Keterampilan Paling Penting bagi Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0

Aplikasi teknologi pintar di Era Industri 4.0 akan “merebut” banyak pekerjaan lama dan sekaligus menciptakan pekerjaan baru bagi manusia. Agar dapat menekuni pekerjaan yang tidak akan “direbut” oleh robot maupun pekerjaan masa depan yang belum eksis saat ini, individu wajib menguasai 10 keterampilan yang diperlukan.

[Jakarta EED UKI] Berikut ini merupakan ringkasan paparan berjudul ” Keterampilan Penting bagi generasi milenial dalam mengarungi revolusi industri 4.0 ” oleh Bapak Parlindungan Pardede dalam Seminar Nasional  yang diselenggarakan oleh Program Studi FKIP UKI, Jumat, 14 Juni 2019 di Ruang Video Conference UKI, Kampus UKI Cawang Jakarta Timur. Slide paparan ini dapat diunduh dari sini. Sedangkan bagian latar belakang paparan ini dapat dibaca di sini.

Revolusi Industri (RI) yang pada hakikatnya merupakan perubahan besar-besaran di bidang industri (pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi) yang didorong oleh pengembangan alat kerja untuk meningkatkan hasil produksi/laba dan berdampak besar terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya dunia. Setiap revolusi industri pasti membawa manfaat dan sekaligus tantangan. Manfaatnya adalah, kehidupan manusia semakin mudah dan nyaman, sedangkan tantangannya, akan terjadi sebuah transisi bagi umat manusia untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru, karena sebagian pekerjaan yang selama ini ada telah “dirampas” oleh teknologi. Selama RI-2, misalnya, 60% pekerjaan di sektor pertanian di Amerika Serikat dilakukan oleh mesin. Di awal RI-4 saat ini,  hanya tinggal 2% pekerjaan itu yang dilakukan manusia. Selama transisi pengalihan pekerjaan itu, sebagian pekerja yang terdampak pasti mengalami kesulitan. Namun,  pada akhirnya banyak dari mereka yang menemukan pekerjaan yang lebih sesuai dengan keterampilan yang dimiliki.

Dalam konteks RI-4, sangat terasa bahwa kehidupan manusia semakin mudah dan nyaman. Hampir semua aktivitas sehari-hari berlangsung lebih cepat dan “gampang” karena bantuan mesin-mesin pintar. Berbagai pekerjaan, mulai dari yang mudah hingga yang berat dan berbahaya, yang dulu masih melibatlkan manusia, sekarang dikerjakan oleh mesin otomatis (robot).  Namun, di sisi lain, kemudahan dan kenyamanan itu harus dibayar dengan tantangan baru, yakni kesulitan banyak orang memperoleh pekerjaan karena sebagian besar pekerjaan telah “dirampas” oleh robot. McKinsey & Company (2017) memperkirakan pekerjaan 800 juta orang akan diambil alih oleh robot hingga tahun 2030.

Perlu dicatat bahwa pekerjaan yang rentan untuk digantikan oleh robot hanyalah pekerjaan yang sifatnya berulang-ulang (rutin), manual dan dapat diprediksi, seperti kolektor biaya tol, kasir toko, penjual tiket kereta api dan pesawat udara, buruh pabrik, pekerja konstruksi, dan lain-lain yang masuk dalam kategori ini.  Sedangkan pekerjaan yang melibatkan kreativitas orisinil, profesi yang melibatkan hubungan kompleks antar manusia, atau pekerjaan yang sangat tidak terduga akan terhindar dari ancaman robot (Ford, 2016). Selain itu, aplikasi teknologi pintar akan menciptakan pekerjaan baru, khususnya yang terkait dengan perancangan dan inovasi di bidang teknologi otomatisasi dan dunia online. Namun, agar dapat menekuni pekerjaan yang tidak akan “direbut” oleh robot maupun pekerjaan masa depan yang belum eksis saat ini, menurut World Economic Forum (2016), individu harus menguasai 10 keterampilan yang terdapat dalam daftar berikut.

