Economic Management System (EMS): Standarisasi Kinerja dalam Mengimplementasi Industri 4.0 menuju Indonesia Bebas Kemiskinan

Tesa Adilla Giani Buffon (180045
dilatesa2673@gmail.com
MAN 2 Ponorogo

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk mencapai 238,5 juta pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Dari proyeksi tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara berpenduduk besar di dunia (Kementerian PPN: 2013). Pertumbuhan penduduk Indonesia yang meningkat setiap tahunnya mengakibatkan timbulnya berbagai macam permasalahan di Indonesia.

Salah satu yang menjadi permasalahan perkonomian di Indonesia yang diakibatkan oleh meningkatnya pertumbuhan penduduk adalah kemiskinan. Dalam hal ini, pemerintah telah melakukan berbagai penanggulangan dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia. Namun tak banyak juga pengaruh yang didapatkan dari penanggulangan tersebut. Dapat dilihat bahwa selama ini pemerintahan menyelesaikan dan mengadaptasikan rancangan strategi penanggulangan kemiskinan yang telah berjalan. Kemudian hal ini dapat dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan.

Oleh karen itu, dibutuhkan sebuah alternatif bagi masyarakat yang tidak mampu, pengangguran, atau pendapatan yang kurang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga dengan ini, penulis memberikan gagasan berupa sistem yang dapat diakses dalam aplikasi android, yaitu “ECONOMIC MANAGEMENT SYSTEM(EMS): Standarisasi Kinerja dalam Mengimplementasi Industri 4.0 menuju Indonesia Kemiskinan.”

Urgensi Masalah

Secara umum, terdapat lima dampak utama dari adanya kemiskinan: (1) Pengangguran, berhubung pendidikan dan keterampilan merupakan hal yang sulit diraih masyarakat, maka masyarakat sulit untuk berkembang dan mencari pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan. (2) Kriminalitas, kesulitan mencari nafkah membuat orang lupa diri sehingga mencari jalan cepat tanpa memedulikan halal atau haram. (3) Putusnya sekolah, mahalnya biaya sekolah mengakibatkan rakyat miskin putus sekolah karena tak mampu membiayai sekolah. (4) Masalah kesehatan, kurangnya pemenuhan gizi akibat kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. (5) Generasi penerus yang buruk, jika anak-anak putus sekolah dan bekerja karena terpaksa, maka akan ada gangguan pada perkembangan mental, fisik dan cara berfikir mereka.

Tujuan dan Manfaat

Tujuan penulisan meliputitiga hal. Pertama, menganalisa faktor permasalahan kemiskinan dalam revolusi industri 4.0 di Indonesia sebagai pendataan awal. Kedua, memberikan solusi alternatif dalam pengelolaan ekonomi dengan mengimplementasi standar kinerja sesuai keahlian dan pendapatan yang dibutuhkan guna mencegah terjadinya tumpang tindih antara pendapatan dan kebutuhan sehari-hari. Ketiga,mengelola setiap permasalahan kemiskinan yang menyebar di kalangan masyarakat agar terbentuknya negara Indonesia yang maju bebas kemiskinan.Dengan digagasnya aplikasi EMS dalam menanggulangi kemiskinan dalam menunjang perekonomian Indonesia, memberikan beberapa manfaat yakni; (1) Memberikan setiap orang untuk memiliki kesempatan bekerja sesuai dengan keahlian dan potensi yang dimiliki; (2) Mengurangi pengangguran dan menghilangkan faktor penyebab adanya kemiskinan; (3) Memudahkan rakyat miskin maupun umum dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian masing-masing dan (4) Menciptakan kemakmuran dalam kehidupan menuju Indonesia bebas kemiskinan.

Permasalahan Umum Kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan (Soekanto, 1982) diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
Permasalahan umum kemiskinan (Abu Ahmadi, 2009) mencakup:

  • Kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
  • Kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
  • Kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Gambaran ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Berdasarkan uraian di atas, maka dibutuhkan sistem pemberdayaan masyarakat dalam menunjang potesi masyarakat sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Dengan begitu, masyarakat miskin dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan potensi yang dimiliki.

Tinjauan Pustaka

Angela Merkel (2014) berpendapat bahwa Industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Schlechtendahl dkk (2015) menekankan definisi kepada unsur kecepatan dari ketersediaan informasi, yaitu sebuah lingkungan industri di mana seluruh entitasnya selalu terhubung dan mampu berbagi informasi satu dengan yang lain.

Masalah kemiskinan bukanlah hal barubagi masyarakat Indonesia.Menurut Soerjono Soekanto (1982) kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.

Standar Kinerja dalam Pengelolan Potensi

Menurut William B. Werther, Jr. dan Keith (1993) standar kinerja merupakan tolak ukur untuk mengukur kinerja karyawan. Maka dalam pengertian lain, standar kinerja adalah tolak ukur minimal, artinya jika prestasi kinerja karyawan dibawah standar kinerja minimal tersebut, maka kinerjanya tidak dapat diterima, buruk, atau sangat buruk. Jika prestasi seorang pegawai berada tepat atau di atas ketentuan batas kinerjanya, maka kinerjanya dapat dipredikat sedang, baik, atau sangat baik. Standar kinerja merupakan identifikasi tugas pekerjaan, kewajiban, dan elemen kritis yang menggambarkan apa yang harus dilakukan.

