Food Scraps: Optimalisasi Peran Pemuda dalam Gerakan Food Gathering Dengan Aplikasi 4yo B3rb4gi Guna Mewujudkan Indonesia Peduli Lingkungan dan Makanan di Era Revolusi Industri 4.0

Miftakhul Ihwan (8111418024)

miftakhulihwan45@gmail.com

Universitas Negeri Semarang

Latar belakang

European parlimentary research service dalam Davies (2015) menyampaikan bahwa revolusi industri terjadi empat kali. Revolusi industri pertama terjadi di inggris tahun 1784 dimana penemuan mesin uap dan mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia. Revolusi yang kedua terjadi pada akhir abad ke-19 dimana mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik digunakan untuk kegiatan produksi secara masal, penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur mulai tahun 1970 menjadi tanda revolusi industri ketiga. Saat ini, perkembangan yang pesat dari teknologi sensor, interkoneksi, dan analisis data memunculkan gagasan untuk mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri sehingga munculah kata revolusi industri 4.0 (Prasetyo. 2018;17-26).

Sekenario peramalan pengembangan pencapaian dari industri 4.0 sangatlah berbeda-beda, ada yang memandang bahwa industri 4.0 sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang telah terjadi saat ini, dan ada yang beranggapan bahwa industri 4.0 hanya akan mengakibatkan meningkatnya berbagai persoalan (Fauzan. 2018;1-11), disinilah peran generasi millenial untuk mengeluarkan ide-ide baru yang dapat membawa indonesia menjadi lebih baik lagi. Indonesia sendiri memiliki 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millenial atau berusia 17-37 tahun hal ini mengindikasikan bahwa peran generasi millenial sangat diharapkan menjadi generasi yang dapat membawa perubahan di era revolusi 4.0 (rumahmillenial.com).

Indikasi Permasalahan

Sisa makanan atau makanan sisa (food srcaps) seolah-olah hal yang lumrah dimana-mana. Bukan hanya karena makanan tersebut sudah basi atau tidak layak untuk dimakan, melainkan justru sebagian besar orang di sekeliling kehidupan kita membuang makanan yang masih layak dimakan hanya karena kenyang atau tidak suka. Makanan sisa yang dimaksud adalah bukan makanan bekas di piring-piring melainkan makanan yang berasal dari restaurant, atau prasmanan acara kemasyarakatan seperti: pernikahan, khitanan, acara kampus dan acara lainya yang masih sisa (Rania. 2018).

Tanpa di sadari orang-orang indonesia membuang makanan mencapai 300 kilogram per tahun. Berdasarkan penelitian dari Economist Intelligence Unit pada 2017, Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia dalam hal pembuangan sampah makanan (food waste). Di sisi lain, ada sekitar 19,4 juta penduduk yang harus berjuang untuk bisa makan. Sebuah riset Global Hunger Index (2016) dilansir dari liputan6.com mengungkapkan bahwa semakin tinggi skor Global Hunger Index suatu negara semakin buruk pula situasi kelaparan di negara tersebut. Walaupun angka GHI mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun

2008 yaitu 28% namun indonesia masih tergolong pada tingkat kelaparan yang serius yaitu 21,9% lebih dari 19 juta penduduk indonesia masih kekurangan gizi, bahkan 2 hingga 3 anak dari setiap 100 anak, meninggal sebelum berusia 5 tahun. Indonesia berada di peringkat 3 se asia tenggara dengan 21,9%, Laos 28,1%, kamboja 21,7%, vietnam 14,5%, thailand 11,8%, malaysia 9,7% (Naelufar. 2017). Negara-negara seperti prancis dan australia serta afrika tercatat sebagai negara yang relatif dalam pembuangan makanan yang layak makan yaitu sekitar 6-11 kg per tahun dibandingkan dengan indonesia. Data yang ditampilkan infografis oleh Barilla Center For Food And Nutrition menggambarkan betapa mirisnya negeri ini.

