Blended Learning: Solusi Pembelajaran Terbaik di Era Kelaziman Baru

Parlindungan Pardede

parlpard2020@gmail.com

Sejak Maret 2020 hingga saat ini, Covid 19 telah secara paksa memindahkan  pembelajaran dari ruang kelas ke ruang keluarga atau kamar tidur siswa. Agar pembelajaran tetap berlangsung selama pandemi itu, UNESCO memperkirakan sekitar 1,6 miliar (90%) siswa di 191 negara, termasuk 68.2 juta siswa dari seluruh jenjang pendidikan di Indonesia belajar dari rumah. Mayoritas siswa mengikuti online learning atau pembelajaran daring (dalam jaringan) melalui internet, dan sebagian lagi mengikuti off line learning atau pembelajaran luring (luar jaringan) melalui televisi, radio, atau buku dan lembar kerja siswa.

Di Indonesia, pembelajaran daring ternyata bukan menjadi solusi tetapi menjadi masalah baru bagi banyak siswa. Pembelajaran itu begitu menguras energi serta kuota internet, namun tujuannya tidak tercapai. Dari 213 keluhan yang diterima KPAI tentang penerapan pembelajaran ini, kebanyakan siswa mengeluhkan betapa membosankan, melelahkan, dan tidak efektifnya pembelajaran tersebut. Keluhan-keluhan itu, misalnya, mengungkapkan: (1) ada guru SMP dan SMA yang ‘getol’ memberikan tugas merangkum bab baru setiap jam pelajaran tiba; (2) ada siswa  SD yang ditugaskan menyalin 83 halaman buku teks; (3) ada guru yang menugaskan  siswa kelas 4 menuliskan bacaan salat, mulai dari bahasa Indonesia, Latin dan Arab, padahal semuanya ada di buku cetak; (4) banyak siswa yang ditugaskan menuliskan tiap soal sebelum menjawabnya, padahal soal tersebut ada di buku teks mereka; (5) banyak siswa SMA/SMK yang ditugaskan menulis esai hampir di semua bidang studi; (6) ada siswa SMP yang pada hari kedua pembelajaran daring saja sudah mengerjakan 250 soal dari guru; dan (7) ada  siswa SD yang diminta mengarang lagu tentang corona. Lalu lagu itu dinyanyikan dengan iringan musik serta divideokan.

Artikel ini membahas hakikat, kekuatan, kelemahan, dan unsur pembelajaran daring (online learning), mengapa pelaksanaannya di Indonesia selama Covid 19 bermasalah, dan memperkenalkan blended learning (BL) sebagai metode pembelajaran terbaik di era kelaziman baru (new normal) pasca Covid 19.

Pembelajaran Daring (Online Learning)

Pembelajaran daring sebenarnya sudah berlangsung lebih dari 30 tahun. Sejak dimulai oleh CALCampus di tahun 1986, implementasi pembelajaran daring berkembang secara massif di perguruan tinggi karena potensinya yang besar, seperti kemudahan mengimplementasikan pendekatan students-centered, waktu dan tempat pembelajaran yang fleksibel, kemudahan bagi siswa mengakses informasi yang tersedia di internet, kesempatan bagi siswa menggunakan gaya dan kecepatan belajar masing-masing, dan kesempatan berinteraksi dan berjejaring dengan siswa dan pihak lain dari seluruh dunia. Selain itu, NACOL (2006) memaparkan bahwa pembelajaran daring juga memfasilitasi pengembangan keterampilan yang dibutuhkan di Abad-21, seperti kesadaran global, literasi teknologi informasi serta 4Cs (communication, collaboration, critical thinking and creativity).

Menyadari banyaknya potensi yang ditawarkan dan semakin efektifnya implementasi pembelajaran daring berkat perbaikan berkelanjutan berdasarkan pengalaman dan hasil hasil penelitian, secara perlahan sekolah menengah dan sekolah dasar juga mulai menerapkannya. Banyak negara yang sudah memfasilitasi siswa SD menggunakan pembelajaran daring, minimal sebagai unsur untuk memperkaya pembelajaran tradisional. NACOL (2006) memperkirakan implementasi pembelajaran online meningkat 30% setiap tahun di sekolah dasar dan menengah di Amerika Serikat.

Pembelajaran daring memerlukan dua elemen utama: kurikulum dan teknologi. Kurikulum mengacu pada tujuan, isi, strategi, metode, jadual, prosedur, aktivitas, dan asesmen pembelajaran. Teknologi dalam pembelajaran daring mengacu pada perangkat lunak (software) yang digunakan sebagai lingkungan (kelas, perpustakaan, kantor dan laboratorium) pembelajaran yang berlokasi di dunia maya. Karena semua aktivitas pembelajaran dalam jaringan diatur melalui perangkat lunak ini, dia sering disebut sebagai sistem manajemen pembelajaran atau learning management system (LMS). Sekolah yang sudah memiliki server sendiri dan telah mengadopsi pembelajaran daring mungkin sudah memiliki LMS sendiri. Tapi sekolah yang belum memiliki LMS sendiri tetap bisa menyelenggarakan pembelajaran daring dengan memanfaatkan aplikasi atau software yang tersedia banyak di internet. Beberapa aplikasi yang populer termasuk Edmodo, Moodle, BookWidgets, Khan Academy, Schoology, Google Classroom.

Jika direncakan dan dikelola dengan baik, efektivitas pembelajaran daring tidak kalah dengan pembelajaran tradisional. Selain itu, generasi Z, para pelajar saat ini, sangat menyukai pembelajaran daring. Temuan University of the Potomac mengungkapkan 77% guru dan dosen …

Untuk membaca artikel ini secara lengkap, silahkan klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.