Complex Problem-solving mengacu pada kapasitas untuk memecahkan masalah baru (belum pernah ditemukan) dan belum dimaknai dengan jelas dalam dunia nyata yang kompleks dengan cepat, seperti masalah yang timbul karena arus perubahan yang tiba-tiba. Keterampilan ini tidak dibawa sejak lahir, tapi karena diasah berkelanjutan melalui pengembangan pemikiran kritis dan kreatif. Beberapa penelitian (seperti Slota 2013; Akcanglu dan Koehler, 2014; Shute dan Emihovich, 2018), keterampilan ini dapat ditingkatkan dengan memainkan berbagai video game!

Berpikir Kritis mengacu pada kemampuan menggunakan logika dan penalaran untuk: (1) mengidentifikasi isu sentral dan asumsi dalam argumen; (2) mengenali hubungan penting; (3) menarik kesimpulan yang benar berdasarkan data; dan (4) mengevaluasi bukti-bukti atau otoritas yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membaca fiksi, menulis (esai, fiksi, karya ilmiah) dan  bermain peran efektif mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Kreativitas merupakan produk, proses atau interaksi yang menghasilkan ide, pemikiran dan objek yang baru, yang dilandaskan pada berpikir kreatif. Sedangkan berpikir kreatif merupakan keterampilan untuk menghasilkan idea baru yang orisinal, jelas (intelligible) dan bermanfaat melalui: (1) asosiasi dan kombinasi beberapa ide lama menjadi ide baru; (2) reduksi unsur ide lama menjadi ide baru yang lebih efektif; (3) eksplorasi terhadap semua kemungkinan yang melekat dalam konsep-konsep saat ini dengan menggunakan aturan yang ada; dan (4) mengubah secara signifikan satu atau lebih aturan konsep-konsep yang ada. Hasil penelitian merekomendasikan aktivitas apresiasi seni dan membuat karya seni untuk mengembangkan kreativitas.

People Management mengacu pada kemampuan memotivasi anggota tim untuk memaksimalkan produktivitas mereka dan menanggapi kebutuhan mereka. Dengan kompetensi ini, seseorang mampu mendelegasikan tugas dan memberdayakan orang lain.

Berkoordinasi dengan orang lain melibatkan keterampilan komunikasi yang kuat, kesadaran akan kelebihan dan kelemahan orang lain, dan kemampuzn bersinergi dengan berbagai kepribadian yang berbeda. Untuk mengembangkan keterampilan ini, melakukan aktivitas bermain peran, belajar dan menyelesaikan proyek kelompok sangat disarankan.

Kecerdasan Emosional merupakan kemampuan untuk memonitor emosi Anda sendiri dan emosi orang lain, untuk membedakan berbagai emosi berbeda dengan benar, dan menggunakan informasi tersebut untuk memandu pemikiran dan perilaku Anda dan memengaruhi emosi orang lain (Goleman, 1995). Keterampilan ini sangat penting bagi manajer dan pemimpin.

Keterampilan menilai dan mengambil keputusan mencakup kemampuan: mengidentifikasi pilihan-pilihan, melakukan asesmen resiko, menganalisis informasi, dan menentukan pilihan.

Keterampilan berorientasi pelayanan merujuk pada sikap dan perilaku positif yang menunjukkan kesadaran dan kemauan untuk menanggapi dan memenuhi kebutuhan, persyaratan, dan harapan pelanggan. Keterampilan ini sangat penting karena pelanggan adalah komponen inti dari setiap bisnis dan harus selalu menjadi prioritas utama  korposasi. Pelanggan yang bahagia dapat membantu perusahaan membangun kredibilitas dan menghasilkan lebih banyak bisnis. Penelitian (2016) menunjukkan bahwa 77% pelanggan cenderung merekomendasikan perusahaan kepada teman jika mereka memperoleh pengalaman positif.

Keterampilan bernegosiasi mengacu pada kemampuan untuk mencapai kesepakatan di atas berbagai perbedaan melalui kompromi dan menghindari argumen atau perselisihan.

Cognitive Flexibilty (Fleksibilitas Mental) mengacu pada kemampuan otak untuk beralih dari memikirkan satu hal ke hal lain, khususnya ketika sebuah kondisi baru dan tak terduga yang terkait dengan pekerjaan muncul. Berbagai penelitian merekomendasikan aktivitas memainkan “brainy games”, membaca, , belajar dan menyelesaikan proyek kelompok untuk mengembangkan keterampilan fleksibilitas mental. (14 Juni 2019)

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.