

Saefududdin, dkk. 2015. Pembelajaran Efektif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Syarif, Roni. Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.