Efek Bilingualisme/Trilingualisme Terhadap Perkembangan Otak, Kecerdasan, dan Kemampuan Pembelajaran

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Universitas Kriten Indonesia

Dengan menjadi bilingualis/trilingualis, setiap warga bangsa ini akan memiliki perkembangan otak yang optimal, kecerdasan dan kreativitas lebih tinggi, kemampuan belajar lebih mumpuni; mengalami penundaan demensia dan penurunan fungsi otak lainnya; dan makin mampu berkiprah dalam masyarakat global.

Sebagai dampak dari transmigrasi, urbanisasi, imigrasi, pernikahan antar kelompok lingusitik, dan globalisasi, anggota masyarakat dunia menguasai dan menggunakan bahasa dalam jumlah yang variatif dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan jumlah bahasa tersebut, anggota masyarakat dikategorikan ke dalam 5 kelompok dengan proporsi berikut (ilanguages.org, 2008): (1) monolingual, orang yang menggunakan hanya satu Bahasa dalam kehidupannya (40% populasi dunia); (2) bilingual, menggunakan dua bahasa dengan tingkat kefasihan yang relatif sama (43% populasi dunia); trilingual, menggunakan tiga bahasa dengan fasih (13%); multilingual, orang yang biasa menggunakan hingga empat bahasa (3%); dan poliglot, menguasai lima atau lebih Bahasa dengan fasih (1%). Komposisi tersebut berubah dengan cepat karena arus glabalisasi yang semakin deras menuntut setiap individu untuk berinteraksi dengan orang lain dari semakin banyak bangsa. Akibatnya, jumlah orang yang berupaya menjadi bilingualis atau trilingualis semakin meningkat. Namun, di sisi lain, karena bahasa yang berbeda memiliki memiliki sistem dan kaidah yang berbeda, berbagai kalangan khawatir terhadap dampak negatif pembelajaran dan penggunaan lebih dari satu bahasa berdampak negatif terhadap perkembangan otak, khususnya bagi kanak-kanak. Dalam konteks Indonesia, berbagai pihak bertanya, “Apakah pembelajaran bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin di kalangan murid taman kanak-kanak atau sekolah dasar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan kognisi, psikologis, dan fisik mereka, karena pada saat yang sama mereka juga sedang mempelajari bahasa ibu dan Bahasa Indonesia? Singkatnya, apakah mempelajari dua, bahkan tiga, bahasa berbeda sekaligus tidak berdampak negatif pada perkembangan otak, kecerdsan, dan kemampuan pembelajaran?

Tulisan ini memaparkan hasil-hasil penelitian tentang efek pembelajaran dan penggunaan lebih dari satu bahasa secara bersamaan dalam kehidupan sehari-hari terhadap otak, kecerdasan dan kemampuan pembelajaran. Artikel ini diharapkan dapat memberi gambaran yang jelas bagi pembaca sebelum memutuskan untuk mempelajari bahasa lain, disamping bahasa yang sudah dikuasai.

Pembelajaran dan penggunaan lebih dari satu bahasa di sekolah baru mulai diteliti pada abad ke-20. Hasil-hasil penelitian selama setengah abad pertama  cenderung mengungkapkan bahwa mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing, khususnya bagi kanak-kanak, berdampak negatif terhadap otak. Rangkuman hasil penelitian yang dilakukan McLaughlin (1978) dan Saunders (1988), misalnya, menyatakan bahwa bilingualisme menyebabkan percampuran dan kebingungan bahasa yang kemudian berdampak pada penurunan kecerdasan dan kemampuan berpikir. Selain itu, 60% dari 32 penelitian di Amerika Serikat melaporkan bukti bahwa bilingualisme mengakibatkan cacat kecerdasan; 30% mengakibatkan penurunan kecerdasan minor; dan hanya 10% yang menunjukkan bilingualisme tidak berdampak buruk terhadap kecerdasan. Penelitian Sear (dalam Romaine, 1989) yang melibatkan 1.400 anak bilingual (Wales dan Inggris) berusia 7-14 tahun di lima daerah pedesaan dan dua kota di Wales, mengungkapkan bahwa bilingualisme mengakibatkan penurunan kecerdasan. Capaian pembelajaran anak-anak bilingual di daerah pedesaan lebih rendah daripada anak-anak monolingual. Dalam konteks pembelajaran, berbagai peneliti juga menemukan bahwa bilingualisme menghambat kemajuan pembelajaran. Ulasan Jersen (dalam McLaughlin, 1978) menunjukkan bilingualisme berdampak negatif terhadap pembelajaran anak-anak. Penelitian Smith (dalam Romaine, 1989) yang melibatkan anak-anak keturunan Cina di Hawaii yang mempelajari bahasa Inggris dan Mandarin memperlihatkan bahwa skor mereka pada pengembangan kosa kata lebih rendah dari capaian anak-anak monolingual. Studi Carrow (dalam Appel & Muysken, 1987) yang menguji capaian siswa bilingual (Spanyol dan Inggris) di bidang membaca, akurasi membaca bersuara, mengeja, kosa kata, dan logika aritmatika menunjukkan bahwa capaian siswa monolingual lebih tinggi daripada siswa bilingual.

