Tantangan dan Kesempatan Sektor Ekonomi dan Lingkungan Pengolahan Sampah Eceng Gondok Sungai Ciwulan di Era Revolusi Industri 4.0

Rendi Saeful Fatah

msaepuluyun.92@gmail.com

MAN 1 Tasikmalaya

PENDAHULUAN

Di era generasi milenial ini, dunia memasuki era Revolusi Industri 4.0. Pada tahun 2016, data BPS menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 62.061.400 pemuda (Indrawan, 2017). Artinya, 1 dari 4 penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Jika sumber daya pemuda dapat dikelola secara maksimal, tentu akan menjadi aset penggerak ekonomi Indonesia.  Peran generasi milenial, kemudian yang diperkirakan lahir antara awal tahun 1982 sampai dengan akhir tahun 2000-an mampu menjadi sumber daya pemasaran berbasis internet (Howe & Strauss, 2000). Ciri-ciri generasi ini mempunyai kelebihan mempelajari suatu perkara dengan cepat terutama dalam berkomunikasi, penggunaan media sosial, dan teknologi digital yang mendukung penuh terwujudnya era Revolusi Industri 4.0. Hal ini berpotensi mempengaruhi lanskap ketenagakerjaan Indonesia yang sedang dan akan diisi oleh generasi milenial.

Berubahnya lanskap ketenagakerjaan akibat perkembangan teknologi telah menjadi bahan penelitian World Economic Forum (WEF) di tahun 2016. Organisasi ini menyatakan bahwa otomatisasi dapat mengurangi lima juta tenaga kerja sebelum tahun 2020 (Schwab, 2016). Revolusi ini merupakan era digital ketika semua mesin terhubung melalui sistem internet atau cyber system, sehingga tenaga manusia nantinya akan berkurang atau bahkan dianggap tidak lagi dibutuhkan. Untuk itu, tantangan tersebut harus di respon cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan IKM agar mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah derasnya persaingan global. Namun, ada masalah yang cukup serius dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini, yaitu limbah pencemar hasil dari kegiatan industri.

Pembuangan limbah pencemar secara sembarangan oleh industri tertentu seperti pabrik tekstil, pupuk, dan furniture lemari sangatlah membahayakan ekosistem yang ada di sungai. Limbah pencemar ini akan menyebabkan perubahan warna air, kontaminasi logam berat, dan menyebabkan tanaman air pencemar tumbuh dengan pesat. Salah satunya adalah eceng gondok yang dapat mengakibatkan biota sungai mati karena kehabisan oksigen hingga mengakibatkan terjadinya pendangkalan sungai, tak terkecuali Sungai Ciwulan di Kabupaten Tasikmalaya.

Indonesia merupakan negara yang amat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu sumber daya alam tersebut adalah ekosistem perairan darat yang memiliki akses jangkauan sangat dekat dengan masyarakat sekitar. Air sungai yang mengalir ini umumnya dianggap bersih karena mengalami sirkulasi yang berkala setiap waktunya. Dengan demikian, sering kali masyarakat menggunakan air sungai untuk keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK). Namun, seiring perkembangan industri yang pesat, banyak sekali pabrik yang tidak bertanggungjawab membuang limbah belum selesai olah ke sungai.

.Gambar 1. Ilustrasi Sungai Ciwulan Dipenuhi Sampah Menumpuk dan Tumbuh Suburnya Tanaman Pencemar Eceng Gondok

Penulis memiliki inisiatif untuk membuat suatu program perawatan Sungai Ciwulan yang tercemar. Perawatan air sungai tercemar ini diharapkan akan menghasilkan output berupa air kategori kelas II yang artinya minimal dapat digunakan untuk keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK). Ide program ini kemudian akan dikombinasikan dengan pemberdayaan masyarakat sekitar dalam projek pengelolaan eceng gondok. Pengelolaan ini diarahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan kreativitas, mendongkrak perekonomian, dan sebagai ladang promosi kebudayaan masyarakat sekitar.

Program diawali dengan penyadaran kepada masyarakat sekitar Sungai Ciwulan untuk secara bergotong-royong membersihkan sampah dari sungai. Setelah sungai bersih dari sampah, dilakukan program perawatan dengan media berupa tanaman air pencemar itu sendiri, yaitu eceng gondok. Kelebihan eceng gondok yang sebelumnya telah tumbuh subur akan dikeluarkan dari sungai dan dikeringkan dengan penjemuran di bawah terik matahari. Eceng gondok kering akan diolah menjadi bahan kerajinan tangan dan alat kebutuhan rumah tangga yang dapat digunakan sehari-hari yang dapat dipesan melalui media sosial maupun datang langsung ke tempat pembuatan kerajinan. Selain itu, eceng gondok akan dijadikan bahan makanan seperti tumis genjer yang selanjutnya dijual untuk menambah penghasilan masyarakat sekitar.

