Strategi Untuk Mengatasi Krisis Membaca di Kalangan Pelajar di Indonesia

Parlindungan Pardede

parlpard2020@gmail.com

Untuk meraih hasil yang lebih baik dari yang sudah Anda peroleh, Anda harus menggunakan pendekatan berbeda. Mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan hal yang sama terus menerus adalah tindakan gila. (Albert Einstein).

Poin utama:

  1. Perbaiki praktik pembelajaran membaca dasar
  2. Transformasi budaya lisan menjadi budaya literasi
  3. Perbaiki sistem pendidikan
  4. Tingkatkan sarana dan prasarana membaca
  5. Bimbing siswa untuk menggunakan teknologi secara bijaksana
  6. Tingkatkan dukungan keluarga.

Artikel sebelumnya, Krisis Membaca: Biang Kerok Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia, telah memaparkan bahwa pendidikan nasional Indonesia yang telah berlangsung hampir 75 tahun sukses secara kuantitas namun masih terpuruk di sisi kualitas. Penyebab utama rendahnya kualitas tersebut adalah krisis membaca. Pengabaian membaca sebagai fondasi dan faktor sukses pembelajaran berdampak langsung pada kualitas aspek pembelajaran lainnya. Jika minat dan kemahiran membaca krisis, aspek pembelajaran lainnya juga krisis. Dalam artikel Mengapa Pelajar Indonesia Krisis Membaca telah diidentifikasi enam penyebab krisis membaca di kalangan pelajar Indonesia.  Berdasarkan identifikasi itu, pembahasan dalam artikel ini fokus pada beberapa strategi untuk mengatasi krisis tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

Strategi pertama untuk mengatasi krisis membaca di kalangan pelajar Indonesia adalah memperbaiki praktik pembelajaran membaca dasar (learning to read). Dalam artikel sebelumnya diidentifikasi bahwa praktik pembelajaran selama ini belum berhasil mengembangkan minat dan keterampilan siswa untuk membaca dasar dan membaca untuk kesenangan. Penelitian ACDP (2012) mengungkapkan hanya 50% siswa kelas 3 dari 184 SD di 7 provinsi di Indonesia yang dapat membaca dengan lancar dan memahami sebagian besar isi teks yang dibaca, dan hanya 29% guru yang menggunakan metode yang efektif dan siswa aktif dalam pembelajaran membaca. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan pembelajaran membaca dasar di sekolah-sekolah dasar di Indonesia sangat mendesak untuk diwujudkan.

Membaca dasar adalah landasan bagi pengembangan ketiga tipe membaca lainnya. Secara umum, waktu terefektif untuk mempelajarinya adalah ketika anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun. Itulah sebabnya periode ketika murid berada di kelas 1-3 SD harus dioptimalkan untuk penguasaan membaca dasar. Pembelajaran diawali dengan pemahaman tentang hubungan bunyi bahasa dan simbol tertulis, dekoding, dan pembangunan kosa kata dasar. Setelah itu, di kelas 2 dan 3, pembelajaran meningkat pada kelancaran membaca sambil memahami pesan (makna) dengan menggunakan teks yang tingkat kesulitannya semakin meningkat.

Aktivitas peningkatan kelancaran dan pemahaman di kelas 2 dan 3 tersebut sebaiknya difasilitasi dengan memulai program membaca untuk kesenangan (pleasure reading). Program ini dilaksanakan dengan cara menawarkan berbagai jenis buku cerita dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Murid dibebaskan untuk memilih buku yang mereka sukai. Di periode ini, menugaskan murid membaca buku teks yang sulit sebaiknya dicegah, karena hal itu bisa menimbulkan kesan bahwa membaca itu adalah pengalaman yang membebani. Akibatnya, murid kehilangan kesenangan ketika membaca. Jika di kelas 3 murid sudah memiliki sekitar 100 kosa kata umum yang memungkinkannya membaca sebuah cerita sederhana dengan lancar dan sekaligus memahaminya, di kelas 4 dan seterusnya pengembangan strategi/teknik membaca untuk belajar (reading to learn) dapat dimulai, sambil tetap menyelenggarakan program membaca untuk kesenangan.

Mengingat betapa pentingnya penguasaan keterampilan membaca dasar di kelas rendah SD, mengapa sebagian guru membiarkan sebagian murid mereka kurang menguasai keterampilan membaca dasar? Salah satu penyebabnya adalah pandangan bahwa kemahiran itu akan terbentuk secara alami seiring dengan semakin seringnya siswa bergumul dengan teks tertulis. Pandangan ini menganggap proses pemerolehan kemahiran membaca sama dengan kemahiran berbicara. Hasil penelitian terkini membuktikan pandangan ini keliru. Menurut …

Untuk membaca artikel secara lengkap, silahkan klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.