Akan tetapi, penelitian-penelitian setelah tahun 1960-an menunjukkan hasil sebaliknya. Rangkuman berbagai studi (Appel & Muysken, 1987; Saunders, 1988; Romaine, 1989) justru menunjukkan bilingualisme berdampak positif pada kecerdasan siswa (seperti berpikir divergen, kreatif dan imajinatif), menghasilkan keunggulan kognitif tertentu dibandingkan dengan siswa monolingual, dan berdampak positif terhadap kemahiran menggunakan bahasa ibu maupun bahasa kedua, mata pelajaran lain, maupun aspek sosial serta emosional. Studi Foster dan Reeves (1989) memperlihatkan bahwa siswa yang belajar secara bilingual memperoleh hasil tes yang lebih tinggi dalam evaluasi semua tingkatan kemahiran berpikir  dalam taksonomi Bloom. Hasil studi Stewart (2005) mengklarifikasi bahwa pembelajaran bahasa asing di sekolah dasar meningkatkan kemampuan kognitif siswa, berdampak positif terhadap capaian di mata pelajaran lain, dan  memberikan hasil yang lebih tinggi dalam tes membaca dan matematika.

Mengapa hasil penelitian sebelum dan sesudah tahun 1960-an berbeda? Penyebabnya adalah teknik, pendekatan, dan instrumen penelitian yang digunakan sejak pertengahan abad ke-20 jauh lebih maju, sedangkan pendekatan yang digunakan sudah interdisipliner. Penelitian di bidang neuroscience dan electrophysiology dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI), misalnya memungkinkan peneliti mengamati apa yang berlangsung dalam otak seseorang ketika dia mendengar, mengenali, dan melafalkan bunyi-bunyi bahasa baru dan mencoba menuliskan ide dalam bahasa asing yang sedang dipelajari. Penggunaan electroencephalographs juga memungkinkan peneliti mengamati perbedaan pola gerakan mata seorang bilingual yang sedang membaca teks bahasa ibu dan bahasa kedua.

Eksperimen yang melibatkan para kadet penerjemah di angkatan bersenjata Swedia mengungkapkan bahwa meskipun struktur otak para partisipan tidak berubah, ukuran hippocampus partisipan yang bilingual meningkat sedangkan peserta monolingual tidak (Martensson et al. (2012). Pertumbuhan hippocampus, bagian otak yang berperan dalam pengembangan pengetahuan, orientasi terhadap ruang, dan konsolidasi memori jangka pendek ke memori jangka panjang merupakan adalah suatu hal yang sangat menguntungkan. Berbagai hasil penelitian neurobiologi menunjukkan bahwa bilingualisme, khususnya yang berlangsung sejak masa kanak-kanak, tidak hanya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan mengabaikan informasi yang tidak relevan, tetapi juga mencegah demensia, alzeimer dan penurunan fungsi otak lainnya hingga 4-5 tahun (Craik et al., 2010). Penelitian Bak et.al. (2014) menunjukkan bilingualisme tidak meberi dampak negatif apapun. Namun tingkat efek positif bilingualisme dipengaruhi oleh faktor IQ, keaktifan individu, dan jumlah Bahasa asing yang dipelajari. Semakin tinggi IQ yang dimiliki dan semakin aktif individu mempelajari Bahasa asing, semakin tinggi efek positif bilingualisme yang diperoleh. Efek yang diperoleh oleh trilingualis juga lebih tinggi daripada bilingualis.  Faktor lainnya yang mempengaruhi adalah usia. Bilingualisme yang dilaksanakan lebih awal memberikan tingkat efek lebih tinggi (Tao et al., 2011).

Meskipun efek positif bilingualisme terhadap perkembangan otak, kecerdasan dan kemampuan pembelajaran dipengaruhi usia, semua tipe bilingualisme tetap memberi efek positif. Individu yang menguasai bahasa kedua dan/atau ketiga di sekolah ketika masih kanak-kanak, atau di perguruan tinggi, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal baru, atau lingkungan pernikahan dengan ras/bangsa berbeda setelah individu dewasa tetap memperoleh efek positif bilingualisme. Bahkan, meskipun penguasaan atas bahasa kedua/asing yang dipelajari tidak sesempurna penutur asli bahasa itu, si bilingualis tetap memperoleh efek positif terhadap perkembangan otak, kecerdasan dan kemampuan pembelajarannya (Bak et.al., 2014).

Kebanyakan warga-negara Indonesia, pada dasarnya merupakan bilingualis karena menggunakan bahasa ibu di keluarga masing-masing dan Bahasa Indonesia ketika berinteraksi dengan sukubangsa lain atau ketika berada di tempat kerja maupun dalam situasi resmi. Masing-masing individu tentu dapat merasakan dampak positif dari praktik penggunaan bahasa ibu maupun Bahasa Indonesia sebagaimana diungkapkan oleh berbagai penelitian di atas.