Aplikasi Economic Management System (EMS) sebagai Solusi dalam Mengatasi Kemiskinan

Lajunya pertumbuhan penduduk di Indonesia menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan. Berbagai strategi dalam menanggulangi kemiskinan telah dikerahkan oleh pemerintah, namun penanggulangan tersebut tak membuahi hasil yang diinginkan. Sehingga penulis membuat gagasan berupa system yang diakses dalam aplikasi android, yaituEMS (Economic Management System) sebagai Standarisasi Kinerja dalam Mengimplementasi Industri 4.0 menuju Indonesia Bebas Kemiskinan.

AplikasiEMS (Economic Management System) merupakan rancangan sistem alikasi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dengan memberikan solusi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan potensi yang dimiliki dengan pendapatan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, masyarakat miskin dapat berpeluang besar dalam memiliki pekerjaan. Masyarakat pun tidak mudah kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran dikarenakan masyarakat bekerja sesuai dengan keahlian dan potensi yang dimiliki.

Aplikasi EMS tak hanya menjadi sarana yang memberikan solusi pekerjaan, namun juga memberikan paparan motivasi dalam meningkatkan potensi setiap orang,pemberdayaan (enabling) arahan sesuai keahlian dan pekerjaan yang dibutuhkan, dan pengakuan hak berupa perlindungan dan pembelaan. Sehingga masyarakat miskin lebih percaya diri dan tak lagi dipandang rendah dikalangan masyarakat yang lebih mampu.

Berdasarkan uraian di atas, menu utama aplikasi EMS dibagi menjadi tiga bagian, seperti paparan pada Tabel 1.

Aplikasi EMS memiliki menu protectingsebagai sarana pembelaan dan perlindungan untuk masyarakat yang memiliki kepentingan atau permasalahan yang patut mendapatkan pembelaan dari pemerintah. Dengan begitu, masyarakat miskin tidak terlalu terpuruk oleh keadaan yang memaksakan masyarakat miskin untuk bersaing di era globalisasi.

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Menjalankan Aplikasi Economic Management System (EMS)

Dalam menjalankan sebuah aplikasi, dibutuhkan beberapapihak yang terlibat agar aplikasi tersebut dapat berjalan sesuai dengan prosedur kerja aplikasi. Pihak yang terlibat dalam menjalankan aplikasi EMS dijelaskan pada Tabel 2.

Keterlibatan pemerintah daerah merupakan hal penting dalam menunjang penggunaan aplikasi EMS oleh rakyat miskin yang tak memiliki gadget agar dapat mengaksesnya dengan mudah. Dengan menyediakan fasilitas umum berupa komputer yang dapat digunakan masyarakat, hal ini sangat berpengaruh dalam penggunaan aplikasi EMS.

Langkah-Langkah Strategis Mengimplementasikan Aplikasi EMS

Tujuan digagasnya aplikasi EMS adalah menanggulangi masalah kemiskinan dan memberikan solusi dalam membentuk masyarakat yang aktif dalam memajukan negara. Maka, dibutuhkan koordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam menjalankan aplikasi EMS agar dapat berjalan sesuai rancangan yang telah dibuat. Berikut ini merupakan arah koordinasi dan langkah strategis yang diperlukan dijelaskan pada Tabel 3.

Berdasarkan koordinasi di atas, penulis menggambarkan langkah-langkah strategis secara sistematis dalam bentukpola untuk mengimplementasikan aplikasiEconomic Management System. Langkah-langkah strategis aplikasi EMS dijabarkan dalam Gambar 1.

Kesimpulan dan Saran

Sistem Economic Management System(EMS) dapat dijadikan sebagai strategi terbaru dalam menanggulangi kemiskinan dan menunjang perekonomian Indonesia pada revolusi industri 4.0. Semua rakyat tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dikarenakan rakyat mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

Dalam mensukseskan aplikasi EMS, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan industrigadget dalam membentuk aplikasi EMS dengan kebijakan dan peraturan yang telah di sesuaikan. Dengan begitu aplikasi EMSakan berjalan sesuai dengan target tanpa ada kendala.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2009. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Kementerian PPN. 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia, Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Merkel, A. (2014). Speech by Federal Chancellor Angela Merkel to the OECD Conference. https://www.bundesregierung.de/Content/EN/Reden/ 2014/2014-02-19-oecd-merkel-paris_en.html, Diakses pada 11 Maret 2017.
Schlechtendahl, J., Keinert, M., Kretschmer, F., Lechler, A., & Verl, A. 2015. Making existing production systems Industry 4.0-ready. Production Engineering, Vol. 9, Issue.1, pp.143-148.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi: Suatu Pengantar.Jakarta Rajawali Press.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.