Eceng gondok (Eichhormia crassipes) merupakan salah satu jenis tanaman air yang memiliki kemampuan untuk menyerap dan mengakumulasi logam berat tempatnya tumbuh. Tumbuhan ini berpotensi dalam menyerap logam berat karena merupakan tanaman dengan toleransi tinggi yang dapat tumbuh dalam limbah, pertumbuhannya cepat serta menyerap dan mengakumulasi logam dengan baik dalam waktu singkat. Hal ini membuktikan bahwa eceng gondok merupakan tanaman yang bermanfaat untuk mereduksi limbah (Zimmels, 2000).

Program selanjutnya adalah Perawatan Air Tercemar atau disingkat sebagai PAT. PAT dilakukan menilik dari manfaat yang dimiliki oleh tanaman pencemar eceng gondok, yaitu dapat menyerap logam berat dan pestisida berbahaya. Sungai akan diberikan batasan setiap panjangnya, yaitu masing-masing setengah belokan sungai yang dibatasi dengan tali tambang sehingga membentuk petak-petak sungai yang akan lebih memudahkan proses perawatan. Untuk setiap petak sungai, akan diberikan nama PAT1, PAT2, PAT3, dan seterusnya dengan masing-masing pengelola dan penanggungjawab warga setempat.

Melalui tahap awal, maka sisa eceng gondok di sungai tentu telah menurun. Oleh karena itu, akan dilakukan penanaman bibit eceng gondok sehat namun dengan pengontrolan ketat sehingga tidak tumbuh dengan liar. Eceng gondok akan memberikan perawatan air sungai yang sudah bebas sampah agar secara perlahan-lahan bebas dari unsur logam berat seperti Pb, Hg, Cu, dan sebagainya serta limbah pestisida. Setelah berkembang cukup pesat dan menua, eceng gondok akan dipanen untuk diolah menjadi karya cipta masyarakat sekitar.

Setiap satu bulan sekali secara rutin, akan dilakukan pemeriksaan air sungai terhadap jumlah kandungan logam, unsur organik, pestisida, pupuk, dan kontaminan lainnya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat. Air sungai terus dirawat dengan PAT dan dipantau. Proses perawatan PAT memang memerlukan waktu, tetapi tentu hal ini merupakan pilihan yang jauh lebih baik ketimbang tidak merawat sungai tercemar sama sekali dan membiarkannya berlarut-larut dari hari ke hari. Dengan melakukan perawatan PAT terhadap sungai tercemar, maka diharapkan kebutuhan akan air bersih yang terus membludak dapat dibantu kembali melalui pasokan dari sungai di beberapa bulan ke depan.

Air sungai yang bersirkulasi setiap harinya dalam masa pengolahan PAT lambat laun akan menjadi jernih secara menyeluruh. Setelah jernih seluruhnhya, ke dalam air sungai akan ditambahkan pula desinfektan untuk membunuh kuman berbahaya, zat kimia tertentu untuk menghilangkan bau tak sedap, dan diuji kandungan mikrobanya. Pengujian lebih lanjut tentu harus melalui standar uji analisis di laboratorium tersertifikasi agar lebih cepat dan cermat mewakili keadaaan di lingkungan yang sebenarnya. Berikut adalah alur dan pemetaan konsep Pengolahan Sampah Eceng Gondok:.

Gambar 2. Alur dan Pemetaan Konsep Pengolahan Sampah Eceng Gondok

PENUTUP

Penulis optimis bahwa program pengolahan sampah eceng gondok dan PAT dapat memberikan manfaat yang besar dalam segi kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, peningkatan perekonomian, dan nilai sosial masyarakat sekitar Sungai Ciwulan. Diharapkan juga dapat melatih kreativitas melalui pembuatan kerajinan tangan berdaya guna berbahan dasar eceng gondok yang ramah lingkungan dan memperkenalkan kepada Indonesia secara menyeluruh dan dunia di era Revolusi Industri 4.0. Oleh karena itu, penulis sebagai bagian dari generasi milenial menginisiasi program pengolahan sampah eceng gondong dan Perawatan Air Tercemar (PAT) sebagai suatu inovasi untuk Indonesia guna penyembuhan fungsi sungai tercemar agar kembali menjadi sungai yang normal di era Revolusi Industri 4.0.

REFERENSI

Ali, H., & Purwadi, L. (2016). Indonesia 2020: The Urban Middle-Class Millenials. Jakarta: Alvara Research Center.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2017). Badan Pusat Statistik. Diambil kembali dari www.bps.go.id : https://sp2010.bps.go.id/index.php/site/topik?kid=1&kategori-Jumlah-dan-Distribusi-Penduduk

Howe, N., & Strauss, W. (2000). Millenials Rising: The Next Great Generation. New York: Vintage.

Indrawan, A. F. (2017). Detiknews. Diambil kembali dari www.new.detik.com : https://news.detik.com/berita/d-3699632/pemuda-indonesia-meningkat-angka-pengangguran-bertambah

Schwab, K. (2016). World Economic Forum. Diambil kembali dari www.weforum.org : https://www.weforum.org/about/the-fourth-industrial-revolution-by-klaus-schwab

Zimmels, Y. (2000). Application of Eichhornia Crassipes and Pistia Stratiotes for Treatment of Urban Sewage in Israel. Journal of Environmental Management 81, 420-428.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.