Guru Bahasa Inggris, Profesi yang Sangat Prospektif di Abad 21. Ini Penyebabnya!

Parlindungan Pardede

parlpard2010@gmail.com

Universitas kristen Indinesia

Meskipun Bahasa Inggris saat ini digunakan hanya oleh sekitar 1,5 milyar atau seitar 19,4% dari sekitar 7,8 milyar  penduduk dunia sebagai bahasa ibu, bahasa kedua, atau bahasa asing, fungsinya sebagai lingua franca (bahasa global) utama tidak terbantahkan. Sejak Abad ke-17 Bahasa Inggris telah digunakan sebagai bahasa utama dunia di bidang perdagangan, diplomasi, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari 195 negara yang ada di dunia, 48% menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi (67 negara menggunakannya sebagai bahasa resmi pertama; dan 27 negara sebagai bahasa resmi kedua.

Karena Google telah menyediakan aplikasi penerjemah yang dapat digunakan tiap saat di handphone serta 2 dari 5 penduduk bumi dan hampir separuh negara di dunia ini telah menggunakannya, masih perlukah Bahasa Inggris dipelajari sehingga guru bahasa Inggris menjadi profesi yang menjanjikan? Jawabanya: MASIH SANGAT PERLU! Berikut ini penyebab dan alasannya.

Source: freepik

Pertama, mesin penerjemah yang paling canggih sekalipun tidak mampu menghasilkan terjemahan yang akurat dan efektif. Penyebabnya adalah: mesin tidak memahami budaya yang terkandung dalam bahasa, mesin tidak dapat menghubungkan kata dengan konteks; mesin tidak dapat mengalihkan gaya bahasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk berkomunikasi secara efektif dengan bangsa lain, cara terbaik adalah dengan menguasai dan menggunakan bahasa Inggris.

Kedua, bahasa Inggris merupakan bahasa utama di dunia perdagangan internasional, dan perdagangan internasional merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi.  Harvard Busines Review (2013) melaporkan bahwa negara-negara dengan tingkat penguasaan Bahasa Inggris yang tinggi menikmati kesejahteraan ekonomi yang terlihat dari tingkat pendapatan per kapita dan kualitas hidup yang lebih tinggi, seperti terungkap melalui tingkat Human Development Index, pendidikan, harapan hidup, literasi, dan standar kehidupan.

Ketiga, bahasa Inggris merupakan bahasa korporasi perusahaan-perusahaan multinasional. Beberapa contoh adalah Airbus, Daimler-Chrysler, Fast Retailing, Nokia, Renault, Samsung, SAP, Technicolor, dan Microsoft. Kebijakan ini tidak terlepas dari fakta bahwa untuk berkembang, tiap perusahaan harus go global, dan untuk go global, diperlukan Bahasa Inggris. Menurut Fisher (2015), 90% eksekutif perusahaan multinasional melaporkan bahwa jika komunikasi antar bangsa berlangsung baik laba perusahaan meningkat signifikan! Oleh karena itu, Hiroshi Mikitani, CEO Rakuten,—raksasa bisnis online Jepang—telah menetapkan Bahasa Inggris sebagai bahasa perusahaan sejak 2010. Dia tahu bahwa kebijakan ini akan berdampak pada 7.100 pegawai berkewarganegaraan Jepang. Pegawai yang tidak menguasai bahasa Inggris akan tersisih, sedangkan yang fasih berbahasa Inggris berkesempatan untuk memiliki karir yang bagus. Namun, demi kemajuan Rakuten, Mikitani tetap menjalankan kebijakan itu. Dan apa yang terjadi di Rakuten menjadi tren di perusahaan-perusahaan multinasional di dunia.

Karena kefasihan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan untuk pembangunan perekonomian bangsa maupun untuk pengembangan diri individu, pemerintah di banyak negara, seperti Pakistan, Brazil, Mexico, China, India dan negara-negara di Afrika dan Eropa Timur berinvestasi besar untuk menggiatkan pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian EF EPI (2018) menunjukkan bahwa dari 88 negara yang disuvei, hanya 12 negara (14%) yang memiliki kefasihan berbahasa Inggris sangat tinggi; 15 negara (17%) dengan kefasihan berbahasa Inggris tinggi; 17 (19%) dengan kefasihan sedang; 21 (24%) rendah; dan 23 (26%) sangat rendah.