Data lain menunjukan pula bahwa jumlah penduduk indonesia sekitar 255 juta, rata-rata tiap hari menghasilkan sampah 0,7 kg /hari/rumah dari bahan baku makanan sisa. Diperkirakan 1 ton sampah organik menghasilkan 50 kg gas metan. Jika ada 3000 ton sampah diantarannya organik maka menghasilkan 90 ton gas metan yang berkontribusi pada perubahan iklim. Salah satunya gas metan, dan efeknya 21 kali lebih besar dari CO2 sehingga akibatnya dapat merusak atmosfer (Mongabay.co.id. 2018).

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang sudah dipaparkan maka dengan ini penulis menggagas sebuah program Food Scraps: Optimalisasi Peran Pemuda dalam Gerakan Food Gathering dengan Aplikasi 4YO B3RB4GI Guna Mewujudkan Indonesia Peduli Lingkungan dan Makanan di Era Revolusi Industri 4.0.

Selayang Pandang Aplikasi 4YO B3RB4GI

Aplikasi 4YO B3RB4GI merupakan aplikasi yang berbasis android untuk menghadapi permasalahan sosial dan lingkungan serta untuk meningkatkan peran generasi millenial dalam gerakan mengumpulkan makanan sisa (food gathering) dalam mengatasi permasalahan yang sedang dialami oleh bangsa indonesia. Adapun angka 434 yang terdapat pada tulisan aplikasi ayo berbagi mengandung arti tersendiri yaitu angka 4 menandakan bahwa program aplikasi 4YO B3RB4GI akan diadakan uji coba di wilayah jawa tengah selama 4 bulan sedangkan 34 menandakan jumlah provinsi yang ada di indonesia (setelah diadakan uji coba maka akan

beralih mencakup seluruh wilayah indonesia). Sehingga penulis berharap dengan diciptakannya aplikasi 4Y0 B3RB4GI membawa perubahan di era revolusi industri 4.0 untuk menjadi lebih baik lagi. Aplikasi 4Y0 B3RB4GI telah dirancang semudah mungkin untuk dioperasikan sehingga mempermudah penggunaanya dari mulai kaum remaja hingga kaum bapak bahkan orang desa, karena aplikasi ini dirancang untuk dapat digunakan tanpa adanya kesulitan namun bukan berarti fitur-fitur yang ada di dalamnya kurang terpercaya dan canggih dalam penggunaanya, pembagian fitur-fitur yang mudah dipahami dan petunjuk arah aplikasi, yaitu berupa video tentang cara mengoperasikan aplikasi 4YO B3RB4GI dan dapat memilih pengiriman sasaran sesuai keinginan pengguna aplikasi.

Dalam aplikasi ini ada empat menu yang berada di bawahnya yaitu menu kebutuhan, maps, galeri, dan info. Aplikasi ini tidak hanya untuk mengumpulkan makanan untuk dipindahtangankan kepada orang yang membutuhkan melainkan dapat digunakan untuk pemesanan makanan sesuai pesanan dari pengguna aplikasi, yang terdapat dalam fitur menu kebutuhan sehingga pemesan akan menulis pesanan makanan di fitur menu dan dapat melihat daftar menu makanan yang tersedia serta harganyapun relatif murah daripada restaurant maupun tempat makan lainnya. Sehingga dalam aplikasi ini tidak hanya menyalurkan makanan sisa melainkan dapat mendirikan usaha yang berbasis startup dari hasil keuntungan tersebut sebagian akan digunakan untuk memberikan bonus (pembayaran secara sukarela) kepada orang yang mengirimkan makanannya ke pihak-pihak yang membutuhkan ( panti asuhan, korban bencana, dan lain-lain). Selain itu, aplikasi 4YO B3RB4GI juga dilengkapi dengan fitur pemantauan, dengan ini pengguna aplikasi dapat memantau pengiriman ke tempat sasaran yang sudah di pilih oleh pemakai aplikasi sehingga keterpercayaan akan terjamin dan pemakai aplikasi bisa melihat profil pengirim dan profil penerima makanan, serta pengguna aplikasi ini dapat melihat bukti-bukti yang bersifat materiil yaitu bukti foto agenda dilapangan yang terdapat pada fitur menu galeri dan info semua kegiatan transaksi antara pengguna aplikasi dan pemilik aplikasi yang terdapat pada fitur menu info.

