Berpikir untuk Menulis atau Menulis untuk Berpikir?

Universitas Kristen Indonesia


Parlindungan Pardede

parlpard2020@gmail.com

Universitas kristen Indonesia

Menulis merupakan komunikasi interpersonal (yang menuntut seseorang berpikir sebelum menulis) dan sekaligus komunikasi intrapersonal (yang membuat seseorang menulis untuk berpikir).

Konsep-konsep yang tersedia dalam literatur tentang hakikat menulis tampaknya terpolarisasi menjadi dua kutub yang berlawanan. Di satu sisi, menulis dipandang sebagai proses mengkomunikasikan pesan (pikiran, emosi, atau perasaan) melalui symbol-simbol simbol bahasa tulis (huruf, tanda baca, dan spasi). Dalam proses ini, penulis pertama-tama berpikir dan kemudian menulis (menuangkan pikirannya ke dalam tulisan). Di sisi lain, menulis dipandang sebagai proses berpikir atau proses untuk mengklarifikasi, tidak hanya mengkomunikasikan, pemikiran. Kedua pandangan yang berlawanan ini menimbulkan pertanyaan apakah kita berpikir dulu lalu menulis, atau menulis dulu dan kemudian berpikir. (Mirip dengan pertanyaan klasik: ‘Ayam dulu  dan telur?’). Artikel ini mencoba memastikan pandangan mana yang paling dekat dengan hakikat menulis dengan cara mengkaji apa yang sebenarnya terjadi dalam proses penulisan.

Pendukung pandangan yang menyatakan menulis merupakan proses…

View original post 245 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.