Karena negara-negara yang kefasihan bahasa Inggrisnya masih di level sedang, rendah dan sangat rendah masih sangat banyak, guru Bahasa Inggris memiliki calon murid yang berlimpah! Bentley (2018) memprediksi 1,5 milyar orang mempelajari Bahasa Inggris di seluruh dunia.

Keempat, Bahasa Inggris merupakan bahasa pengembangan ilmu dan teknologi. Hasil-hasil penelitian di seluruh negara cenderung dipublikasikan dalam Bahasa Inggris.  Penelitian Hamel (2007) menunjukkan 75% artikel ilmiah ilmu sosial dan humaniora serta lebih dari 90% artikel ilmiah bidang sains di seluruh dunia diterbitkan dalam bahasa Inggris. Kondisi ini membuat negara-negara yang warganya menguasai Bahasa Inggris merupakan negara penghasil inovasi utama,. Sebagai contoh, laporan Global Innovation Index (GII) tahun 2018, menyatakan bahwa 10 negara paling inovatif di sektor energi di dunia adalah Swiss, Belanda, Swedia, Inggris, Singapura, AS, Finlandia, Denmark, Jerman, dan irlandia. Bukan kebetulan, bahwa semua negara ini memiliki kefasihan berbahasa Inggris sangat tinggi. Fisher (2015) menegaskan Inggris merupakan bahasa inovasi. Hal ini turut mendorong banyak bangsa berinvestasi untuk memampukan warganya menguasai Bahasa Inggris sehingga dapat mengakses informasi terbaru di bidang iptek untuk membuat inovasi.

Kelima, selain menjadi bahasa utama di dunia nyata, Bahasa Inggris juga merupakan bahasa utama di dunia maya (internet). Pada tahun 2018 diperkirakan hampir 4 milyar orang menggunakan internet. Karena pengaruh globalisasi, diperkirakan jumlah pengguna internet pada tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi 6,8 milyar. W3Tech (2019) mengungkapkan konten internet masih didominasi oleh Bahasa Inggris (53% di tahun 2018) dan meningkat menjadi 54% di tahun 2019. Data ini memperkuat tren peningkatan jumlah orang yang akan mempelajari bahasa Inggris agar dapat mengakses informasi maupun bertransaksi dalam Bahasa Inggris.

Keenam, kebutuhan guru Bahasa Inggris di seluruh dunia sebenarnya sudah sangat tinggi hari ini. Organisasi yang menyalurkan guru Bahasa Inggris ke manca negara berkembang pesat. TEFL Academy, sebagai contoh, telah mensertifikasi lebih dari 5.000 guru yang bekerja di banyak negara. Selain penghasilan yang relatif tinggi, karena bekerja di manca negara, para guru Bahasa Inggris ini juga berkesempatan memperluas wawasan globalnya.

Ketujuh, selain untuk mengajar secara tatap muka, kebutuhan guru Bahasa Inggris untuk mengajar secara online juga tinggi. Dengan sistem ini, seorang guru Bahasa Inggris bisa mengajar siswa di beberapa negara lain pada saat yang sama. Sebagai contoh, VIPKID salah satu lembaga pengelola pembelajaran Bahasa Inggris online di China sudah mempekerjakan lebih dari 30,000 guru yang berdomisili di berbagai negara untuk melayani lebih dari 200.000 siswa secara online. Lembaga pengelola pembelajaran Bahasa Inggris terus bertambah di banyak negara, seperti iTutorGroupOnline, SayABCOnline, gogokidOnline, dll.. Kondisi ini semakin membuat profesi pengajaran Bahasa Inggris booming!  

Memasuki Globalisasi 4.0, guru Bahasa Inggris sangat terbuka menjadi profesi berwawasan global yang sangat prospektif karena sangat dibutuhkan seluruh penduduk dunia. Namun prospek itu tentu saja harus diraih dengan kompetensi pendidikan Bahasa Inggris yang baik dan orientasi global (keberanian  menerobos batas-batas negara lain). Bagi Anda yang sudah lulus dari SLTA, Anda memiliki kesempatan besar menjadi salah satu guru Bahasa Inggris global. Persiapkan diri Anda bersama Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang mampu menolong Anda meraih posisi itu.

Source: Shutterstock

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.