Langkah Implementasi

1. Menciptakan Aplikasi

Inovasi aplikasi ini masih tahap perancangan dan membutuhkan waktu 4-5 bulan untuk bisa dioperasikan dan dipasarkan di play store atau oppo store sehingga masyarakat dapat mengunduh dan sudah bisa dioperasikan dalam menangani makanan sisa untuk bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam menghadapi problematika dampak lingkungan yang disebabkan oleh makanan sisa yang ada di wilayah indonesia, namun untuk memaksimalkan kinerja berjalanya program aplikasi ini akan di adakan uji coba di wilayah

jawa tengah dan nantinya setelah program ini sudah mulai baik dan sudah mulai dikenal oleh masyarakat indonesia maka program ini akan merekrut anggota yang tersebar di seluruh wilayah indonesia.

2. Menciptakan Sinergitas dan Partner Perusahaan Tetap

Aplikasi ini bisa segera dijalankan maka perlu adanya sinergitas atau kerja sama berbagai pihak supaya cepat terealisasi, Stakeholder atau sasaran untuk membantu dalam penerapan aplikasi ini adalah Pemerintah desa, BEM mahasiswa dan perusahaan yang tersebar di wilayah indonesia untuk secara bersama-sama dalam memaksimalkan kinerja aplikasi 4YO B3RB4GI. Harapan dari perencanaan sinergitas ini nantinya bisa memotivasi untuk selalu memanfaatkan makanan sisa melalui aplikasi 4YO B3RB4GI, dalam hal ini pemerintah desa dan partner perusahaan mampu membantu berjalannya program aplikasi ini dalam hal materi maupun dukungan yang lain dan juga membantu mensosialisasikan program tersebut kepada masyarakat mengingat masyarakat juga sebagai partisipasi program atau sasaran.

3. Memperkenalkan Aplikasi 4YO B3RB4GI Kepada Masyarakat Luas

Aplikasi 4YO B3RB4GI merupakan aplikasi android yang berbasis food gathering sehingga masyarakat harus tahu dengan adanya aplikasi ini. Langkah awal yaitu dengan memanfaatkan media sosial pribadi atau team dan melakukan sosialisasi di forum ilmiah maupun forum masyarakat di beberapa daerah yang ada semarang.

4. Uji Coba Aplikasi 4YO B3RB4GI

Untuk memaksimalkan kinerja aplikasi 4YO B3RB4GI maka langkah awal implementasi program lapangan akan diadakan uji coba di wilayah jawa tengah 2-5 bulan dan akan merangkul mitra kerjasama dalam hal ini: restaurant, pemerintah, BEM mahasiswa yang tersebar di seluruh wilayah jawa tengah.. Harapanya dengan adanya uji coba aplikasi di tingkat regional jawa tengah menjadi acuan untuk selalu mengevaluasi sekirannya tantangan apa saja yang akan dihadapi ketika kita berada di lapangan.

5. Merekrut pemuda di Seluruh Indonesia

Setelah uji coba sudah dilakukan maka perekrutan anggota akan dilakukan melalui akun sosial media. Adapun sistematika strategi yang akan di terapkan di tingkat nasional ini akan sama dengan strategi yang di gunakan pada uji coba yang dilakukan di wilayah jawa tengah, hanya saja di tingkat nasional memerlukan anggota yang lebih banyak lagi untuk memudahkan dalam kinerja aplikasi 4YO B3RB4GI. Persyaratan untuk menjadi anggota program aplikasi 4YO B3RB4GI pada umumnya sama dan memiliki komitmen yang tinggi.