Karena efek positif bilingualism/trilingualisme berlaku kepada siap saja dan kapan saja pembelajaran bahasa baru dilakukan, untuk memperoleh efek yang lebih tinggi, setiap warga negara Indonesia, tanpa memandang usia, sangat disarankan untuk mempelajari dan menggunakan satu atau lebih bahasa asing, selain bahasa ibu dan bahasa nasional. Untuk kanak-kanak di jenjang pendidikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar, memulai pembelajaran bahasa asing perlu dikembangkan. Siswa SMP dan SMA sangat diharapkan mempelajari  Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya yang ditawarkan sekolah dengan sungguh-sungguh. Kalangan mahasiswa perlu berkomitmen untuk benar-benar menguasai  Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya yang ditawarkan kampus dengan baik. Sedangkan anggota masyarakat lainnya dapat memulai pembelajaran bahasa asing apa saja. Namun, untuk memperoleh efek berganda (multiflying effects), disarankan untuk memilih Bahasa Inggris karena kedudukannya sebagai sarana komunikasi global utama. Anggota masyarakat yang sudah menguasai Bahasa Inggris dapat memilih salah satu bahasa internasional lainnya, seperti Bahasa Mandarin, Prancis, Jepang, Korea, dan sebagainya. Dengan menjadi bilingualis/trilingualis, setiap warga bangsa ini akan memiliki perkembangan otak yang optimal, kecerdasan dan kreativitas lebih tinggi, dan kemampuan belajar lebih mumpuni; mengalami penundaan demensia dan penurunan fungsi otak lainnya; dan semakin mampu berkiprah dalam masyarakat global.

10 Comments

  1. Indeed, every human being should need to learn more than one, two or even more languages. Because of the growing era of globalization, the world will be fulfilled from a variety of foreign languages ​​due to the large number of people who come from abroad to interact with each other in the field of business or to obtain broader information. Therefore, it is necessary for us to interact with them so that we understand each other the meaning and purpose of the purpose they want to ask. It is important for us to be able to understand foreign languages, so that we can get information from each other. Therefore, from elementary, junior high, high school, to college, we are required to learn foreign languages ​​such as Arabic, Japanese, Mandarin or so on, especially English.

    Liked by 1 person

  2. In my opinion, other effects of bilingualistic or trilingualistic is can change one’s perspective. People who are monolingualistic usually have a perspective that tends to be rigid, because they are not accustomed to facing something diverse. Knowing that different languages ​​have different systems and codes makes billingualistic or trillingualistic can accustomed to seeing things in a variety of different perspectives, bilingualistic or trilingualistic usually having a more flexible perspective than monolingualistic.

    Liked by 1 person

  3. I’ve read on social media instagram that when you can master more than one language (bilingualistic or trilingualistic), our brain intelligence will increase. Why? According to me, it’s because it can dominate the knowledge of different countries, so that the knowledge we have will increase . In addition, communicating with many people virtually the world over is easy. As the writer described, learning is more capable, suffer from dementia and other degeneration of brain function, and increasingly capable of global activity. So it’s not wrong for all of us to learn to speak more than one language.

    Liked by 1 person

  4. According to me, In the global world, a bilingual child will have a broad view of the world. The ease of interaction with various cultures, and of course also success in social life in two different cultures.

    Liked by 1 person

  5. Actually when we have desire to learn two or three language there is not problem.why? Because we have desire to learn foreign language more than one and we able to speak foreign language. Maybe it can bring negative efect to other people if they not have desire to learn foreign language and also when we were kids we not diligent to learn foreign language , also our parents doesn’t really know speak the foreign language so they not teach us and make us very hard to learn foreign language when we are grow up.

    Liked by 1 person

  6. It’s interesting article!
    We can see the writer compare Bilingualisme/Trilingualisme effect on our brain before and after the 1960s. We get a evidence from the research between before and after the 1960s.
    But so far I agree with the statement/research saying that Bilingualisme/Trilingualisme effect on our brain is positive (on the 1960s). Because by learning one or more language we can get “multiflying effects” like other article that I read before, we can more creative.

    Liked by 1 person

    1. I agree with your opinion because in our era we can also get our insights not only from our country but we can get very broad insights.

      Like

  7. I agree with your opinion because in our era we can also get our insights not only from our country but we can get very broad insights.

    Liked by 1 person

  8. this article is interesting. from the article we can see differences in the mindset of research before and after the 1960s. and I agree with research after the 1960s which proved that the effects of bilingualism and trilingualism were positive effects. Why? so that every human being can interact with each other. for example indonesian people go to english, french, or other countries then indonesian people must know english, french, or other.

    Liked by 1 person

  9. In my opinion, actually it’s okay if someone masters several foreign languages, the sign that he wants to learn. If we know some foreign languages ​​we can communicate with others using that language, a bilingual child will have a broad view of the world,

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.