Landasan gagasan program

TIPEKS + G merupakan sebuah rumusan yang dijadikan landasan dalam pembuatan gagasan program aplikasi 4YO B3RB4GI untuk mendukung peran generasi millenial dalam gerakan food gathering guna mewujudkan indonesia peduli lingkungan dan makanan di era revolusi industyri 4.0 sehingga harapanya dapat memudahkan dalam berjalannya program, TIPEKS + G kepanjangan dari Teknologi Ilmu Pengetahuan Kerjasama + Government (pemerintah) ,dari beberapa unsur tersebut akan menghasilkan sebuah kolaborasi antara teknologi, ilmu pengetahuan (inovasi generasi millenial) , kerjasama dan pemerintah sehingga akan menghasilkan luaran yang tepat dan terarah.

Kesimpulan

Seiring dengan perkembangan zaman, sebagai generasi millenial dituntut untuk selau menyalurkan ide-ide kreatifnya untuk selalu berinovasi dan berkarya dalam hal apapun di era revolusi industri 4.0. Salah satu permasalahan yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang adalah sisa makanan atau makanan sisa (food scraps) seolah-olah menjadi hal yang lumrah dimana-mana. Bukan hanya karena makanan tersebut sudah basi atau tidak layak untuk dimakan, melainkan justru sebagian besar orang di sekeliling kehidupan kita membuang makanan yang masih layak dimakan hanya karena kenyang atau tidak suka. Makanan sisa yang dimaksud adalah bukan makanan bekas di piring-piring melainkan makanan yang berasal dari restaurant, atau prasmanan acara kemasyarakatan seperti: pernikahan, khitanan, acara kampus dan acara lainya yang masih sisa. Padahal masih banyak orang diluar sana membutuhkan makanan untuk menyambung hidup mereka. Oleh karena itu penulis mempunyai gagasan untuk menciptakan aplikasi 4YO B3RB4GI berbasis android untuk meningkatkan peran generasi millenial dalam gerakan food gathering (mengumpulkan makanan) guna mewujudkan indonesia peduli lingkungan dan makanan di era revolusi industri 4.0. Adanya gagasan program aplikasi 4YO B3RB4GI bukan hanya untuk memanfaatkan makanan sisa saja melainkan guna menyelamatkan lingkungan dari proses pengomposan makanan itu sendiri. harapanya dengan adanya program ini bangsa indonesia menjadi lebih baik lagi dan masyarakatnya sejahtera. Program ini berlandaskan pada TIPEKS + G.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal

Fauzan, Rahman. (2018). “Karakteristik Model dan Analisa Peluang-Tantangan Industri 4.0”, Jurnal Teknik Informatika Politeknik Hasnur, 4(1): 1-11.

Prasetyo, Hoedi, dkk. (2018). “Industri 4.0: Telaah Klasifikasi Aspek dan Arah Perkembangan Riset”, Jurnal Teknik Industri, 13(1): 17-26.

Online

Republika.co.id. (2018). Limbah Sisa Makanan Diperkirakan Meningkat Drastis. https://www.republika.co.id/. Diakses pada tanggal 03 april 2019, Pukul 22.00 wib.

Rumahmillenial.com. (2017). Siapa Itu Generasi Millenial. http://rumahmillennials.com. Diakses pada tanggal 09 mei 2019, Pukul 16.56 Wib.

Rania, Darin. (2018). Miris Indonesia Penyampah Makanan Terbanyak No-2 Di Dunia Padahal Masih Banyak Yang Kelaparan. https://www.hipwee.com. Diakses pada tanggal 10 Mei 2019, Pukul 21.00 Wib.

Mongabay, com. (2018). Sisa Makanan Memicu Perubahan Iklim. https://www.mongabay.co.id. Diakses pada tanggal 13 Mei 2019, Pukul 23.00 Wib.

Naelufar, Diyah. (2017). Kelaparan di Indonesia Masih Level Serius. https://www.liputan6.com. Diakses pada tanggal 12 Mei 2019, Pukul 13.09 Wib.

*Finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2019 “Generasi Millenial & Revolusi Industri 4.0

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.